Beranda » jalan-jalan » Tujuan Akhir Batik Trusmi #Cirebon

Tujuan Akhir Batik Trusmi #Cirebon

IMG_20170630_135812

Peta Cirebon dari Hotel Slamet.


Berjalan dari Kacirebonan, aku kembali ke Kanoman lewat “pintu rahasia”. Tujuannya selain untuk memotong jalan, siapa tahu ada oleh-oleh menarik di sekitar Pasar Kanoman. Kembali melewati aktivitas warga Cirebon di pasar tradisional dengan berbagai panganan yang mengundang selera membuatku ingin mampir. Tapi apa daya, matahari semakin condong ke barat. Sementara aku hanya punya waktu sampai sore.

IMG_20170415_151843

mengistirahatkan kaki sejenak setelah mengukur jalan 3 kasultanan 😛


Tujuan terakhir di Kota Udang adalah Batik Trusmi. Trusmi tetap dibaca trusmi ya bukan trasmi (trustmi). Sebenarnya aku tidak terlalu suka belanja. Meski demikian, penasaran juga kan dengan pusat batik yang ada di kota dekat pelabuhan ini. Alasan lainnya adalah Cirebon merupakan kota yang terkenal dengan motif mega mendung. Tak hanya itu, warna cerah dan mencolok menjadi salah satu cirri khas pembeda dengan batik pedalaman seperti Surakarata dan Yogyakarta yang identik dengan warna soga.

Aku naik angkuta untuk menuju pusat batik trusmi yang konon juga berkaitan dengan murid Sunan Gunung Jati ini. Dari Pasar Kanoman aku jalan menuju Jalan Karanggetas sampai perempatan Pagongan. Di sepanjang jalan ini kita akan menemui banyak toko emas dan pedagang jual beli emas. Perempatan ini sangat ramai dan aku sempat salah angkuta. Untungnya ada beberapa anak sma yang searah denganku. Maka aku diajaklah bareng seangkuta.

Perjalanan menuju trusmi lumayan macet sehingga terasa lama. Padahal ternyata tidak selama yang aku bayangkan. Semakin tidak terasa lama karena ada Malaysian slow rock music yang disetel di angkuta. Kalau naik kendaraan pribadi (motor, mobil, atau sepeda onthel) kita lurus saja dari Jalan Kartini. Trusmi berada di kanan jalan diawali gapura besar berwarna merah.

Dari gapura ke arah jalan masuk kita akan disuguhi berbagai toko yang menjual batik. Namun toko yang terbesar adalah yang bernama trusmi ini. Meski tempatnya luas pengunjungnya sangat ramai, membuatku semakin tidak nyaman. Setelah bertemu beberapa lembar batik yang dirasa cocok dan mengambil berbagai makanan khas aku langsung membayar di kasir. Untuk makanan khas aku hanya membawa sirup jeruk nipis dan krupuk pasir.

IMG_20170415_192736

BT yang bikin bankrupt 😀


Jam menunjukkan hampir pukul 4 sore. Aku bergegas ke jalan utama (Jalan Tuparev). Saat terburu eh ada mi koclok, pengen mampir tapi teringat gembolan di penginapan 😛

Angkuta pulang langsung ke arah Jalan Kartini tetapi tidak masuk ke jalan Siliwangi. Karena itu, aku turun di depan alun-alun dan jalan kaki lagi menuju penginapan. Ternyata masih bisa beberes dan bersih diri di kamar meski sudah lebih dari jam yang ditentukan.

Berpamitan dengan penjaga penginapan, dilanjutkan naik angkuta lagi menuju stasiun. Turun di perempatan Pagongan lagi dan ganti angkuta sampai depan Prujakan. Kereta yang membawaku pulang masih 3 jam lagi via Stasiun Prujakan. Hujan lebat menemaniku malam itu menunggu dari Pasar Senen.

Sampai jumpa Cirebon. Kota kecil penuh sejarah dan perkembangan Islma. Kota pinggir pelabuhan yang menjadi pusat di antara kota kecil di sekelilingnya. Kota kecil dengan perpaduan warna cantik dan menawan. . .

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s