Museum Malang Tempo Doeloe

image

Ini coretan lama sekali yang nangkring bulukan di nepi. Sembilan bulan perjalanan berlalu tapi harus tetap diinformasikan. Hari kedua setelah salat dhuhur di masjid jami, aku jalan kaki menuju Museum Malang Tempo Doeloe. Museum ini berada di samping Restoran Inggil. Usut punya usut ternyata keduanya milik suami istri. Baca lebih lanjut

Petis

Pertama kali aku pulang membawa petis 2008 lalu. Ketika aku ke Airlangga mengurusi tugas akhir. Sejak itu aku jatuh cinta dengan beberapa makanan jawatimuran. Tahu tek dan makanan dengan kuah kental mirip kari yang pedas cocok dengan lidahku. Sayang makanan enak itu aku tak tahu namanya. Yah meski sebenarnya terlalu pedas, tapi enak.

Mari kembali ke petis.
Sejak itu aku mencari petis setiap ke propinsi paling timur Jawa itu. Salah satunya ketika aku berkesempatan mendampingi anak-anak kemnas di Malang. Bulan 11 tahun 2015, kami ada kemnas di Buper Coban Rondo. Pulangnya kami mampir beli oleh-oleh di toko yang beberapa kali sudah aku datangi.

image

Petis Madura yang aku beli di Malang.

Baca lebih lanjut

Gereja “Ijen” Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel #Malang

Gereja Ijen di depan Monumen Mas TRIP.

Gereja Ijen di depan Monumen Mas TRIP.

Perjalanan dilanjutkan ke depan Monumen Mas TRIP. Apalagi kalau bukan salah satu gereja kenamaan Kota Bakso ini. Gereja Ijen begitu orang-orang menyebutnya. Bertepatan hari Minggu sebagai hari ibadah, aku agak ragu untuk mengunjungi bangunan indah menjulang itu. Namun pengalaman ke Gereja Merah Kediri membuatku berkata: Mengapa tidak dicoba?

Jam menunjukkan angka 10an. Sinar matahari makin terik. Aku menuju depan gereja, tapi tutup. Berjalan menyusuri tepi gereja dan membuahkan hasil. Pintu samping kiri yang terbuka. Dari kejauhan terlihat sekelompok jemaat yang berkumpul di teras bangunan. Aku kurang tahu bangunan apakah itu, yang jelas ketika melihat aku datang acara perbincangan dihentikan sejenak. Seorang di antara mereka mendatangi dan menyapa. Aku mengutarakan niatku untuk mengunjungi gereja. Voila . . . . aku diizinkan.
Baca lebih lanjut