Beranda » ceritaku » Museum Brawijaya #Malang

Museum Brawijaya #Malang

disambut patung JEnderal Sudirman menuju pintu masuk tiket Museum Brawijaya.

disambut patung JEnderal Sudirman menuju pintu masuk tiket Museum Brawijaya.

Setelah berhenti sebentar di Monument TGP, aku melanjutkan jalan kaki pagi ke tujuan utama: Museum Brawijaya. Sepanjang menelusuri Jalan Semeru aku bertemu masyarakat Malang yang tumplek blek di Minggu pagi. Sekadar jalan-jalan dengan keluarga atau pacar. Di pinggir jalan berjajar penjual, mulai pakaian sampai makanan. Sampai di pertigaan yang penuh aku bertanya kepada petugas: Pak Museum Brawijaya sebelah mana ya? setelah ditunjuk aku jadi malu ternyata tinggal menyeberang sampailah di museum. Maklum pagi itu Jalan Ijen adalah lokasi CFD. Heheheh maka bangunan yang sedianya besar jadi terlihat sempit. Apalagi banyak yang buang sampah sembarangan.

Susah payah menyeberangi lautan manusia aku sampai di gedung dengan tulisan merah besar MUSEUM BRAWIJAYA. Museum Brawijaya adalah salah satu tujuan utama kedatanganku ke Malang. Museum ini berada di Jalan Ijen. Belajar ke Museum Brawijaya mengingatkan kita belajar di Museum Mandala Bhakti Semarang atau di Monument Palagan Ambrawa yang sekaligus Museum Isdiman di Ambarawa. Saat masuk halaman kita disambut berbagai koleksi tank. Halaman depan Museum Brawijaya ini diberi nama “Agne Yastra Loca” yang berarti taman senjata api revolusi.

Salah satu tank yang ada di halaman depan Museum Brawijaya.

Salah satu tank yang ada di halaman depan Museum Brawijaya.

Pertama tank yang digunakan pada Pertempuran 10 Nopember 1945 di Surabaya. Tank itu buatan Jepang yang dirampas arek-arek Surabaya untuk melawan sekutu.

Kedua ada senjata Penangkis Serangan Udara (PSU) yang disita BKR pada September 1945 dari Tentara Jepang. Penangkis yang dikenal dengan Pompom Double Loop ini dipakai BKR untuk melawan Belanda dan sekutu yang ingin menjajah Indonesia kembali.

Ketiga, Meriam 3,7 Inch yang diberi nama Si Buang disita oleh TKR di Desa Gethering Gresik dari Tentara Belanda pada 10 Desember 1945. Meriam ini dinamakan Si Buang karena saat pertempuran itu telah gugur seorang prajurit TKR bernama Kopral Buang.

Keempat, ada Tank AMP-TRACK yang digunakan dalam pertempuran para pejuang TRIP.

Kunjungan dilanjutkan, untuk memasuki gedung kita disambut patung Jenderal Sudirman lalu melewati jembatan yang di bawahnya terdapat kolam ikan, sayang kolam itu hijau karena lumut. Bagi yang ingin member makan ikan disediakan lho. Dengan membayar beberapa ribu rupiah kita akan mendapatkan sekantung pakan ikan.Sebelum masuk jangan lupa beli tiket dulu ya seharga 3ribu.

Melangkahkan kaki ke Ruang Lobi. Di sini kit dapat melihat Relief penugasan pasukan Brawijaya, Relief kekuasaan Kerajaan Majapahit, dan Lambang-lambang kesatuan / Kodam seluruh Indonesia.

Alat musik prajurit menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari saksi kesejarahan.

Alat musik prajurit menjadi salah satu bagian yang tak terpisahkan dari saksi kesejarahan.

Ruangan selanjutnya di arah kiri. Koleksi yang terdapat pada ruangan ini mulai dari 1950 – sekarang. Di ruangan ini terdapat benda-benda bersejarah seperti komputer yang digunakan pada masa itu, berbagai foto operasi khusus yang dilakukan dalam menumpas pemberontakan yang terjadi di Indonesia, dan juga terdapat foto-foto kota Malang tempo dulu. Nah, di sinilah kita bisa melihat gambaran Alun-alun Bunder, Masjid Jami, Gereja Kayutangan, Gedung KNPI atau sekarang dipakai untuk Sarinah, dan banyak gedung bersejarah lainnya.

Foto-foto bangunan di Malang tempo dulu. banyak perubahan yang terjadi semoga tetap lestari.

Foto-foto bangunan di Malang tempo dulu. banyak perubahan yang terjadi semoga tetap lestari.

Melaju ke halaman tengah kalau menurutku halaman belakang. Di halaman ini kita akan menemui dua benda bersejarah. Salah satu benda itu menjadi magnet terkuat bagiku untuk mendatanginya: gerbong maut.

Gerbong maut di halaman belakang menjadi saksi bisu keganansan penjajah terhadap rakyat Indonesia.

Gerbong maut di halaman belakang menjadi saksi bisu keganansan penjajah terhadap rakyat Indonesia.

Gerbong maut adalah sebutan untuk gerbong barang yang membawa rakyat Indonesia sebagai tawanan di penjara Bondowoso menuju Surabaya. Sebenarnya gerbong bernomor GR 10152 tersebut ada tiga (satu di Museum Brawijaya Malang, satu di Monumen Gerbong Maut Bondowoso, dan satu lagi terbengkalai di pelataran belakang Museum Juang Surabaya). Pada 23 september 1947 jam 02.00 itulah gerbong maut mengangkut 100 orang. Di gerbong yang berdesakan, sempit,pengap, panas, dengan jendela dan pintu tertutup itulah 46 orang tewas sebelum sampai di Surabaya.

Koleksi bersejarah lainnya adalah Perahu Segigir. Perahu ini digunakan Pasukan Joko Tole (Sabilillah) dari Pasongsong Sumenep Desa Prenduan pesisir (Pamekasan dan Sumenep) ke Probolinggo.
Di halaman belakang ini juga terdapat perpustakaan. Sayang ketika aku di sana perpustakaan tutup. Aku sempat naik ke balkon menyaksikan pemandangan malang yang dikelilingi gunung.

Mari kita lanjut ke ruangan sayap kanan atau ruang 1. Koleksi yang terdapat pada ruangan ini mulai 1945–1949. Di ruangan ini pengunjung dapat melihat benda-benda bersejarah, seperti mobil De Soto yakni mobil dinas Panglima Divisi I Brawijaya tahun 1948 Kol Sungkono, foto-foto mantan panglima Jawa Timur, senjata api, juga seperangkat meja dan kursi yang digunakan oleh Bung Karno, Bung Hatta, Kol. Soengkono saat melakukan“Perundingan meja bundar”bersama Belanda.

Bila memaparkan isi sebuah museum memang tak akan ada akhir. Sebab mereka bercerita tanpa suara. Dari sejarahlah kita belajar. Inilah sedikit dari perjalanan yang sekelumit di kawasan elit Malang: sebuah museum di Jalan Ijen.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s