Beranda » ceritaku » Gereja Mblenduk #Semarang

Gereja Mblenduk #Semarang

GPIB Immanuel Semarang

GPIB Immanuel Semarang

Masih di sekitar Kota Lama Semarang. Berdiri sebuah gereja. Menurut saya gereja ini tidak sebesar gereja yang pernah saya lihat sebelumnya. Benar saja gereja yang ada di Jalan Letjend Suprapto No 32 ini hanya bisa menampung sekitar 100 jemaat. Ini tentu berbeda dengan Gereja Katedral Jakarta yang bisa menampung hingga 250-300 jemaat. Bagaimana dengan isi gereja? Mari kita lanjutkan!

IMG_0347

Koepelkerk demikian nama asli gereja tersebut. Jalan gereja ini berdiri bernama Heerenstraat. Hingga sekarang setiap hari minggu masih digunakan untuk kebaktian atau misa. Saya bisa membayangkan betapa banyaknya pemeluk Protestan yang ingin kebaktian di sini.

Gereja Blenduk (sering diucapkan dengan Mblenduk) merupakan saksi bisu perkembangan Agama Kristen Protestan di Semarang. Bangunan ini menjadi bukti keimanan masyarakat Belanda kala itu. Sebab, mereka membangun sendiri gereja tersebut. Gereja dengan bentuk persegi delapan (heksagonal) tersebut dibangun pada 1753 dan diberi nama Geredja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Immanuel. Seiring berjalannya waktu, gereja ini diperbaiki pada 1894 oleh W. Westmaas dan H.P.A de Wilde. Pada renovasi ini mereka menambahkan dua menara depan. Akhirnya, tampak depan gereja ini mirip Gereja Immanuel Jakarta di depan Stasiun Gambir.

gereja mblenduk dar sisi kanan

gereja mblenduk dar sisi kanan

Saya harus mengakui meski tidak tidak terlalu besar gereja ini memiliki keistimewaan. Pertama, tentu saja bentuk bangunan utama yang heksagonal. Tidak banyak bangunan yang memiliki bentuk persegi delapan. Bentuk bangunan terbanyak adalah persegi empat.

tiga sisi dari delapan sisi gereja mblenduk

tiga sisi dari delapan sisi gereja mblenduk

Kedua, bentuk kubah besar di atas bangunan utama yang mblenduk. Saya masih bingung mengalihbahasakan kata mblenduk ke dalam Bahasa Indonesia: melengkung, menggelembung, atau ada istilah lain yang tepat. Kubah yang menggemakan suara ini dilapisi perunggu. Di bawah pengakhiran kubah terdapat jendela kecil sebagai lubang cahaya. Kubah inilah yang menjadikan gereja ini kesohor.

kubah gereja dari dalam

kubah gereja dari dalam, kerangka kayu jati dilapisi perunggu

Ketiga, adanya orgel di salah satu dinding gereja. Tidak semua gereja peninggalan Belanda memiliki orgel. Gereja ini menjadi salah satu yang beruntung memilikinya. Bahkan, katanya orgel di sini termasuk tertua di Jawa. Benarkah? Saya tidak bisa menjawab secara pasti. Namun, bila membandingkan dengan orgel yang ada di Gereja Katedral Jakarta, orgel ini termasuk tertua. Bahkan jika kita melihat pembangunannya, Katedral Jakarta baru dibangun pada 1810. Sayang sekali orgel di Gereja Blenduk sudah tidak bisa dipakai karena rusak. Tidak hanya orgelnya yang menarik, tangganya pun memesona. Tangga dari besi lebur itu (cor) dibuat perusahaan Pletterij, Den Haag. Tentu saja sayang kalau kita kehilangan warisan indah tersebut.

orgel lengkap dengan tangga melingkar dari besi cor, sayangnya sudah rusak, tidak biisa dipakai lagi

orgel lengkap dengan tangga melingkar dari besi cor, sayangnya sudah rusak, tidak biisa dipakai lagi

Keempat, kursinya yang masih asli. Seperti gereja tua lainnya, kursi di Gereja Blenduk terbuat dari kayu dengan jalinan rotan. Kabar yang membuat saya penasaran hingga menulis ini adalah konon gereja ini pernah berbentuk rumah panggung Jawa dengan atap Jawa sebelum menjadi bangunan seperti sekarang, yakni pada 1753. Tanda pemberitahuan itu terdapat di kolom yang tertulis di belakang mimbar. Mimbar adalah tempat suci bagi umat Kristen tentu tidak selayaknya saya melihatnya. Keterangan itu ditulis oleh Wilde dan Wetmaas. Terlebih saya hanya ditemani pak satpam, tidak seperti waktu saya berkunjung ke Katedral yang ditemani sukarelawan gereja. Jadi, saya tidak terlalu bisa banyak bertanya.

mimbar gereja, konon ada keterangan tentang pemugaran awal "konon"

mimbar gereja, konon ada keterangan tentang pemugaran awal “konon”

Sebelum bisa masuk gereja, saya sempatkan berkeliling sambil mencari pintu masuk. Maklum waktu itu tidak ada tanda-tanda pintu yang bisa digunakan untuk masuk. Bangunan peninggalan Belanda ini memang menonjol dibanding bangnan di sekitarnya. Gedung Jiwasraya yang terletak di sebelah selatan atau di depan tepat. kantor Kerta Niaga di sebelah barat, dan ruang terbuka bekas Parade Plein di sebelah timurnya.

daftar nama pendeta sesi satu dan tak ada yang jawa kalau dilihat dari nama

daftar nama pendeta sesi satu dan tak ada yang jawa kalau dilihat dari nama

daftar nama pendeta ssi dua, tetap tak ada dari jawa :D

daftar nama pendeta ssi dua, tetap tak ada dari jawa 😀

Pintu masuk berupa pintu ganda dari panel kayu. Ambang atas pintu berbentuk lengkung. Masuk dari pintu utama ini kita akan disambut daftar pendeta berupa inskripsi yang tertempel di dinding. Demikian pula dengan ambang atas jendela, yang berbentuk busur. Tipe jendela ada dua kelompok. Pertama, jendela ganda berdaun krepyak, sedangkan yang kedua merupakan jendela kaca warna-warni berbingkai. Ada juga pintu di sebelah barat dekat ruang terbuka. Pintu inilah yang saya gunakan untuk masuk atas seizin pak satpam.

jenis jendela melengkung dengan hiasan kaca patri. terlihat juga kursi asli yang masih terawat pada paduan suara

jenis jendela melengkung dengan hiasan kaca patri. terlihat juga kursi asli yang masih terawat pada paduan suara

Gereja Blenduk:ujung perjalanan saya sore itu.

Iklan

4 thoughts on “Gereja Mblenduk #Semarang

  1. Ping-balik: Gereja Merah #Kediri | was indah sagst

  2. Ping-balik: Gereja Immanuel #Malang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s