Beranda » ceritaku » Cota Blunda di Surakarta #lakulampah

Cota Blunda di Surakarta #lakulampah

Sepekan lalu, aku mendapat informasi terkait jalan menyusuri sejarah. Salah satu yang menarik adalah perjalanan ke Lasem Februari depan. Sayangnya aku tidak bisa ikut. Bersyukurnya ada event lain 24 Januari (kemarin).

image

Di sisi lain badan yang tidak baik (pilek, demam, hilang suara, dan uborampenya) membuatku agak mengurungkan niat. Jangan-jangan malah pingsan di jalan. Laku lampah memang kegiatan menelusuri sejarah dengan jalan kaki. Malam sebelumnya persiapan maksimal diupayakan: obat dan kencur. Paginya meski agak pusing sudah sangat lebih baik.

image

Mari kita masuk dalam pembelajaran. Jam berkumpul adalah 09.00 di sisi barat Beteng Vastenberg. Aku lupa itu Minggu, artinya jalan Slari dipakai untuk CFD. Maka mau tak mau harus putar lewat Pasar Kliwon. Untungnya tidak terlambat.

image

Pemateri Mas Bimo Hernowo. Beliau lulusan UNS, tapi kini tinggal di Jerman dan menyelesaikan penelitian di Surakarta. Inti dari materi kemarin yang dapat aku ambil adalah.
1. Ada beteng lain selain Beteng Vastenberg. Beteng itu terletak di Kedung Lumbu di sisi barat Sungai Bengawan Solo lama (konon Sungai Bengawan Solo sekarang sudah mengalami pergeseran.

image

2. Beteng Vastenberg sebenarnya sampai ke Sangkrah (timur), Kali Pepey (Pepe) di utara, dan beteng Trade center (selatan).

3. Pembangunan beteng bertahap pertama digunakan untuk keamanan. Kedua membuat kompleks di dalam beteng. Ketiga baru membangun kompleks di luar beteng.

image

4. Pada Beteng Vastenberg di sisi utara dan selatan sebenarnya ada bangunan bertingkat. Selain itu ada dua batu khusus yang digunakan oleh Raja melihat sekeliling beteng.

5. Beteng pertama sudah dalam kondisi rusak saat diceritakan di buku D’imelda.

image

6. Perkembangan pembangunan Beteng Vastenberg ke bagian timur (Sangkrah) membuat adanya percampuran. Hal ini mengingat para kompeni membawa awak dari berbagai daerah. Alasan ini juga yang menguatkan adanya Kota Belanda di Surakarta. Bangunan dengan veranda (beranda) yang tidak ada di Belanda merupakan sebuah percampuran (masih menggunakan pilar besar). Jadi ingat kawanku Canggih Atma yang rumahnya di KedungLumbu. Perawakannya tinggi jangan-jangan keturunan Belanda.

7. Bangunan Beteng Vastenberg di bagian atas mendapat pengaruh dari bentuk kantor dagang Belanda di Benggala.

image

8. Stasiun Kota di Sangkrah. Menurut sifat pembangunan stasiun di Belanda, kota selalu berada di sebelah kanan (selatan) stasiun. Hal ini makin membuktikan adanya kota di sebelah kanan stasiun (beteng di daerah KedungLumbu). Karena itu Kota Belanda di Surakarta berada di sisi barat Sungai Bengawan Solo, jauh sebelum Keraton Surakarta diboyong. Jaraknya sekitar 1km dari Sitihinggil.

image

9. Bonus, kami juga datang ke makam nakhoda Rajamala di Sangkrah. Di sana terdapat batu yang konon katanya merupakan batu pemberat kapal.

image

Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ketahui. Memang benar ya belajar dengan guru lebih menyenangkan dibanding belajar dengan buku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s