Cieee Move On

Hari ini aku tertarik dengan salah satu postingan seorang teman di media sosial. Singkat cerita dia mengunggah 3 hal yang membuat lelaki tak bisa berlalu dari seorang perempuan. Tuh kan, perempuan sih . . . tampuk kekuatan yang tak terkalahkan tanpa menguras tenaga.

Bagi si kawan ini no 3 hal yang paling menarik. Karena itu ia menulis caption dengan no tersebut.Tapi bagiku no 2 menjadi daya tarik. “Kok bisa telepon genggam tak dikunci bisa bikin lelaki gagal move on?” wkwkwkkwk

Oke lah, menurut teman-teman yang ikut komentar pada unggahan itu beranggapan bahwa keterbukaan menjadi titik utama. Bagiku tak demikian. Seandainya lelaki dan perempuan menjalin hubungan, bukan berarti mereka bisa saling ngubek-ubek privasi satu dengan yang lain.

Lhoooo kan tidak ada rahasia. Benar sekali bahwa dalam setiap hubungan hendaknya tak ada rahasia di antara mereka. Namun menceritakan rahasia satu sama lain menjadi lebih penting dibanding stalking hape milik pasangan.

Aku termasuk orang yang tak mengunci hape dan nepy. Sebab, sekalipun aku melihat, meminjam, atau menggunakan nepy atau hape milik orang lain bahkan kedua kakakku, sungguh aku berusaha untuk tidak membuka yang bukan hak ku.

Pernah suatu kali ketika masih belajar di Ir Sutami, salah seorang temanku telepon. Waktu itu hape masih jadul. Singkatnya teman-teman menginginkan aku untuk tidak mengumpulkan tugas. Sayangnya, telepon itu yang mengangkat mbak ku yang suaranya konon persis aku. Mbak tidak menyampaikan kepada ku. Alhasil, esoknya saat aku mengumpulkan tugas semua teman marah. Ehehehehh dan temanku yang cuma seucrit itu menyayangkan sikapku dan mbakku.

Aku paham dari situ bahwa privasi sangat penting. Tak peduli apapun alasannya. Bila pun kita ingin membantu mengangkatkan telepon, sampaikan saja.

Dan memang bukan kah dala sebuah hubungan rasa saling percaya begitu penting. So buat apa kita mesti buka hape si dia? Bukankah jika terjadi sesuatu padanya dengan sendirinya ia akan bercerita kepada kita?

Ahhh sokteu binggo sih aye . . .

Ujung usia

Simbokku kini sudah berkepala 6. Di usianya yang tak lagi muda, harus diakui masih berjiwa muda. Mungkin fisik sudah tak sekuat dulu, tapi aku tak kuasa untuk menahannya tidak bekerja. Oke aku biarkan saja.

image

Baca selengkapnya

(Ora) Kingguh

Kata ini berasal dari bahasa jawa yang artinya tergoda (ora kingguh: tidak tergoda). Kira-kira begitulah yang disematkan simbok kepadaku ketika aku bercerita bahwa aku sudah masuk toko baju dan tak membeli sesuatu pun.

Iya, ceritanya dua hari jelang lebaran kemarin aku jalan-jalan bersama kuda besi. Muter ke sana dan ke sini. Semua toko penuh, mau toko bahan kue, warung kelontong, toko emas, apalagi toko baju. Semua full dengan pembeli. Baca selengkapnya

Buku

Selama ini, aku (lebih) sering membaca buku berbobot daripada yang sekadar cinta-cintaan. Apalagi buku yang isinya begituan, yang justru lebih banyak dihasilkan para sastrawan perempuan. Meski tidak menutup kemungkinan, novel serius ada selipan adegan begituan juga. Tapi aku juga menyukai karya humor, Dika, serial bos, atau anak Kos yang kocak. Baca selengkapnya