Beranda » ceritaku » Ingin Mendatangi (kembali) Monumen PETA #Blitar

Ingin Mendatangi (kembali) Monumen PETA #Blitar

aku mengambil gambar  Monumen PETA dari depan pagar keburu PEnatara tutup

aku mengambil gambar Monumen PETA dari depan pagar keburu PEnatara tutup

Siang jelang sore sebelum berangkat ke Penataran dengan diantar kawan baik, kami melewati Monumen PETA di Blitar. Saying sekali baterai kameraku habis. Jadi, mulai dari istana gebang hingga penataran aku memakai kamera di telepon genggam yang kualitasnya tak seberapa . . . iyalah lha sudah jadoel.

Sebelum berangkat aku menunggu di depan sebuah rumah. Rumah itu bertuliskan Museum Pemberontakan PETA yang masih dalam tahap pembangunan. Aku berharap museum itu bisa aku kunjungi lain waktu. Membicarakan Monumen PETA aku juga jadi teringat Monumen SYU yang berada di depan Gereja Merah Kediri.

semoga ketika aku kembali ke Blitar museum ini sudah bisa menjadi tempatku belajar

semoga ketika aku kembali ke Blitar museum ini sudah bisa menjadi tempatku belajar

Aku meminta kawanku menghentikan laju kudanya di depan Monumen PETA. Monumen ini terletak persis di depan Taman Makam Pahlawan Raden Widjaja. Keduanya sekarang berada di Jalan Soedanco Soepriyadi. Menurut yang aku baca di sekitarnya juga ada Monumen Potlot. Monument Potlot adalah tempat bendera merah putih dikibarkan tepat di hari pemberontakan PETA. Tapi aku tak menemukannya. Selain itu juga ada Monumen Trisula.

Taman Makam Pahlawan Raden Widjaja dengan tempat parkir yang luas.

Taman Makam Pahlawan Raden Widjaja dengan tempat parkir yang luas.

Ah memang seharusnya aku lebih lama di Blitar. Masih banyak tempat di Blitar yang belum aku datangi untuk belajar. Blitar memang sebuah kota kecil tapi memiliki kedudukan penting sejak zaman kerajaan hingga ontran-ontran peristiwa pada 30 September berdarah.
PETA memang buatan Jepang yang kala itu menjajah Indonesia meski hanya seumur jagung. Pemberontakan yang terjadi pada 14 Februari 1945 ini disebabkan adanya penindasan terhadap romusha. Romusha tidak jauh berbeda dengan rodi saat Belanda menjajah. Merka diperlakukan dengan tidak manusiawi. Selain itu penjajah Jepang juga menjadikan para perempuan Indonesia sebagai pemuas nafsu.

Sebelum pemberontakan terjadi, konon Soekarno juga sudah mengingatkan dengan matang. namun Sorpriyadi tetap semangat untuk mrlaksanakannya. Rencana pemberontakan akhirnya tercium oleh Jepang. Karena itu, tempat yang diserang sudah dikosongkan. Para pejuang akhirnya banyak ditangkap. Namun Soedanco Soepriyadi hingga sekarang tidak diketahui rimbanya.

Monument memang hanya sebuah tugu atau patung, namun di balik patung itulah kita harus belajar betapa semua hal yang kita cita-citakan harus diperjuangkan. Mari kita belajar dari berbagai sisi untuk sebuah masalah. Sebab hidup adalah sebuah perjuangan yang membutuhkan kecerdasan dan keberanian menyelesaikan masalah dalam menjalaninya.

Blitar suatu hari aku akan datang lagi 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s