Beranda » ceritaku » Monumen “Mas” TRIP Jalan Salak #Malang

Monumen “Mas” TRIP Jalan Salak #Malang

Bendera TRIP JATIM di Museum Brawijaya Malang.

Bendera TRIP JATIM di Museum Brawijaya Malang.

Aku Tentara Republik Indonesia Pelajar Jawa Timur (TRIP JATIM) “Lebih baik mati bertempur melawan penjajah Belanda daripada hidup sebagai pelajar jajahan”

Sebenarnya tulisan ini akan diunggah pada 31 Juli 2015 kemarin. Namun karena berbagai hal, tulisan baru bisa diunggah sekarang ^_^
Masih di Jalan Ijen, setelah belajar di Museum Brawijaya aku kembali jalan kaki. Tujuannya Gereja Ijen, tapi ada yang menarik di depan gereja tua itu. Monumen “Mas” TRIP atau Tentara Republik Indonesia Pelajar.

Monumen Mas TRIP JATIM di JAlan Salak depan Gereja Ijen Malang.

Monumen Mas TRIP JATIM di JAlan Salak depan Gereja Ijen Malang.

Mari sekilas kita belajar sejarah kemerdekaan lagi. Rakyat Indonesia memang sangat hebat dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan. Baru sekarang-sekarang saja sih rasa mempertahankan “kemerdekaan” malah kocar kacir dengan sebangsa dan setanah air.

TRIP sebenarnya berasal dari TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Perubahan ini terjadi pada 1946. Mereka sudah berjuang sejak Sekutu ingin menduduki Indonesia melalui Surabaya. Pasukan Inggris kewalahan dengan perjuangan rakyat Indonesia.

Pada masa perjuangan itulah peran para remaja sudah terasa. Mereka masih pelajar tapi semangat patriotisme tak terkalahkan. Persenjataan sederhana tidak menyurutkan tekad mereka.

Masih berkaitan dengan Monument TGP di dekat Stadion Gajayana, Monumen TRIP menyimpan banyak cerita tentang pelajar. Di Jalan Salak depan Gereja Ijen ini sebuah monument didirikan untuk mengenang 35 pejuang pelajar yang terlindas tank. Tank Am-TRACK itu kini tersimpan di Museum Brawijaya. Di sini pula seorang prajurit Soesanto gugur.

Peristiwa itu terjadi 31 juli 1947. Batalyon 5000 yang berpusat di Malang berfungsi sebagai garda depan pertahanan. Pertempuran di Jalan Salak inilah yang menjadi dasar pembuatan monument pada tahun 1959. Sebenarnya ada monument lain yang sekaligus pusara bagi 35 prajurit yang gugur pada Agresi Militer Belanda 1, yakni Monumen dan Taman Makam Pahlawan TRIP.

Meski berdekatan dengan TRIP, “Mas” bukan sebuah singkatan. Mas adalah sebutan bagi para prajurit. Para prajurit yang berusia seklah antara SMP dan SMA ini berusia sekitar 13-18 tahun. Karena itu mereka masih terlalu kecil untuk dipanggil “pak” dan terlalu besar dipanggil “dik”.

Demikianlah sedikit tentang TRIP. Sungguh pelajar yang membuktikan kesetiaan terhadap nusa dan bangsa. Terlintas pidato Bung Tomo pada 17 Maret 1946 di Stadion Malang sebagai penutup coretan ini.

“Djanganlah meroentjing-roentjingkan hak lebih dahoeloe akan tetapi penoehilah toentoetan kewadjiban sebagai warga negara Indonesia,”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s