Petis

Pertama kali aku pulang membawa petis 2008 lalu. Ketika aku ke Airlangga mengurusi tugas akhir. Sejak itu aku jatuh cinta dengan beberapa makanan jawatimuran. Tahu tek dan makanan dengan kuah kental mirip kari yang pedas cocok dengan lidahku. Sayang makanan enak itu aku tak tahu namanya. Yah meski sebenarnya terlalu pedas, tapi enak.

Mari kembali ke petis.
Sejak itu aku mencari petis setiap ke propinsi paling timur Jawa itu. Salah satunya ketika aku berkesempatan mendampingi anak-anak kemnas di Malang. Bulan 11 tahun 2015, kami ada kemnas di Buper Coban Rondo. Pulangnya kami mampir beli oleh-oleh di toko yang beberapa kali sudah aku datangi.

image

Petis Madura yang aku beli di Malang.

Baca lebih lanjut

Iklan

membuka penasaran di Kota Ambarawa

Pagi dingin. Angka di kalender berwarna merah. Heheheh merah di kalenderku adalah hal istimewa. Selain merah, di kertas yang digantung itu juga berwarna biru, hijau, dan hitam heheheheh. Dan warna merah yang istimewa ini hanya sesekali hiks. So, di hari angka merah ini aku tuntaskan rasa penasaran yang menggumpal. Cieee. Baca lebih lanjut

Gereja Mblenduk #Semarang

GPIB Immanuel Semarang

GPIB Immanuel Semarang

Masih di sekitar Kota Lama Semarang. Berdiri sebuah gereja. Menurut saya gereja ini tidak sebesar gereja yang pernah saya lihat sebelumnya. Benar saja gereja yang ada di Jalan Letjend Suprapto No 32 ini hanya bisa menampung sekitar 100 jemaat. Ini tentu berbeda dengan Gereja Katedral Jakarta yang bisa menampung hingga 250-300 jemaat. Bagaimana dengan isi gereja? Mari kita lanjutkan! Baca lebih lanjut

Masjid Agung #Semarang

tampak depan masjid agung semarang dengan tulisan arab melayu

tampak depan masjid agung semarang dengan tulisan arab melayu

Setelah puas berkeliling Lawang Sewu, saatnya melanjutkan perjalanan ke Kota Lama Semarang. Seperti tulisan sebelumnya, saya sama sekali tidak mengerti rute atau arah tempat-tempat yang akan saya datangi. Saya pikir pula jarak antara Lawang Sewu dengan Gereja Blendug tak begitu jauh seperti Lawang Sewu dengan Museum Mandhala. Dengan PD saya jalan kaki, tapi ternyata jarak Lawang Sewu masih jauuuuuuh dengan Kota Lama. Parahnya lagi saya tidak tahu Kota Lama berlawanan arah dengan stasiun kereta api. Meski demikian tak masalah buat saya. Semarang masih tetap ramah seperti Solo. Hal ini tentunya membuat saya tidak sungkan bertanya hhehehe terima kasih warga Semarang. Eheheheh kali ini saya dapat bonus tambahan. Apakah itu? Sembahyang siang di Masjid Kauman Semarang dan tentunya melihat langsung Pasar Johar. Baca lebih lanjut