Beranda » ceritaku » Masjid Agung #Semarang

Masjid Agung #Semarang

tampak depan masjid agung semarang dengan tulisan arab melayu

tampak depan masjid agung semarang dengan tulisan arab melayu

Setelah puas berkeliling Lawang Sewu, saatnya melanjutkan perjalanan ke Kota Lama Semarang. Seperti tulisan sebelumnya, saya sama sekali tidak mengerti rute atau arah tempat-tempat yang akan saya datangi. Saya pikir pula jarak antara Lawang Sewu dengan Gereja Blendug tak begitu jauh seperti Lawang Sewu dengan Museum Mandhala. Dengan PD saya jalan kaki, tapi ternyata jarak Lawang Sewu masih jauuuuuuh dengan Kota Lama. Parahnya lagi saya tidak tahu Kota Lama berlawanan arah dengan stasiun kereta api. Meski demikian tak masalah buat saya. Semarang masih tetap ramah seperti Solo. Hal ini tentunya membuat saya tidak sungkan bertanya hhehehe terima kasih warga Semarang. Eheheheh kali ini saya dapat bonus tambahan. Apakah itu? Sembahyang siang di Masjid Kauman Semarang dan tentunya melihat langsung Pasar Johar.

gapura kanan dan kiri hampir sama dengan yang ada di Solo, di jalan pemisah Pasar Klewer dengan Masjid Agung Surakarta

gapura kanan dan kiri hampir sama dengan yang ada di Solo, di jalan pemisah Pasar Klewer dengan Masjid Agung Surakarta

Jujur saja tidak menikmati pemandangan di Pasar Johar Semarang. Saya benar-benar merasa dikejar waktu untuk pulang paling malam jam 5 sore dari Semarang. Karena itu, saya hanya melihat sambil lalu. Selayaknya kota-kota sarat sejarah di Indonesia, tempat transaksi rakyat akan berdekatan dengan sebuah masjid besar. Itu hanya pendapat seorang Indah. Di Keraton Surakarta misalnya, ada Masjid Agung yang berdekatan dengan Pasar Klewer. Di Yogyakarta juga demikian. Di Cut Meutia dekat Pasar Gondangdia heheeh. Nah, selain dekat dengan Pasar Johar, Masjid Kauman juga dekat dengan Pasar Yaik dan alun-alun. Posisi terakhir itu dimulai sejak 1938. Jadi, kawasan masjid dikomersialkan dan tentu saja masjid terlihat sempit.

Sebenarnya Masijd Kauman di Semarang ini bernama Masjid Agung Semarang. Nama ini sesuai nama yang tertulis di pintu gerbang dan fasad depan masjid. Sekadar informasi, daerah-daerah di Jawa (khususnya Jawa Tengah dan DIY) dengan latar belakang keislaman memiliki kawasan bernama Kauman (Kaoeman). Kawasan itu misalnya di Kauman Boja, Kauman Semarang, Kauman Yogyakarta, dan Kauman Surakarta. Kauman setahu saya biasanya ditinggali oleh orang-orang yang memiliki pengetahuan dan keilmuan agama yang tinggi di zaman kerajaan itu. Selain itu, biasanya kawasan ini berdekatan dengan masjid agung (besar).

beduk di teras masjid

beduk di teras masjid

Dari berbagai sumber yang akhirnya saya baca sepulang dari Semarang, Masjid Agung ini memang sudah tua. Masjid tersebut hampir senasib dengan Gereja Katedral Jakarta yang pernah rusak dan dibangun lagi. Bangunan asli masjid didirikan pada 1749 Masehi atau 1170 Hijriyah. Masjid yang beralamat di Jalan Alun-Alun Barat No 71 ini sudah mengalami beberapa kali pemugaran.

keterangan masjid dibangun

keterangan masjid dibangun

penanda waktu pembangunan masjid dalam bahasa Indonesia (mungkin melayu zaman dulu)

penanda waktu pembangunan masjid dalam bahasa Indonesia (mungkin melayu zaman dulu)

Masjid yang ada sekarang ini didirkan oleh Adipati Suradimanggala (Kiai Terboyo) untuk menggantikan masjid lama yang rusak parah akibat kebakaran selama geger pecinan di Semarang tahun 1741.
Sebenarnya masjid lama berada di sebelah timur alun-alun atau seberang sungai. Di lokasi ini masjid sudah pernah dipugar oleh Belanda, yakni pada 1889-1904. Pemugaran dilakukan karena masjid pernah terbakar. Pemerintah Kolonial tidak setengah-setengah untuk memperbaikinya. Mereka mendatangkan arsitek bernama Gakampiyan yah. Namun, tidak sehebat saat membangun kantor Kolonial. Sebab, rasa kedaerahan dan tradisi tak seperti Masjid Agung Demak yang menjadi kiblat pada zaman itu. Nah, itulah masa pemugaran yang terakhir. Jadi, hingga sekarang Masjid Kauman atau Masjid Agung Semarang sudah mengalami empat kali pemugaran, yakni bangunan awal, pemindahan, geger pecinan, dan karena terbakar.

Masjid Agung Semarang ini disebut sebagai masjid tradisionalistik. Sebab, menggunakan bangunan modern, tapi masih menjalankan hal tradisional misalnya menyambut ramadhan atau upacara peringatan agama. Konsep yang dipakai pada masid ini adalah tektonika. Sistem tersebut mirip struktur tumpang pada bangunan tumpang berpenyangga berpilar lima pada bangunan bangunan pra Islam di tanah Jawa.

Menurut Ir. Totok Roesmanto penerapan sistem tektonik dalam pembangunan Masjid Besar Kauman Semarang tidak menggunakan soko guru layaknya Masjid Agung Demak, menunjukkan ketidakmampuan ahli bangunan Belanda pada masa itu mencerna aplikasi sistem konstruksi brunjung empyak pada bangunan tajuk tradisional.

Penggunaan sistem tektonik ini mengarah kepada struktur bangunan yang rigid. Empat sokoguru digantikan dengan pilar pilar bata penopang rangkaian pilar dan balok kayu di atasnya. Pada rangkaian bangunan ini juga dikenal sistem dhingklik yang menopang pilar pilar balok kayu yang lebih kecil di atasnya dan bentuk bangunan itu dan seterusnya.

foto yang diambil sekenanya karena kemrungsung

foto yang diambil sekenanya karena kemrungsung

Sekarang Masjid Agung Semarang tidak sebesar dulu. Sebab, sudah dikepung gedung-gedung tinggi. Selain itu, penambahan bagian depan juga mempersempit lahan. Masjid ini terdiri dari ruang utama yang digunakan jamaah laki-laki dan pawastren untuk jamaah perempuan. Penambahan teras depan disertai beduk. Di masjid ini juga terdapat menara.

Dan di masjid inilah saya sembahyang siang šŸ˜€ luar biasa!!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s