Beranda » ceritaku » Membayar Nuansa di Inggil Resto #Malang

Membayar Nuansa di Inggil Resto #Malang

Buku menu Inggil Museum Resto: klasik :)

Buku menu Inggil Museum Resto: klasik 🙂

Inggil Resto adalah salah satu tempat makan yang disarankan para blogger. Sebenarnya belum terbayang wujud tempatnya karena sedikitnya gambar. Setelah datang ke sana harus aku katakan tempatnya bagus, tapi pelayanan kurang oke meski penampilannya oke banget. Eh maaf ya ini sekadar berbagi pengalaman.

Semerbak wangi sdap malam menyambut kita di Inngil Resto: tepat di depan kasir.

Semerbak wangi sdap malam menyambut kita di Inngil Resto: tepat di depan kasir.

Aku datang sampai di restoran cantik itu sekitar pukul 20an mungkin lebih. Kesan pertama senang sekali. Banyaak perabot lama yang menghiasi setiap sudut. Aroma kembang sedap malam menyeruak wangi. Tatanan eksotik dari kurun masa lampau dihadirkan. Ini seperti mengunjungi Omah Jadoel Blitar sambil makan di tengahnya.

Nah kalau sudah ketemu begini, artinya sudah di bagian aula/belakang,

Nah kalau sudah ketemu begini, artinya sudah di bagian aula/belakang,

Restoran dengan tata ruang museum ini dibagi menjadi dua. Pertama bagian depan agak kecil memang dengan penyekat tembok. Berbagai benda kenangan tempo dulu terpasang dengan apik. Tempat makan cocok untuk keluarga atau bersama kawan-kawan. Di bagian selanjutnya lebih luas dengan tatanan lebih tradisional. Penyekat kulihat dari dinding bamboo dan kayu. Dominasi tradisional kental di sana. Ruangan ini lebih rendah dibanding ruang depan.

Ada tempat lesehan juga lho.

Ada tempat lesehan juga lho.

Bila tidak nyaman duduk di kursi pengujung bisa menikmati hidangan dengan lesehan di ruang belakang tersebut. Di ujung ruang ke dua ini terdapat panggung yang menyajikan live show. Malam itu aku beruntung karena ada live keroncong dan tari tradisional: tari topeng. Secara penampilan aku harus jujur oke banget. Terlebih katanya restoran ini memang ditujukan bagi turis luar negeri menikmati indahnya Malang. benar nggak sih? Nggak tau.

Informasi selanjutnya adalah berkaitan dengan makanan yang terhidang. Okelah mungkin karena aku ke sana sudah terlalu “larut” semuanya serbahabis. Mungkin karena aku datang sudah lewat jam makan malam. Atau memang terlalu banyak pengunjung di Sabtu malam itu sehingga hamper semua persediaan habis. Terus terang saja aku tanyakan kepada pelayan, menu apa yang masih ada? Ternyata ayam dan minimal harus setengahnya. Kupikir mana bisa habis aku makan ayam separuh?

Sambel apel yang seger setelah menunggu hampir 1,5 jam di kursi pojokan dekat washtafel.

Sambel apel yang seger setelah menunggu hampir 1,5 jam di kursi pojokan dekat washtafel.

Untuk makanan aku tak terlalu tertarik karena ini bisa dicari di berbagai tempat. Lha wong akhirnya aku cuma makan sepiring nasi yang akhirnya tidak habis, dua ati ampela, sambel apel, dan segelas jeruk lemon. Yang terenak dari yang aku pesan jeruk lemon dan sambel apelnya yang segar. Di restoran dengan nuansa museum ini kita tidak membeli makanan, tapi nuansa: itu sih menurutku.

Info terakhir: pelayanan. Ini sih bukan untuk menjatuhkan nama Inggil yang sudah oke lho ya. Tapi kalau sekadar menikmati kesemruwetan mending tidak di sini deh. Waktu itu aku datang sendiri hamper barengan dengan seorang ibu dengan turis luar negeri. Kami sama-sama di daftar tunggu. Blaik tenan yang didahulukan mereka wuuuiiiihhhh. Pokoknya disumanggakaken beud deh! Seudih? Iyalah di negeri sendiri gitu. Dan kata Trinity blogger yang terkenal itu aku buktikan sendiri.

Selain itu tidak ada yang mempersilakan. Jadi musti minta sendiri kepada pelayan tempat yang sekiranya bisa dipakai. Weeeeleh apakah mungkin karena aku dekil bin kucel dengan ransel besar lantas ora digagas? Bisa jadi. Tapi setelah aku masih ada serombongan keluarga yang sedianya akan makan di sana. Eh karena tidak dilayani dengan baik alhasil mereka ngacir. Aku saja dapat tempat ketika tempat sudah sepi.

Oke mungkin mereka capek karena padatnya pengunjung. Tapi bukankah memang itu pekerjaan mereka? Ah sekali lagi pengalaman. Bisa jadi ini akan berbeda menurut orang lain. Apakah ini bisa direkomandasikan? Saya kembalikan kepada pembaca: ceileh! Satu lagi yang masih bikin aku agak gimana gitu ternyata di restoran ini menjual bir. ah harusnya aku lebih hati-hati 😥

Cacil: Restoran Inggil terdapat di Jalan Gajah Mada Malang.
Total makan sendiri di sana (sepiring nasi putih, sepaket ati ampela: isi 2, sambel apel, dan segelas jeruk hangat) 32.000.

Iklan

One thought on “Membayar Nuansa di Inggil Resto #Malang

  1. Ping-balik: Taman Cerdas-Bentoel Trunojoyo #Malang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s