Beranda » ceritaku » membuka penasaran di Kota Ambarawa

membuka penasaran di Kota Ambarawa

Pagi dingin. Angka di kalender berwarna merah. Heheheh merah di kalenderku adalah hal istimewa. Selain merah, di kertas yang digantung itu juga berwarna biru, hijau, dan hitam heheheheh. Dan warna merah yang istimewa ini hanya sesekali hiks. So, di hari angka merah ini aku tuntaskan rasa penasaran yang menggumpal. Cieee.

Sampai di terminal aku langsung parkir dan memilih bus yang ke arah Bawen. Sayangnya kali ini aku dapat Rajawali dan alamak!! Sopirnya tak menyenangkan! Beda deh sama yang aku tumpangi dulu.
Dengan 20 ribu aku sampai di Terminal Bawen. Dari sana aku langsung mencari angkuta ke arah Palagan Ambarawa dan Museum Kereta Api. Aku tidak tahu apa yang melalui apa. Ternyata, Palagan Ambarawa yang lebih dekat dengan Bawen. Jadi, sebelum ke Museum Kereta Api aku ke Palagan Ambarawa dulu.

Ambarawa tidak sedingin yang aku bayangkan. Cukup panaslah untuk ukuranku. Jadi jaket yang selama di bus ac rapat, aku lepas saja.
Seperti yang aku baca dari beberapa blog bahwa Ambarawa merupakn kota kecil yang tak banyak mengalami perubahan. Dari salah satu blog aku baca dari Terminal Bawen kita akan disambut makam cina yang gede-gede di sisi kiri. Nah, di depannya ada Pasar Hewan eheheeh. Dan pas kemarin aku ke sana sedang rame-ramenya. So yang namanya ‘wangi’ para ternak menyembul masuk ke angkot yang aku tumpangi. Dan saking banyaknya pengunjung membuat angkot dan mobil yang lalu lalang endut-endutan. Sekitar 20 menit kemudian pak sopir angkot menurunkan saya di depan Monumen Palagan Ambarawa. Oh iya, untuk angkot yang membawa kita ke Monument Palagan ini kita cukup membayar 2 ribu rupiah. Heheeheh info ini aku baca dari blog juga, jadi, waktu mau berangkat aku siapkan uang dua ribuan beberapa lembar biar mudah. Warna angkot di sana banyak lho, tapi yang kita tumpangi untuk sampai ke palagan berwarna kuning. Agar tidak ragu-ragu setiap mau naik angkot ada baiknya tanya dulu jurusan yang menjadi tujuan. Untuk cerita tentang Monument Palagan menyusul ya 😀

tank di pertigaan dari Monumen Palagan Ambarawa ke arah Museum Kereta Api

tank di pertigaan dari Monumen Palagan Ambarawa ke arah Museum Kereta Api

Puas berkeliling di Monument Palagan Ambarawa, aku lanjutkan perjalanan ke Museum Kereta Api. Nah, kalau dari Monument Palagan mau ke museum kita bisa naik angkot lagi warna ijo agak kebiruan yang keren disebut ijo tosca. Jalan di dekat palagan ini adalah pertigaan. Jadi, kalau mau ke museum itu ambil kiri. Lumayan jauh sih ehheeh makanya aku tidak mau jalan kaki mengingat besok sekolah masuk heheheh. Pas aku naik angkota, pas penuh. Alhasil aku duduk di pintu kayak jadi kernet kwkwkwkwk. Cukup murah juga 2 ribu. Kalau kita sudah menyampaikan kepada pak sopir turun di Museum Kereta Api, maka dia akan menurunkan kita di depan Pasar Lanang. Nah lho! Lucu ya nama pasarnya. Lagi-lagi dari blog yang aku baca, dinamakan Pasar Lanang karena konon di sini lah berbagai perlengkapan laki-laki dijual. Apa isinya? Mungkin ya cangkul, sabit, dan teman-temannya.

ini nih warung para laki di Ambarawa hihihih: pasar saja punya gender lho :P

ini nih warung para laki di Ambarawa hihihih: pasar saja punya gender lho 😛

Dari Pasar Lanang, kita menyeberang. Sebenarnya museum ini persis di pinggir jalan dengan gerbang bertuliskan Depo Kereta Api. Tapi renovasi yang sudah jalan hampir 3 tahun membuat pintu tersebut ditutup. Di sekeliling pintu masuk ditutup dengan seng. Maka selama renovasi tersebut jalan yang dipakai adalah jalan masuk sekitar 200 meter. Dan tat tara tara…… sampai di depan pintu masuk yang kecil itu ada mobil terparkir. Perasaan tidak enak nih. Ada sekeluarga sedang duduk duduk. Hiksssssss museum tutup tanpa ampun. Memang sih aku baca kalau museum ini sedang direnovasi, tapi itu tahun 2012 bos, sedangkan sekarang 2014. Gagal deh 😦

Oke lah, tak masalah. Lanjutkan perjalanan yok. Tujuan ketiga adalah Benteng Fort Willem I atau yang dikenal dengan Benteng Pendem. Di depan Pasar Lanang aku bertanya pada bapak parker. Dari informasi yang aku peroleh tak ada akses menuju benteng itu, kecuali sepeda motor. Nah lho! Lalu aku Tanya, lalu harus naik apa? Kalau delman bisa? Dan jawaban bapak itu adalah BISA. Horehorehore!

tuk tik tak tik tukkkkkkkkkk naik delman xixixixxi

tuk tik tak tik tukkkkkkkkkk naik delman xixixixxi

Akhirnya, untuk tujuan terakhir aku naik delman heeheheh tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuuuuuuk. Weik! Pantes saja tak ada angkot ke sana lha wong ternyata benteng itu di dalam daerah kavaleri tank (takpakai TOP lho ya!). dengan 10 ribu aku bisa menikmati benteng yang setengah napas setengan mati ini. Bentengnya bagus sebenarnya, tapi sudah mau ambruk. Di lokasi ini banyak pemotretan. Mbak-mbak yang dipoto pakai highheel tinggi 15 cm kali ya sampai uglik-uglik gitu. Padahal lahan yang di bawah tidak rata lho. Hihhihi jadi dituntun kayak anak kecil belajar jalan gitu. Pas aku ke sana, rame luar biasa sampai aku tidak bisa moto diriku sendiri xixixxixi pengen narsis sikitlah.

pintu masuk ke batalyon untuk menuju Benteng Fort Willem I

pintu masuk ke batalyon untuk menuju Benteng Fort Willem I

Mata yang jelalatan melihat tiap sudut bangun terpaksa aku sudahi mengingat jam sudah pukul 2. Agar tidak terlalu malam sampai di rumah maksudku. Dan teringatlah aku bahwa dari benteng sampai ke jalan utamma aku harus jalan kaki. Padahal jauh bos 2km kali ya.
Tidak terasa jalan karena melewati jalan dengan sawah-sawah. Pas di jalan utama tak ada angkot. Dan alhasil aku jalan sampai pertigaan palagan yang ada patung tank-nya. Huaaaaaa hiks. Cemungudh!

view dari tempat aku makan hihiiihh lumayan murah dengan tempat yang nyammmannnn

view dari tempat aku makan hihiiihh lumayan murah dengan tempat yang nyammmannnn

Di situ aku nunggu angkot, eh dapatnya bus kecil ya sudahlah yang penting sampai terminal bawen. Karena aku belum makan, aku berhenti sebelum terminal. Aku nemuin tuh tempat makan masih baru dan tempat beli oleh-oleh. Karena dulu waktu ke Semarang aku belum beli lunpia, aku beli di sini. Aku makan siang sekalian. Yang menarik dari tempat makan ini adalah posisi view-nya yang langsung mengarah ke sawah-sawah dan bukit. Angin berdesir menambah kesejukan. Pokoknya mantep heheheh. Menu ayam bumbu bali yang aku pilih. Kenapa? Karena tidak ada menu khas Ambarawa di situ dan sepanjang jalan aku lewat tadi. Malah yang banyak adalah tahu campur lamongan. Bah!!!! Ini Lamongan atau Ambarawa? Ya sudahlah, itung-itung menambah semangat ke Bali dan sekitarnya.

menu makan siang yang sudah telat. tapi tetap nikmat :) alhamdulillah

menu makan siang yang sudah telat. tapi tetap nikmat 🙂 alhamdulillah

Pulangnya aku naik bus. Dan semua bus Solo penuh. Aku berdiri deh sampai Boyolali sambil jadi kernet qiqqi. Kalau berangkat tadi 20 ribu, sekarang cukup 15 ribu dengan pak kernet dan pak sopir yang lebih baik ehheeheh. Salam Ambarawa: kota kecil yang tak banyak perubahan 🙂

Iklan

6 thoughts on “membuka penasaran di Kota Ambarawa

  1. Ping-balik: Mati-(suri)-nya Museum Kereta Api #Ambarawa | was indah sagst

  2. Ping-balik: Mampir ke Monument Palagan #Ambarawa | was indah sagst

    • Hai ali terima kasih sudah mampir. Untuk museum Palagan Ambarawa setahu saya tidak tutup. museum Kereta Api setahu saya sudah buka. Seperinya sudah ada yang ke sana. Coba deh buka tulisan saya yang Mati Surinya Museum Kereta Api. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s