Beranda » Uncategorized » Aku, Ayah, dan Kincir

Aku, Ayah, dan Kincir

image

Malam ini, malam perdana di rumah. Ada pasar malam yang tak jauh dari rumah. Simbok yang berpakansi belum pulang. Rencana wedangan dengan kawan ditunda. Akhirnya, aku jalan ke pasar malam.

Dari semua permainan yang ada, aku sangat suka dengan kincir. Jika di Dufan kayaknya bernama bianglala. Dengan 5ribu aku berputar di sarang yang berputar. Tiap putaran mengajakku kembali ke masa sekolah dasar.

Aku diajak ayah ke Sekaten Surakarta di Alun-alun Utara. Sebuah pasat malam menjelang Maulid Nabi yang diadakan Kraton Surakarta dan Yogyakarta. Di sanalah aku pertama kali naik kincir.

Di kincir itu, tanganku digenggam ayah. Kami melihat gerbang Masjid Agung. Lampunya indah di berbagai sisi. Kota Sala juga sangat menawan di malam hari.

Kami tertawa di dalam sarang itu. Saat melaju cepat kami semakin tertawa. Ayahku yang membuatku selalu mencari kincir. Kincir yang indah berkilauan lampunya. Kincir yang mengantarkanku pada tawa. Juga malam ini, aku menikmati kelip desa di atas kincir. Aku sayang ayah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s