Beranda » jalan-jalan » Mencicipi Nasi Jamblang Mang Dul #Cirebon

Mencicipi Nasi Jamblang Mang Dul #Cirebon

Jumat siang sekitar jam 14.00 aku sudah kembali dari Sunyaragi. Setiap dolan dan tempatnya masih terjangkau, aku biasanya kembali ke penginapan. Kota Cirebon yang panas dan udara yang menyengat membuatku memutuskan untuk istirahat.

Malamnya, aku jalan menyusuri Jalan Siliwangi dan Jalan Kartini menuju Grage mall. Bukan ngemol, tapi mau mencicipi Jamblang Mang Dul yang letaknya dekat dengan Grage. Pagi menuju penginapan sebenarnya aku sudah lewat. Abang sopir angkutnya juga menginfokan bahwa Mang Dul memang terkenal.

IMG_20170414_195222

antrean ambil nasi


Nasi jamblang seperti halnya empal gentong. Kedua makanan ini mudah dicari di Cirebon. Lalu apa istimewanya Nasi Jamblang Mang Dul? Menurutku tidak ada kecuali merek dagang hahahhaha.

Iya betul. Serius.
Biar aku njlentrehkan ya!

Nasi jamblang pada dasarnya adalah nasi yang dibungkus daun jati. Inilah keistimewaanya. Sementara di daerah lain, tepatnya di Kabupaten Sragen, nasi juga dibungkus menggunakan daun jati khusunya saat ada hajatan. Dan selama ini aku belum pernah mencicipinya. Mengapa? Aku Cuma merasa agak geli karena warnanya merah gimana gitu.
IMG_20170414_195213
Oh iya, nasi jamblang menjadi enak karena lauknya yang beragam. Hal ini harus kamu tahu bahwa makan di Mang Dul antreannya MasyaAllah. Karena itu saat aku makan lauknya dikit banget. Padahal sepanjang jalan kartini banyak juga yang jual nasi jamblang dengan panci-panci berderet. Sudah kebayangkan aneka ragam lauknya.

Lalu apa saja lauk yang ada? Di sana ada tempe goreng tepung, tempe goreng biasa, telur goreng, daging sapi kecap, cumi, kerang, pokoknya lauk biasa itu. Yang bikin aku kaget, ternyata sambalnya bayar ahahhaahhahhha.

Ngomong-ngomong soal sambal, ini yang aneh menurutku. Aku yang seumur hidup terbiasa dengan sambal diuleg alus, eh di nasi jamblang sambal Cuma cabai diiris tipis. Di Sala sambal yang seperti itu digunakan untuk sambal goreng. Jadi cabai yang diiris tipis itu ditumis lalu dicampur dengan kentang atau hati sapi.

Ketika akan makan di sana, antrelah dulu untuk mengambil piring dan nasi. Oh iya lupa. Jangan kaget nasinya Cuma sekepalan tangan, itu dihitung satu porsi. Lalu lauknya prasmanan alias ambil sendiri. Jika sudah ambil, duduklah dengan tenang sambil menikmati nasi jamblang.

Bayarnya? Nanti akan ada orang yang datang dan menghitung makanan dan memberikan selembar kertas kecil. Sebelumnya kita pasti akan ditawari minuman. Malam itu aku habis 20 ribu. Harga ini untuk 1 nasi jamblang, 2 tempe tepung, secuil ikan tongkol (bener-bener Cuma secuil), dan seiris kecil daging sapi, dengan minum teh manis hangat.

Selesai makan aku langsung bayar di kasir dan jalan pulang. Tempat makan yang terlalu ramai dan gerah membuatku tidak nyaman.

Makan di Mang Dul sekadar membayar penasaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s