Beranda » ceritaku » Tebing Keraton Bandung

Tebing Keraton Bandung

Seperti tulisanku sebelum ini, tujuan pertamaku Tebing Karaton. Pagi sekali dari Kircon aku naik angkuta. Jujur saja aku takut. Masih gelap dan sendiri, meski di jalan sudah banyak anak SMA yang menuju ke sekolah.

image

Dari Kircon, naik angkuta ke arah simpang Dago. Warnanya putih hijau. Saking takutnya, aku nyalakan map di hp. Guna berjaga, aku duduk di dekat pintu. Setiap ada yang naik langsung curiga ehhehe. Ciri simpang Dago adalah restoran cepat saji Mc’D.

image

Dari perempatan itu ambil jalan ke kanan restoran. Lurus terus sampai kantor PDAM. Di sini kita tunggu angkuta yang jarang banget. Angkuta cokelat arah Ciburial.

image

Aku beruntung pagi itu ada yang mau ke Tebing Keraton. Bareng mereka aku lewat jalan tengah kampung. Kupikir jalannya dekat. Ternyata kita harus masuk jalan hutan raya Djuanda. Setelah sampai warung kopi, masuknya masih jauh. Perjalanan menuju Tebing Keraton sekitar 3jam jalan kaki. Untuk informasi mengenai Tebing Keraton bisa kita cari di internet.

image

Sesampai di tebing, aku agak kecewa. Tebingnya kecil tapi pengunjungnya banyak. Kesempatan untuk menikmati suasana tenang tak ada. Aku sih bukannya antiselfie, tapi pengen banget puas menghirup udara

image

segar itu.

Akhirnya aku tak lama di sana. Selain karena sudah siang, takut tidak ketemu dengan kawan yang sudah janjian. Tapi dasar rezeki anak salehah ya baru setengah jalan ke luar eh ada mobil keren berhenti. Di dalam mobil ada beberapa orang perempuan cantik yang menawarkan tumpangan. Alhamdulillah senang sekali bisa memotong waktu jalan

image

kaki heehhehe.

Sebenarnya si mbak-mbak dalam mobil menawarkan ke arah tujuan, tapi kayaknya beda arah. Karena itu aku minta turun di jalan untuk naik angkuta menuju Lapangan Tegalega sebagai tujuan kedua sambil ketemu dengan kawan.

Meski agak kecewa dengan Tebing Karaton, aku cukup senang bisa berdiri di tebing yang lagi mahsyur itu.

Iklan

5 thoughts on “Tebing Keraton Bandung

    • Benar sekali pak ridha, lebih nyaman memakai kendaraan pribadi, terutama motor. Sebab kalau mobil harus berhenti di kantor tahura (poto saya yang terakhir). Mobil harus berhenti dan parkir, lalu naik ojek atau jalan kaki. Atau bisa juga dengan sepeda kayuh. Karena sebenarnya kawasan ini adalah tempat para pelancong sepeda gowes dulunya.
      Terima kasih pak Ridha sudah berkunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s