Beranda » ceritaku » Candi Penataran: kecanduan setelah telantar #Blitar

Candi Penataran: kecanduan setelah telantar #Blitar

pemandangan candi dari arah pagar di siraman senja itu

pemandangan candi dari arah pagar di siraman senja itu

pemandangan dari candi utama

pemandangan dari candi utama

Ini masih tentang pengalaman pada Agustus tahun lalu ketika aku dolan sendirian kemudian telantar. Akhirnya, aku dibantu warga-warga Blitar yang baik. Cerita ‘tersesat’ tentu sudah hilir mudik di tulisanku tentang Blitar lainnya.

pintu masuk museum yang sudah tutup hiks

pintu masuk museum yang sudah tutup hiks

jam kunjung di Museum Penataran dan aku tak bisa masuk :'(

jam kunjung di Museum Penataran dan aku tak bisa masuk 😥

Warga Blitar itu sangat baik. Dia membawaku ke Museum Penataran sebelum aku diantar ke candi. Sayang sekali ketika aku sampai di sana museum sudah tutup. Padahal aku ingin sekali menikmati karya agung tersebut. Namun, aku tak patah semangat nyatanya Tuhan Mahabaik kepadaku. Sore jelang senja itu aku disambut semburat jingga di pelataran Penataran.

Penataran adalah sebuah candi di Jawa Timur. Di sekitar kaki Gunung Kelud itulah sebuah tumpukan batu bersejarah terdampar. Candi Penataran juga disebut Candi Palah karena adanya Prasasti Palah di sana. Ceritaku bukan candinya atau kesejarahan candi karena informasi ini dapat kalian lihat di berbagai situs kesejarahan ehhehehehe. Aku cuma ingin berbagi pengalaman betapa terpesonanya mataku di sana.

Jika kalian pernah ke Borobudur atau Prambanan, kompleks Penataran tak sebesar dua candi tersebut. Namun keindahan dan kemegahan itu sangat terpancar dari siraman matari sore itu. Ketika tiba aku tak sabar untuk langsung berkeliling. Dari satu bagian ke bagian lainnya. Kebetulan sekali waktu itu ada kunjungan dari anak-anak SMA. Dan kawan baik itu masih membuntutiku berkeliling heheehehe: katanya takut aku hilang 😀 lalu kubilang: tidak perlu lho mengikuti saya nanti njenengan sayah. Lantas aku pun ditinggal muteri kawasan candi heheheh.

kolam yang indah bukan??

kolam yang indah bukan??

reliefnya oke deh pokoknya

reliefnya oke deh pokoknya

Setelah puas berkeliling, aku diajak ke sejenis kolam. Mungkin kolam ini dulunya pemandian. Airnya jernih dan agak kehijaubiruan mungkin karena lumutnya. Cantik sekali lho karena reliefnya oke. Tapi sebel juga. Banyak orang tidak bertanggung jawab dengan membuang ranting ke kolam. Ada juga yang membuang uang logam eh emang ini di Spanyol??????

Kami meninggalkan udara kolam yang sejuk kembali ke atas. Berjalan menyusuri kawasan candi, kami berhenti dan istirahat di salah satu bagian candi, tepatnya di Pendopo Teras Candi Penataran. Di sinilah kami ngobrol dan diskusi tentang Blitar-Surakarta dan segala perniknya. Sayang, seandainya Kelud tak batuk pada Februari 2014, kawan yang baik itu akan mengantarku ke sana. Melewati terowongan dan menikmati keindahan Kelud siapa yang bisa menolak coba??? Tapi sayang lagi lagi sayang, aku tak memungkinkan ke sana, apalagi dalam hitungan jam aku harus kembali ke Rumah.

Kembali ke Candi Penataran yang dibagi menjadi beberapa bagian.

ini arca penyambut di depan pintu

ini arca penyambut di depan pintu

Pertama tentu saja halaman depan. Kita akan disambut dua patung dwarapāla, sebagai penjaga pintu. Patung seperti ini memang sering dijumpai di bangunan candi.

BAle agung dengan tangganya

BAle agung dengan tangganya

Kedua, bangunan Bale Agung yang dililit ular naga meski masih polos tanpa relief. Bale agung mempunyai empat tangga yang seperti dililit ular naga. Di tempat ini ketika aku di sana, dipakai anak-anak untuk bermain bola hehehe. Sangat nyaman memang karena di atasnya bukan batu meski badannya batu. Di atas bale agung ini rerumputan. Karena itu, aku yakin dengan yang disampaikan Wikipedia mungkin ada atap dan tiang yang menaunginya sehingga ada tanah di sana.

salah satu sudut dari Pendopo Teras candi

salah satu sudut dari Pendopo Teras candi

Ketiga, Pendopo Teras. Tempat yang aku pakai untuk istirahat sekaligus ngobrol ini juga rerumputan. Pendopo Teras ini dulu digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau tempat peristirahatan raja dan bangsawan lainnya. Seperti pada Bale Agung, Pendopo Teras juga dililit teras ular yang ekornya saling berbelitan, kepalanya tersembul ke atas di antara pilar-pilar bangunan. Kepala ular sedikit mendongak ke atas, memakai kalung dan berjambul. Pada dinding Pendopo Teras terdapat relief-relief yang menceritakan kisah tentang Bubhuksah dan Gagang Aking yang di dalam cerita rakyat dikenal dengan kisah Bela-belu dan Dami aking, Sang Setyawan dan Sri Tanjung.

Candi Angka Tahun

Candi Angka Tahun

Keempat, candi angka tahun. Masyarakat Jawa Timur lebih mengenalnya dengan nama Candi Brawijaya, terkadang ada juga yang menyebutnya Candi Ganesha karena di dalam bilik candinya terdapat sebuah arca Ganesha dari batu dalam posisi duduk di atas padmasana. Lokasi candi ini di sebelah tenggara bangunan Pendopo Teras. Pintu masuk candi terletak di bagian barat, pipi tangganya berakhir pada bentuk ukel besar dengan hiasan tumpal yang berupa bunga-bungaan dalam susunan segitiga sama kaki. Bagian atas bilik candi pada batu penutup cungkup terdapat relief Surya Majapahit yakni lingkaran yang dikelilingi oleh jurai pancaran sinar yang berupa garis-garis lurus dalam susunan beberapa segitiga sama kaki. Relief Surya Majapahit juga ditemukan di beberapa candi yang lain di Jawa Timur ini dalam variasi yang sedikit berbeda sebagai lambang kerajaan. Di bagian atasnya terdapat kepala raksasa kala yang disebut juga Banaspati yang berarti raja hutan. Penempatan kepala kala di atas relung candi dimaksudkan untuk menakut-nakuti roh jahat agar tidak berani masuk komplek percandian. Di sebelah kiri Candi Angka Tahun terdapat arca wanita yang ditafsirkan sebagai arca perwujudan Gayatri Rajapatni.

Arca Dwarapala di halaman tengah

Arca Dwarapala di halaman tengah


Kelima, halaman tengah candi. Di sini ada dua arca dwarapala yang lebih kecil dari arca di depan pintu masuk. Di halaman ini juga terdapat sisa-sisa batuan dan pondasi candi sepertinya reruntuhan. Banyak kemungkinan berkaitan sisa batuan dan reruntuhan pondasi. Banyak pula guna berkaitan dengan pondasi. Namun apakah itu? Aku tak begitu tahu.

Photo0371

ini salah satu kala atau banaspati

ini salah satu kala atau banaspati

Candi Naga

Candi Naga

Keenam, candi naga di bagian dalam halaman tengah yang hanya tersisa bagian kaki dan badan. Nama Candi Naga digunakan untuk menamakan bangunan ini karena sekeliling tubuh candi dililit naga dan disangga tokoh-tokoh berbusana raya seperti raja sebanyak sembilan buah, masing-masing di sudut bangunan, bagian tengah ketiga dinding dan di sebekah kiri dan kanan pintu masuk. Para Batara menggambarkan makhluk kahyangan, yaitu para dewa dilihat berdasarkan ciri busana raya dan perhiasan mewah yang dikenakannya. Salah satu tangannya memegang genta (lonceng upacara) dan tangan yang lainnya menopang tubuh naga yang melingkar di bagian atas bangunan dalam keadaan berdiri dan menjadi pilaster bangunan. Masing-masing dinding tubuh candi dihiasi relief-relief buatan yang disebut dengan motif medalion. Pintu masuk candi terletak di barat laut. Di depan telah disampaikan bahwa gambar naga di sangga 9 orang ini mengisyaratkan sebuah candrasengkala ”Naga muluk sinangga jalma” yang berarti angka tahun 1208 Saka atau 1286 M dimasa pemerintahan Kertanegara.

Candi Induk dari depan di halaman belakang

Candi Induk dari depan di halaman belakang

Ketujuh, candi induk atau utama di halaman belakang. Pada masing-masing sisi tangga terdapat dua arca mahakala. Sekelling dinding candi pada teras pertama terdapat relief cerita Ramayana dibaca dengan arah prasawiya, dimulai dari sudut barat laut. Teras kedua sekeliling dinding dipenuhi pahatan relief ceritera Krçnayana yang alur ceriteranya dapat diikuti secara pradaksina (searah jarum jam). Sedangkan di teras ke tiga berupa relief naga dan singa bersayap. Teras ketiga bentuknya hampir bujur sangkar, dinding-dindingnya berpahatkan arca singa bersayap dan naga bersayap. kepalanya sedikit mendongak ke depan sedangkan singa bersayap kaki belakangnya dakam posisi berjongkok sedang kaki depan diangkat ke atas.

salah satu relief di candi utama

salah satu relief di candi utama

Photo0364

selang seling antara lingkaran dan persegi panjang di relief candi utama

selang seling antara lingkaran dan persegi panjang di relief candi utama

Pada sisi sebelah barat daya halaman terdapat dua buah sisa bangunan. Sebuah candi kecil dari batu yang belum lama runtuh yang dinamakan klein heligdom atau bathara kecil oleh orang Belanda. Nampaknya candi inilah yang mula-mula dibuat bersamaan dengan Prasasti Palah melalui upacara pratistha tersebut. Sebuah sisa yang lain berupa pondasi dari bata.

Nah, mungkin keterangan yang aku tulis belum lengkap. Namun di tengah ketidaklengkapan ini aku sangat ingin kembali ke sana. Mengulang kembali ke sana di tengah siraman mentari senja. Dan di ujung senja dan udara yang semakin dingin itu aku diajak kembali ke Kota Blitar meninggalkan Nglegok menuju stasiun.

jam kunjung Candi Penataran.

jam kunjung Candi Penataran.


Sejarah yang tercatat di relief candi-candi sungguh membuatku kembali mengagumi betapa peradaban kita begitu tinggi. Sungguh di candi terbesar di Jawa Timur ini membuatku kecanduan dan ingin kembali ke Nglegok Blitar.

Iklan

One thought on “Candi Penataran: kecanduan setelah telantar #Blitar

  1. Ping-balik: Belajar di Candi Singasari #Malang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s