Cieee Move On

Hari ini aku tertarik dengan salah satu postingan seorang teman di media sosial. Singkat cerita dia mengunggah 3 hal yang membuat lelaki tak bisa berlalu dari seorang perempuan. Tuh kan, perempuan sih . . . tampuk kekuatan yang tak terkalahkan tanpa menguras tenaga. Bagi si kawan ini no 3 hal yang paling menarik. Karena itu […]

Jalan Kebenaran Keempat

Kemarin, aku disms seorang kawan yang lagi gemes dengan kawannya. Sebut saja si A lagi gemes pada si B yang lagi seneng menukil pikiran kidal sastra. Padahal sepemahamanku, sastra sebagai jalan kebenaran keempat tidak lantas menjadi pamungkas setiap masalah.

Aku mendapat materi jalan kebenaran keempat ini di awal kuliah. Hal ini sebagai landasan dalam mempelajari sastra. Seseorang yang pandai dalam bidang ilmu pengetahuan akan kembali kepada agama sebagai jalan kebenaran pertama. Begitu pula filsafat dan sastra.

Lho itu ada sastrawan yang atheis? Saya merasa kok tidak seperti itu ya. Semua sastrawan selalu beragama, entah apapun agama (kepercayaannya) itu.

Jika ada yang mencintai sastra lantas tidak mempercayai tuhannya kok rasanya dangkal sekali. Hal itu juga memperlihatkan betapa sempit dia berpikir tentang sastra. Orang sekaliber Bakdi Soemanto juga memperlihatkan agama dalam karyanya.

Lho itu Pram?
Ehem ini nih tokoh penelur karya sastra yang hingga kini digandrungi (kita harusnya mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Hasta Mitra). Ya benar Pram pernah bergabung di Lekra. Tapi apakah benar seorang Pram tidak percaya tuhan? Kan iman ada di hati. Pun pasti pr nah tahu bahwa seseorang yang akan menyuntibg puterinya harus belajar agama pada tokoh ‘lawannya’. Aku secara pribadi mengatakan bahwa Pram mengakui adanya kekuatan besar dibanding manusia, dibanding dirinya.

Seharusnya seseorang yang menyukai, mencintai, mengagumi karya sastra dirinya akan menjadi humanis. Dia akan menjadi manusia yang mempunyai mata-mata lain dalam menilai sebuah masalah. Sebaliknya bahwa sebuah agama sebagai jalan kebenaran pertama akan tangguh dalam diri seseorang karena adanya dukungan dari tiga jalan kebenaran lainnya:ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra.

Coretan ini tentu tidak bisa dijadikan sebuah landasan berpikir apalagi tulisan ilmiah. Ini hanya menyampaikan pikiranku yang jadi tergelitik membuka memori bertahun-tahun lalu.

Kerja dan Apresiasi

Tahun ajaran ini aku merasa senang. Sebab sekolah dipimpin oleh orang yang bisa memberi apresiasi. Bukan sekadar uang atau hadiah, melainkan bertanya kabar. Siapakah yang tak suka?

Aku jadi teringat dengan anak-anak. Mereka mendapat bintang atau poin pujian saat mampu mengerjakan sesuatu adalah penghargaan baginya. Menyapa dan menanyakan kabar adalah sebuah perhatian tersendiri.

Begitu pula aku sadar atas sebuah profesi. Ketika masih menjadi penyunting bahasa (editor), aku tidak merasa bahwa sesuatu harus diapresiasi. Seorang layouter di kantorku dulu dihitung tambahan tiap jam jika lembur. Lantas sekarang aku agak kaget, bahwa ternyata programer dan layouter tak semahal itu.

Programer dan layouter mengerjakan sesuatu dengan ide dan kreativitas. Mereka menuangkan sebuah warna pada air yang jernih. Matur mencoretkan garis pada kertas putih.

Selayaknya anak yang ingin dihargai. Seperti seorang staf yang senang dimanusiakan. Begitu pula dengan sebuah keahlian. Jadikan pembicara, layouter, programer nilai, dan semua keahlian di sekitar kita berjaya karena sebuah apresiasi. Mendukung mereka dengan harga yang pantas.

Balada Balik Nama #3

Aku lupa pada siang itu, setelah membayar 263ribu di Samsat Sukoharjo, sekaligus aku mendaftar balik nama BPKB di Polres Sukoharjo.

Sebenarnya di tembok sudah tertempel biaya yang dibutuhkan. Untuk membuat BPKB dari motor baru atau setengah pakai seperti milikku hanya 70ribu. Tapi petugas memungut 150ribu. Setahuku dari berbagai blog, semua itu harus dibayar di bank (BRI). Dengan alasan belum online, petugas meminta 150ribu. Baca lebih lanjut