Jalan Kebenaran Keempat

Kemarin, aku disms seorang kawan yang lagi gemes dengan kawannya. Sebut saja si A lagi gemes pada si B yang lagi seneng menukil pikiran kidal sastra. Padahal sepemahamanku, sastra sebagai jalan kebenaran keempat tidak lantas menjadi pamungkas setiap masalah.

Aku mendapat materi jalan kebenaran keempat ini di awal kuliah. Hal ini sebagai landasan dalam mempelajari sastra. Seseorang yang pandai dalam bidang ilmu pengetahuan akan kembali kepada agama sebagai jalan kebenaran pertama. Begitu pula filsafat dan sastra.

Lho itu ada sastrawan yang atheis? Saya merasa kok tidak seperti itu ya. Semua sastrawan selalu beragama, entah apapun agama (kepercayaannya) itu.

Jika ada yang mencintai sastra lantas tidak mempercayai tuhannya kok rasanya dangkal sekali. Hal itu juga memperlihatkan betapa sempit dia berpikir tentang sastra. Orang sekaliber Bakdi Soemanto juga memperlihatkan agama dalam karyanya.

Lho itu Pram?
Ehem ini nih tokoh penelur karya sastra yang hingga kini digandrungi (kita harusnya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Hasta Mitra). Ya benar Pram pernah bergabung di Lekra. Tapi apakah benar seorang Pram tidak percaya tuhan? Kan iman ada di hati. Pun pasti pr nah tahu bahwa seseorang yang akan menyuntibg puterinya harus belajar agama pada tokoh ‘lawannya’. Aku secara pribadi mengatakan bahwa Pram mengakui adanya kekuatan besar dibanding manusia, dibanding dirinya.

Seharusnya seseorang yang menyukai, mencintai, mengagumi karya sastra dirinya akan menjadi humanis. Dia akan menjadi manusia yang mempunyai mata-mata lain dalam menilai sebuah masalah. Sebaliknya bahwa sebuah agama sebagai jalan kebenaran pertama akan tangguh dalam diri seseorang karena adanya dukungan dari tiga jalan kebenaran lainnya:ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra.

Coretan ini tentu tidak bisa dijadikan sebuah landasan berpikir apalagi tulisan ilmiah. Ini hanya menyampaikan pikiranku yang jadi tergelitik membuka memori bertahun-tahun lalu.

Belajar di Candi Singasari #Malang

candi singasari dan hijaunya hamparan rumput :)

candi singasari dan hijaunya hamparan rumput 🙂


Setelah dari Emma Hotel, aku langsung ke Candi Singasari dengan angkuta. Jauh sebelum berangkat ke Malang selain tanya mbah gugel, aku juga banyak tanya kepada teman di Sindo dulu dan teman Sasindo tentang cara ke Singasari:nuwus Arif dan Endah Mami.

Sekadar informasi angkuta di Ngalam banyak sekali. Jadi jangan ragu menanyakan kepada sopir tujuan yang akan kamu datangi agar tidak salah jurusan kayak aku waktu pulang dari candi hihihih,
Hotel tempat aku menginap satu jalan dengan stasiun (Jalan Trunojoyo) jadi angkut yang dipakai untuk ke Candi Singasari juga sama: warna biru (kayaknya kode ABG) jurusan Terminal Arjosari. Kemudian ganti warna hijau (kode LA) jurusan Singosari. Pak sopir akan dengan senang hati menurunkan di depan gapura menuju Candi Singasari bila sebelumnya kita sudah menyampaikan “Pak Candi Singasari nggih!”. Baca lebih lanjut

#Blitar

Blitar kutho cilik sing kawentar
Edi peni Gunung Kelud sing ngayomi

Blitar jaman Jepang nate gempar
PETA brontak sing dipimpin Supriyadi

Blitar nyimpen awune sang noto
Mojopait ning Candi Penataran

Blitar nyimpen layone Bung Karno
Proklamator lan presiden kang kapisan

Ono crito jare Patih Gajah Modo
Ingkang bisa nyawijikne Nuswantoro
Lan ugo Bung Karno sing kondang kaloko
Ning tlatah Blitar lair cilik mulo

Ora mokal Blitar dadi kembang lambe
Ora mokal akeh sing podo nyatakne
Yen to geni ngurupake semangate
Yen to banyu nukulake patriote

keindahan lagu dengan syair menawan
lirik bercerita tentang sejarah yang memukau
kota kecil penuh kenangan yang tak mudah dilupa
#Blitar ingin kembali menjelajahi

Nostalgia di Gedung Wayang Orang Sriwedari

Dulu ketika masih kanak-kanak, masku satu sering mengajakku ke Sriwedari. Sriwedari adalah sebuah kawasan yang sangat terkenal di Kota Bengawan. Terlepas dari konflik yang pernah menyertainya, Sriwedari merupakan sebuah titik yang kuharap tak akan pernah redup hingga kapan juga.

Di sana kita akan bertemu dengan Taman Hiburan Sriwedari (THR) yang berisi berbagai permainan anak-anak dan panggung hiburan yang menampilkan lagu tertentu di hari tertentu pula, misalnya Koes Plus-an di Kamis malam. Dulu di kompleks ini juga ada bioskop yang kini sudah dibongkar. Kebon binatang yang sekarang sudah pindah ke Taman Satwataru Jurug. Kolam yang bisa dilayari dengan perahu kecil. Sebuah pendapa yang biasa untuk latihan tari maupun pagelaran wayang kulit. Juga Museum Tertua di Nusantara: Radya Pustaka.

Singkat cerita beberapa waktu lalu aku bersama seorang teman dari luar Surakarta menikmati wayang orang di Gedung Wayang Sriwedari. Sudah lama sekali aku tidak nonton di sana. Sebelum ini aku masuk ke sana karena ada acara yang diadakan dinas: acara kumpul gitu.
Foto0479
Nah, di Sabtu gerimis aku dan kawanku datang awal. Kami sempat menikmati semangkuk wedang ronde yang hangat dan segar. Sebelumnya kami membeli tiket seharga 3ribu: kupikir mahal mengingat kita disuguhi pertunjukkan para seniman. Baca lebih lanjut

Tidak Klimaks di Balik 98

di bali 98
Sore ini hujan turun lagi. Padahal aku sudah janjian dengan Bunda Via akan menikmati film besutan Lukman Sardi. Aku sungguh berharap banyak dari film tersebut. Mengingat kembali betapa keoknya negeri ini. Mengerikannya kerusuhan yang merajalela. Jatuhnya moral manusia Nusantara yang lemah lembut. Serta berbagai bercak merah di setiap halaman ketika itu.
Baca lebih lanjut