Beranda » ageming ati » Di Masjid Merah (kita) Belajar Merendah #Cirebon

Di Masjid Merah (kita) Belajar Merendah #Cirebon


Rute selanjutnya dari Kanoman adalah Kasepuhan. Menurut peta yang aku lihat Kasepuhan satu kompleks dengan alun-alun dan masjid agung. Seperti halnya kraton lainnya yang diikuti alun-alun dan masjid agung, begitu pulalah Kasepuhan.
Masjid Agung Kanoman berkebalikan dengan Masjid Agung Kasepuhan. Kanoman identik warna putih. Sementara Kasepuhan dominan warna merah. Aku kurang tahu sejarah perbedaan ini.

Masjid Agung Kasepuhan juga disebut Masjid Agung Cipta Rasa. Ada juga yang menyebut Masjid Merah karena warna temboknya merah. Ada pula yang menyebut Masjid Sunan Gunung Jati karena peninggalan Sunan Gunung Jati.
Masjid ini memiliki beberapa keistimewaan


Pertama warna merah yang jarang digunakan sebagai warna tempat ibadah umat islam. Ketidaklaziman ini menjadikannya mudah ditandai dibanding lainnya. Masih ingat kan dengan Gereja Merah di Kediri? Nah warna Masjid Cipta Rasa hampir sama dengan tempat ibadah itu.

Kedua pintu masuk yang sangat kecil dan pendek. Karena itu kita harus benar-benar merunduk untuk bisa masuk masjid. Pintu ini sebagai isyarat keagungan Tuhan. Kita sangat kecil di hadapan-Nya. Tak ada hal yang bisa kita sombongkan.
IMG_20170415_103928
Ketiga, muadzin yang jumlahnya tidak hanya satu. Aku melihat ada 5 microfon di salah satu tiang masjid. Mungkin jumlah muadzin juga lima. Jumlah tersebut sesuai arah mata angin. Mungkin pada zaman dahulu, agar adzan terdengar dari berbagai penjuru.

Keempat ada tempat tersendiri untuk berdoa. Tempat ini serupa ruangan dengan pembatas kayu. Bisa jadi ini dibangun agar orang yang sedang berdzikir, muhasabah, berdoa, bermunajat, kepada Allah tak terganggu dengan apapun dan siapapun. Bisa dibayangkan saat itikaf, alangkah syahdunya.
IMG_20170415_104619
Kelima, tempat wudhu yang berupa dua bak besar berbentuk bulat, bukan kotak seperti biasanya. Serupa dengan Gua Sunyaragi, di sini pun terlihat ornamen batu karang.
Keenam, ada satu pintu masuk yang besar di belakang sebuah tabir kayu (geber: bahasa jawa). Di depan pintu ada kolam. Ini adalah satu-satunya pintu “normal”. Mungkin inilah pintu yang digunakan oleh Sultan saat masuk.

Dari keistimewaan itu ada satu yang paling utama. Masjid Merah ini belum pernah dipugar. Bangunannya masih asli dan terawat. Pasak dan tiang juga masih kokoh. Tanda yang menguatkan sebagai satu rangkaian “kekuasaan” adalah keramik. Hiasan keramik yang tertempel di dinding masjid. Sementara Masjid Agung Cirebon lainnya, yakni Masjid At-Taqwa sudah dipugar.

Satu catatan untuk diriku sendiri sebagai seorang muslim adalah memakmurkan masjid bukan hanya dari sisi fisik yang indah dan menawan. Melainkan membuat masjid benar-benar sebagai oase di tengah gurun, pelepas dahaga di antara kehausan, menguatkan iman bagi yang tengah lemah. Itulah masjid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s