(Ora) Kingguh

Kata ini berasal dari bahasa jawa yang artinya tergoda (ora kingguh: tidak tergoda). Kira-kira begitulah yang disematkan simbok kepadaku ketika aku bercerita bahwa aku sudah masuk toko baju dan tak membeli sesuatu pun.

Iya, ceritanya dua hari jelang lebaran kemarin aku jalan-jalan bersama kuda besi. Muter ke sana dan ke sini. Semua toko penuh, mau toko bahan kue, warung kelontong, toko emas, apalagi toko baju. Semua full dengan pembeli. Baca lebih lanjut

Iklan

Kerja dan Apresiasi

Tahun ajaran ini aku merasa senang. Sebab sekolah dipimpin oleh orang yang bisa memberi apresiasi. Bukan sekadar uang atau hadiah, melainkan bertanya kabar. Siapakah yang tak suka?

Aku jadi teringat dengan anak-anak. Mereka mendapat bintang atau poin pujian saat mampu mengerjakan sesuatu adalah penghargaan baginya. Menyapa dan menanyakan kabar adalah sebuah perhatian tersendiri.

Begitu pula aku sadar atas sebuah profesi. Ketika masih menjadi penyunting bahasa (editor), aku tidak merasa bahwa sesuatu harus diapresiasi. Seorang layouter di kantorku dulu dihitung tambahan tiap jam jika lembur. Lantas sekarang aku agak kaget, bahwa ternyata programer dan layouter tak semahal itu.

Programer dan layouter mengerjakan sesuatu dengan ide dan kreativitas. Mereka menuangkan sebuah warna pada air yang jernih. Matur mencoretkan garis pada kertas putih.

Selayaknya anak yang ingin dihargai. Seperti seorang staf yang senang dimanusiakan. Begitu pula dengan sebuah keahlian. Jadikan pembicara, layouter, programer nilai, dan semua keahlian di sekitar kita berjaya karena sebuah apresiasi. Mendukung mereka dengan harga yang pantas.

Balada Balik Nama #3

Aku lupa pada siang itu, setelah membayar 263ribu di Samsat Sukoharjo, sekaligus aku mendaftar balik nama BPKB di Polres Sukoharjo.

Sebenarnya di tembok sudah tertempel biaya yang dibutuhkan. Untuk membuat BPKB dari motor baru atau setengah pakai seperti milikku hanya 70ribu. Tapi petugas memungut 150ribu. Setahuku dari berbagai blog, semua itu harus dibayar di bank (BRI). Dengan alasan belum online, petugas meminta 150ribu. Baca lebih lanjut

Balada Balik Nama #2

Lanjutan dari kemarin.
Oh iya sebelumnya ada yang tanya: in itu kejadian sudah tahun lalu, kok batu muncul sekarang? Iye soalnye itu baru kelar urusan tanggal 4januari 2016.

Nah mari dilanjut! Setelah sebulan ngendon di Samsat Surakarta, semua berkas aku ambil Agustus akhir. Itu pun masih dipersulit. Iyalah kan aku tidak mau bayar 200ribu. Padahal pas aku lihat, ternyata berkas sudah di almari belakang. Tinggal ambil. Astagfirullah. Baca lebih lanjut