*LETS BUILD THE FUTURE TOGETHER*


Gadis itu tersipu malu saat sepasang tangan melepas kedua tangannya perlahan setelah sebelumnya tergenggam kuat. Satu adegan yang telah melanggar adat kebiasaan di pedukuhannya. Bersentuhan. Kembali, menundukkan kepala memunguti kenangan yang masih tersisa. Kembang-kembang memori berserakan hingga ujung penglihatannya. Merpati tak pernah ingkar janji. Dia hanya setia dengan satu pasangan hingga akhir hayatnya. Kalimat itu terus terpatri. Terpilin dalam satu kereta yang perlahan pergi bersama gemerincing kaki kuda. Baca lebih lanjut

mereka tidak mengerti…

Ayah, mereka tidak mengerti…
Sekian waktu aku kau tinggalkan. Mereka tidak tahu betapa sulitnya ini. Ketika kekasihmu membutuhkanmu dan aku merasa mulai tak mampu menggantikan posisimu di sampingnya. Aku tak bisa dan tak akan pernah bisa. Aku menahan rindu yang menggejolak. Rindu yang tak akan pernah tertunaikan untuk berjumpa denganmu lagi. Baca lebih lanjut

pengakuan dosa

Bulan penuh ampunan datang sebentar lagi. Persiapan menyambutnya tak salah jika dilakukan sedini mungkin. Satu yang suci disambut dengan hati dan jiwa yang suci. Membuka catatan lama untuk mengingat lagi utang dan janji yang belum ditepati. Juga dengan berbagai kelakukan yang tentu tak pernah sedikitpun lepas dari bidikan mata Tuhan. Tak ada manusia yang tak pernah berdosa, pun denganku. Evaluasi diri. Baca lebih lanjut

melodi

nada

Jari ini terus menari di atas tuts piano. Hitam-putih. Dentingnya terasa begitu dalam. Menelusup di bagian terdalam. Nada dan not. Hanya sesuatu yang biasa bagi yang tak mengetahuinya. Namun, bagiku nada adalah bagian sebuah lambang. Satu demi satu memberikan maksud. Dan, nada yang aku perdengarkan ini adalah nada yang aku suka. Satu nada yang membuat kita tenang dengan istirahat sejenak. Baca lebih lanjut