Beranda » jalan-jalan » Istana yang Tersembunyi: Kraton Kanoman #Cirebon

Istana yang Tersembunyi: Kraton Kanoman #Cirebon


Hari kedua, istana-istana menjadi tujuan utama. Kraton Kanoman menjadi urutan teratas. Sebab letaknya yang lebih mudah dijangkau dari Slamet Hotel.

Dari penginapan aku naik D6 melewati Jalan Siliwangi, Jalan Karang Getas, hingga Jalan Pasuketan . Kita bilang mau ke Kanoman. Angkot akan menurunkan kita di pertigaan Jalan Pasuketan. Dari Pasuketan kita jalan melewati pasar baju dan bermacam barang seperti di Pasar Klewer, jalan lurus sampai pertigaan vihara. Lalu beloklah ke kiri. Nah ini baru Pasar Kanoman. Pasar ini merupakan pasar tradisional. Jadi yang dijual barang kebutuhan harian. Dari pasar kita masuk ke kanan. Jalannya kecil, seperti halnya gang di pasar. Karena alasan inilah kurasa Kanoman lebih sepi dibanding Kasepuhan.

Keluar dari kerumunan pedagang, kita akan menemukan alun-alun. Ada pohon beringin yang dijadikan tempat berjualan atau sekadar duduk-duduk.


Setelah mata menyapu alun-alun, terlihat di pojok kanan sebuah masjid dengan candi bentar bertahta piringan keramik. Ketika aku ke sana masjid sedang dibersihkan. Maka aku putuskan untuk tidak masuk. Aku juga hanya mengambil sedikit gambar.

Kembali ke alun-alun. Di tengah ada gapura bentar besar masih tetap berhiaskan keramik. Tetapi kita tidak bisa masuk melalui pintu utama atau pintu yang lurus dengan singgasana sultan. Kita masuk ke kraton melewati pintu samping.

Kita tidak dipungut biaya tiket untuk masuk Kraton Kanoman, tetapi kita diminta membayar uang kebersihan seikhlasnya serta menulis buku tamu. Waktu itu aku bayar 10 ribu. Selain itu, kita akan diantar pemandu dengan biaya seikhlasnya juga. Namun aku tidak menggunakan jasa pemandu. Aku nebeng pada pengunjung lain untuk tetap bisa masuk sampai ke dalam singgasana dan tempat sembahyang.
IMG_20170415_100610
Sementara untuk memasuki ruang senjata kita ditarik karcis seharga 7500. Ruang senjatanya juga kecil. Jadi kita tidak butuh waktu banyak untuk melihat.


Hal yang menarik dan membedakan Kraton Kanoman daripada bangunan Cirebon pada umumnya adalah candi bentar dengan cat putih. Sebab kebanyakan candi bentar di Cirebon berwarna merah bata. Ada satu lagi, yakni lonceng di salah satu bangunan. Aku sekadar menebak lonceng itu untuk memanggil anggota kraton untuk bersembahyang. Sebab lonceng berada di dekat bangunan sejenis musala.
IMG_20170415_101221
Aku berharap Kraton Kanoman bisa lebih baik. Kesulitan akses menjadi salah satu kendala bagi pengunjung. Bahkan jika kita tidak bertanya bisa jadi kita akan tersesat.

Satu info menarik lagi, meski namanya Kanoman ternyata kraton ini justru dipimpin oleh sang kakak. Sementara untuk Kasepuhan justru dipimpin sang adik. Entah betul atau tidak, yang pasti sebuah kebudayaan pernah berkembang di kota tepi pelabuhan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s