Beranda » ceritaku » Mencicipi Es Krim Oen #Malang

Mencicipi Es Krim Oen #Malang

pintu samping toko Oen

pintu samping toko Oen

Sepulang dari Candi Singasari sebenarnya ada rencana ke Candi Suberawan. Menurut keterangan dari bapak penjaga Candi Singasari harus kembali ke pasar dulu lalu ganti angkuta menuju candi Budha tersebut. Lama menunggu di pos ojek, angkuta ternyata tidak kunjung datang. Kepala yang makin pusing ples melihat banyaknya kendaraan macet membuatku makin keliyengan. Akhirnya aku putuskan tidak melanjutkan ke candi berbentuk stupa itu dan kembali saja ke Emma.

ini buku menunya. . . monggo

ini buku menunya. . . monggo

Sampai di Emma jam 13.40, aku bergegas ibadah siang (baca salat dhuhur) dan melemparkan diri ke kasur yang empuk ehheheehh. Tak terasa jam menunjukkan pukul 16.30an. mata terbuka Alhamdulillah hilang sudah sakit kepala: Salat ashar dan langsung pergi dengan angkuta menuju Gereja Kayutangan. Tapi waktu itu Sabtu. Jadi ada acara misa di gereja.

Oen dari depan

Oen dari depan

Seperti yang aku baca, di sekitar kayu tangan ini merupakan daerah ”kota tua”. Nah di sinilah terdapat tempat makan es krim Oen yang kesohor. Agak takut sebenarnya makan di sana. Sebab menurut banyak informasi harganya holllooooolll: saking mahalnya.

sonny boy

sonny boy

Kalau boleh menilai antara es krim di Oen dan Tentrem, aku pilih Es Krim Tentrem deh. Meski harganya lebih murah, es Tentrem lebih nyus. Kebetulan aku dapat kursi yang rendah (dari rotan kayaknya). Ketika aku menyendok es tercium bau amis di meja hehehehhe. Padahal ini restoran terkenal lho dan makanannya pun sehr teur hehheh. Agak sedih juga ketika aku pesan camilan di jam itu (sekitar 17.00) sudah banyak yang habis.

tapi setelah aku tahu (8juni2015) jadi tidak menyesal sekaligus bersyukur. tidak menyesal tidak pesan makanan karena ternyata di Oen menjual menu tidak halal (bahan pork dan bacon), sedangkan bersyukur karena saat itu aku hanya pesan es krim.
jadi menurutku untuk kehati-hatian bagi yang muslim tidak makan di sana, apalagi buku menu yang disuguhkan tidak berbahasa indonesia. agak sulit juga memahaminya. contohnya aku 😥

sendiri? kenapa ragu <3

sendiri? kenapa ragu ❤

Adzan maghrib berkumandang, aku putuskan untuk segra beranjak. selain itu sepertinya masih banyak yang menunggu di kursi tunggu. Ketika aku membayar sonny boy di kasir, eh di pojokan ada Koran yang awut-awutan 😥

beginilah suasana senja itu :)

Yah semoga saja karena waktu itu pengunjung penuh. Semoga saja karena akhir pekan yang panjang sehingga hampir tak terkontrol. Untuk sebuah pengalaman makan di restoran ternama bernilai sejarah, paling tidak sudah hilang rasa penasaran 🙂

Cacil:
*Toko Oen di Jalan Jenderal Basuki Rakhmad (0341) 364052, Malang
*harga Sonny Boy 27.000+tax 2.700

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s