Beranda » ceritaku » Kesempatan Jalan Sehari #SekitarBengawan

Kesempatan Jalan Sehari #SekitarBengawan

Hari itu selasa, 14 April 2015. Harusnya aku tidak libur karena memang jadwalnya masuk dan tak ada warna merah di kalender. Namun hari itu aku gunakan benar untuk belajar di sekelilingku. Selama ini aku terlalu asyik dengan tempat menarik di luar kota, sedangkan di sekitar Bengawan aku malah acuh πŸ˜₯ kini saatnya beraksi ^_^

Ia pun belajar tentang yang ia dengar, lihat, dan rasakan.

Ia pun belajar tentang yang ia dengar, lihat, dan rasakan.

Jam masih menunjukkan angka 10an entah lebih atau kurang. Aku dan seorang kawan beserta anaknya memulai perjalanan sederhana ini. Anak itu sengaja kami ajak meski awalnya kawanku agak ragu. aku yakinkan bahwa aku bisa memboncengkan mereka. Kalau tidak sekarang untuk mengajak lalau kapan lagi? Pikirku. sebab kualitas itu sangat diperlukan bagi orang seperti kami yang menghabiskan hari untuk mengabdi pada pendidikan. semoga Tuhan memberikan pahala atas karunia ilmu yang kami bagi: amin.

Lokananta di siang hari itu :)

Lokananta di siang hari itu πŸ™‚

Pertama, kami menyusuri tetangga kami: Lokananta. Yap, benar sekali sebenarnya tempat aku belajar dekat dengan Lokananta. Tempat rekaman keren yang dinilai sebagai tempat rekaman pertama di Indonesia. Tapi ternyata aku baru sempat mengunjunginya sekarang. Betapa malunya aku.

Museum Dullah yang ternyata tutup :)

Museum Dullah yang ternyata tutup πŸ™‚

Kedua, kami melaju melalui jalan Slamet Riyadi lurus ke timur karena jalan ini searah setelah perempatan Gendengan, yakni perempatan antara TB. Toga Mas, RS tentara biasanya DKT, Gereja Khatolik. Pokoknya dekat Grand Mall. Rencana kami akan belajar berbagai lukisan di Museum Dullah. Namun kami belum beruntung. Gerbang Museum Dullah tertutup dan tergembok, meski beberapa jendela terbuka dan ada selang.

Masjid Al-Wustho Surakarta sejuk dan damai :)

Masjid Al-Wustho Surakarta sejuk dan damai πŸ™‚

Ketiga, karena sudah masuk jam makan siang kami akhirnya memutuskan untuk sembayang zuhur di masjid bersejarah: Al Wustho. Setahuku masjid Al Wustho adalah masjid bagi kerajaan MAngkunegaran. Tepatnya di sebelah barat beteng Mangkunegara.

selat segar Viens: salah satu warung selat yang laris meski sebenarnya selat segar di Sala hampir sama semua rasanya :)

selat segar Viens: salah satu warung selat yang laris meski sebenarnya selat segar di Sala hampir sama semua rasanya πŸ™‚

Keempat, agenda selanjutnya setelah menikmati kedamaian, ketenangan, kenyamanan, kesejukan, dan sejuta rasa nikmat di masjid kami melanjutkan adalah makan siang. Kami mengisi perut yang keroncongan di salah satu tempat makan yang ramai meski kini rasanya tidak seenak dulu menurutku ehehhhe. Viens selat. Siang panas makan yang segar dengan minuman tEh manis hangat. Wow ini kesukaanku.

Kentongan Gugah Swara kalau tidak salaha namanya di pintu depan Monumen Pers Nasional: my friend and her daughter :)

Kentongan Gugah Swara kalau tidak salaha namanya di pintu depan Monumen Pers Nasional: my friend and her daughter πŸ™‚

Kelima, perjalanan di jam 13an itu kami lanjutkan ke Monumen Pers Nasional. Sering aku lewat sejak berseragam abu-abu, tapi baru kini bisa mendatanginya. Banyak yang bisa dipelajari. Mungkin tulisan mengupas lebih dalam bisa aku tulis lain waktu. Tempat ini saya rekomendasikan bagi yang suka sejarah.

Inilah pengalaman saya sehari di sekitar Bengawan. Belum tuntas memang karena belajar tak bisa dihitung dengan waktu. Lain waktu aku ingin mengulangi kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s