Makan bakso di Tegalega Bandung

Sepulang dari Tebing Keraton, aku naik angkuta sekali menuju Tegalega. Melewati Ciwalk yang terkenal banget buat kongkow dan pasar yang sangat ramai. Pasar itu aku tahu namanya keesokan, yakni pasar baru. Pasar baru menjadi tempat jujugan belabja grosir, eceran juga bisa. Selain itu, angkuta juga melewati Stasiun Kota Bandung.

image

Jalan sekitar Tegalega adalah jalur searah. Sepanjang jalan adalah toko. Berbagai kain, buku, alat jahit, kertas, bahkan Elizabeth juga di sepanjang jalan itu. Aku bayangkan mungkin kalau di Surakarta seperti kawasan Coyudan. Suasana sejenis juga seperti Malioboro Yogyakarta. Baca lebih lanjut

Iklan

Monumen “Mas” TRIP Jalan Salak #Malang

Bendera TRIP JATIM di Museum Brawijaya Malang.

Bendera TRIP JATIM di Museum Brawijaya Malang.

Aku Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur (TRIP JATIM) “Lebih baik mati bertempur melawan penjajah Belanda daripada hidup sebagai pelajar jajahan”

Sebenarnya tulisan ini akan diunggah pada 31 Juli 2015 kemarin. Namun karena berbagai hal, tulisan baru bisa diunggah sekarang ^_^
Masih di Jalan Ijen, setelah belajar di Museum Brawijaya aku kembali jalan kaki. Tujuannya Gereja Ijen, tapi ada yang menarik di depan gereja tua itu. Monumen “Mas” TRIP atau Tentara Republik Indonesia Pelajar. Baca lebih lanjut

Monumen Tentara Genie Pelajar (TGP) #Malang

Monumen TGPdi Malang adalah salah satu guru bagi kita bahwa jawaban dari hidup adalah berjuang atau mati.

Monumen TGPdi Malang adalah salah satu guru bagi kita bahwa jawaban dari hidup adalah berjuang atau mati.

Ini masih tentang perjalanan hari kedua menuju Jalan Ijen Malang. Lama banget ya dari Mei kemarin belum selesai juga heheheh. Maklum setiap kota menurutku terlalu sayang jika tak dituliskan. Apalagi kota sekelas malang yang penuh sejarah. Setiap jengkalnya penuh kata.

Salah satunya adalah Monument TGP. Monument ini terletak di belakang Stadion Gajayana Malang. Tepatnya di persimpangan Jalan Tangkuban perahu dan Jalan Semeru. Bila lurus kita akan menemukan Jalan Ijen, untuk ambil kiri kita bisa masuk ke stasion. Awalnya aku tidak begitu memperhatikan. Namun setelah clingak-clinguk dan menyempatkan diri masuk ke dalam pagar, terlihat daftar nama di kaki tugu/monumen. Ada empat sisi dan di setiap sisi kaki terdapat daftar nama tersebut. Batu bertuliskan nama kesatuan TGP itu dipenuhi ilalang atau rerumputan. Aku kurang paham itu disengaja atau tidak karena posisinya ada di taman tapi tersekasn sebagai batu nisan. Sayang aku tidak bisa mengambil gambar semuanya Karena dipakai untuk duduk-duduk. Monument ini berbentuk dua prajurit yang memegang senjata.

Daftar nama mereka yang gugur seakan nisan yang terkubur di antara keriuhan negara.

Daftar nama mereka yang gugur seakan nisan yang terkubur di antara keriuhan negara.

Singkat cerita monument ini dibangun untuk mengenang jasa para pelajar yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kesatuan ini dibentuk pada 1947. Mereka adalah para pelajar yang setara dengan SMA atau STM. Sangat panjang perjalanan sejarah yang harus kit abaca. Dengan jeroik mereka menyelinap ke hutan untuk mempertahankan NKRI. Untuk lebih jelasnya para pembaca bisa mencari bantuan mbah gugel ya.

Monument TGP kini bisa jadi hanya sebuah tugu. Namun tidak begitu faktanya. Ia adalah aliran darah yang dipersembahkan untuk negeri ini. Ia adalah perjuangan yang harusnya tak berhenti. Mereka tak pantas hanya untuk dikenang, tapi dilanjutkan perjuangannya. Memperjuangkan hidup untuk kehidupan bangsa yang MERDEKA.

Taman Cerdas-Bentoel Trunojoyo #Malang

Denah Taman Cerdas Bentoel Trunojoyo Malang.

Denah Taman Cerdas Bentoel Trunojoyo Malang.

Berjalan keluar stasiun-masih pagi itu- aku melewati sebuah taman. Satu pertanyaan: “Apaan sih?”. Seperti halnya Munomen Buto Ijo, aku juga tidak sempat memperhatikan titik yang ternyata taman di Jalan Trunojoyo tersebut. Baru sadar ketika malam harinya sepulang dari Inggil Resto hehehe. Lebih sadar lagi keesokannya. Baca lebih lanjut

Monument Buto Ijo #Malang

Monumen Buto Ijo di pagi hari.

Monumen Buto Ijo di pagi hari.

Pagi itu aku masih belum memperhatikan betul benda besar di tengah jalan depan Stasiun Malang. Bukan apa-apa takut kehabisan kamar hotel heheheh. Setelah malamnya dan keesokan paginya aku baru ngeh bahwa segunduk semen itu berbentuk buto ijo yang nglekar dan dikepung patung-patung kecil.

Monumen Buto Ijo di malam hari: lebih dramatis.

Monumen Buto Ijo di malam hari: lebih dramatis.

Itulah Monument Buto Ijo yang berada tepat di depan Stasiun Malang Baru. Banyak monument di Malang, salah satunya yang berada di dekat Taman Bentoel Trunojoyo tersebut. Dari sedikit informasi yang aku baca bahwa monument itu dibangun sebagai lambang perlawanan masyarakat Malang terhadap penjajah. Namun aku tidak menemukan tanggal atau waktu tepat monumen itu dibangun. Monument ini digambarkan dengan buto (raksasa) yang terlentang dan diserbu masyarakat. Katanya jumlah orang-orangan kecil adalah 19 buah (aku nggak ngitung). Ketika malam monument dengan relief di bawahnya ini diterangi lampu warna-warni menambah dramatis.

Harus diakui Malang sebagai salah satu kota penuh perjuangan. Karena itu tak mengherankan jika banyak dibangun monument dan tugu. Selain Monument Buto Ijo masih ada lagi monument perjuangan lain yang bisa diceritakan. Menceritakan perjuangan dan sejarah di Malang memang tak ada habisnya.

cacil: tidak memerlukan waktu khusus untuk mengunjungi monumen ini karena terletak di tengah jalan menuju Alun-alun Tugu Malang, sekali pintas bisa terlihat kok..