Beranda » jalan-jalan » Perpaduan Cantik Kasultanan Kasepuhan #Cirebon

Perpaduan Cantik Kasultanan Kasepuhan #Cirebon

IMG_20170415_105732_1


Berjalan menuju Kasepuhan, aku tidak melewati jalan utama. Dari informasi mbak resepsionis dan keterangan dari Kanoman, aku lewat pintu belakang. Jadi aku tidak perlu memutar ke jalan utama lagi. Keluar dari pintu belakang berwarna hijau melewati gang kecil. Apakah para warga di sini termasuk magersari? Aku kurang tahu, tapi yang jelas memang kecil sekali jalan dan rumahnya.

IMG_20170415_101506

ini dia pintu belakang Kanoman yang jika sampai jalan utama (Pulasaren) ke kanan sampai Kacirebonan dan ke kiri sampai Kasepuhan.


Nama istana ini memang Kasepuhan, tetapi yang bertakhta justru adiknya. Sementara sang kakak mendapat “bagian” di kanoman. Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, Kasepuhan berdekatan dengan Masjid Merah Cipta Rasa. Lengkap dengan alun-alun yang tertutup para pedagang kaki lima.

Datang ke sana aku langsung membeli tiket dengan harga lumayan dibandingkan Kanoman yang apa adanya: Rp 20.000. Kasepuhan berkali-kali lipat luasnya dibanding Kanoman. Koleksinya pun lebih lengkap. Tak hanya itu, pemandu wisata yang mendampingi juga sangat terlatih. Mereka mengenakan pakaian adat khas Cirebon.

Dari membeli tiket kita ke arah Siti Hinggil. Sebutan ini tidak jauh beda artinya dari bahasa jawa yang aku kenal. Siti artinya tanah dan hinggil artinya tinggi: tanah yang tinggi. Di siti hinggil ini ada 5 pendapa yang digunakan oleh keluarga kasultanan lengkap dengan para menterinya. Selain itu ada lingga yoni: simbol laki-laki dan perempuan sebagai perwujudan kesuburan.

Sebelum kita beranjak ke tempat lainnya, ada satu hal yang menurutku mengejutkan. Seperti yang kita tahu, Cirebon memiliki kekhasan dalam bangunannya, yakni candi bentar berwarna merah dan hiasan keramik. Alasan penggunaan keramik-keramik ini disinyalir karena tokoh “putri China” sebagai istri raja. Selain itu, keramik juga didatangkan dari Eropa. Salah satu keramik yang aku lihat adalah seorang laki-laki memegang pedang di tangan kanan dan kepala di tangan kiri. Di bawah terlihat jelas jasad tanpa kepala. Sementara ada seorang perempuan memegang baki siap menerima kepala yang telah terpenggal.

IMG_20170415_110225
Keramik ini diletakkan di area siti hinggil sebagai pusat pertemuan antara rakyat dengan pemimpinnya. Ya betul, tepat di depan siti hinggil adalah alun-alun. Setahuku pula alun-alun menjadi tempat bertemu keluarga kasultanan. Apakah ini sebuah ketidaksengajaan? Atau memang “wajib” dipasang di lokasi pertemuan agar rakyat takut? Semoga hanya sebuah ketidaksengajaan.

IMG_20170415_110826_1

Kori Agung


Melanjutkan perjalanan ke dalam lingkungan istana. Turun dari siti hinggil kita akan berjalan ke arah kanan lalu kiri (barat lalu ke selatan). Di kanan jalan kita akan menemukan sebuah musala yang disebut Tajug Agung. Sementara ketika aku ke sana di depan musala sedang dibangun museum baru.

IMG_20170415_110914_1

Tajug Agung


Masuklah kita ke “area pribadi”. Gerbang besar pemisah yang akan mengajak kita memasuki dunia sejarah. Mata kita akan tertuju pada sepasang macan putih dengan karang di tengahnya. Symbol ini berada tepat di tengan bunderan dewandaru. Ke arah kanan adalah bangunan benda kuna. Berbagai jenis senjata dan perangkat gamelan ada di sini.

IMG_20170415_120014


Jika lurus kita akan masuk ke bangsal kraton. Menuju bangsal, kita akan memasuki pintu. Di kanan ada musala dengan tiang berbentuk ular naga. Sementara di sisi kiri ada bangsal pribadi. Di antara dua pintu kecil inilah takhta raja. Dulu pintu utama raja yang langsung menuju ke alun-alun ini dibuka. Namun sejak ada kejadian kursi rusak oleh pengunjung, bangsal utama kasultanan ini ditutup.

Bila dari pintu menuju ke kiri, kita akan memasuki daerah pagelaran dan sumur-sumur. Pohon-pohon jati tegak berdiri di sepanjang kanan kiri. Pagelaran itu serupa pendopo luas. Terus ke arah kiri, ada berbaga sumur, salah satunya sumur kejayaan.
Keluar dari area pagelaran dan sumur, aku menuju area kasultanan. Aku tidak ikut masuk, konon di situlah pangeran tinggal. Ehhehehe sebenarnya penasaran juga dengan pangeran. Sekilas aku ambil gambar terasnya.
IMG_20170415_113423

Konon di sini bisa ketemu pangeran hihihihi.


Masih di area kiri, ada Wisma Kereta Singa Barong. Di museum ini ada beberapa kereta singa barong. Sebagai orang yang tidak ahli, aku tidak bisa membedakan kereta yang asli. Ada juga lukisan Prabu Siliwangi yang dibuat pada 2013. Lukisan ini dibuat 3 dimensi sehingga seakan-akan dari sisi mana pun dilihat, sang prabu tetap melihat ke arah kita. Satu lagi keterangan dari pemandu bahwa sang pelukis belum pernah melihat wajah Prabu Siliwangi.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Selain bangunan yang aku tulis di sini, sebenarnya masih banyak bangunan di kompleks kasepuhan. Namun tidak aku tuangkan di sini, teman-teman bisa membaca lengkap di wiki. Di sana lengkap.


Satu hal yang ingin aku katakan. Bahwa untuk belajar sebuah tempat, tak bisa hanya dengan sebuah buku meski buku adalah jendela dunia. Kasepuhan secara khusus memperlihatkan kita jalinan budaya yang cantik. Sunan Gunung Jati meninggalkan perpaduan yang indah dipandang mata. Meski demikian, masih ada hal-hal keislaman yang harus kita luruskan bersama.

Iklan

2 thoughts on “Perpaduan Cantik Kasultanan Kasepuhan #Cirebon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s