Beranda » ceritaku » Tidak Klimaks di Balik 98

Tidak Klimaks di Balik 98

di bali 98
Sore ini hujan turun lagi. Padahal aku sudah janjian dengan Bunda Via akan menikmati film besutan Lukman Sardi. Aku sungguh berharap banyak dari film tersebut. Mengingat kembali betapa keoknya negeri ini. Mengerikannya kerusuhan yang merajalela. Jatuhnya moral manusia Nusantara yang lemah lembut. Serta berbagai bercak merah di setiap halaman ketika itu.

Aku menaruh impian bahwa dari film ini manusia Indonesia baru mampu memaknai negeri dari berbagai sisi. Tapi flim ini begitu singkat, cepat, dan tak klimaks. Cuplikan yang ditampilkan perusahaan Pak HT sangat wow sehingga membuat aku berspekulasi jauh terhadapnya.
Iya memang tidak bisa membuat cerita hebat di pertengahan mei 1998 tersebut ke dalam waktu 2jam. Tapi aku pikir, aku akan menemukan kisah rinci tentang para mahasiswa yang berjuang di masa aku masih kelas 5/6 SD. Aku pikir aku akan menemui detail kematian para mahasiswa. Aku pikir juga akan menemukan sebuah tempat yang aku pernah merinding saat melewatinya meski sekali: Trisakti. Tapi aku tak sampai mendapatkan itu.

Tapi okelah aku harus akui di adegan awal, membuatku cukup mengalirkan bulir-bulir bening di sudut mataku. Ketika etnis lain diperlakukan tak adil oleh orang yang menganggap dirinya pribumi: menjarah. Ketika penjarahan tak hanya berupa harta, tapi juga kehormatan, keperawanan, bahkan nyawa. Aku sekilas teringat “Iblis Tak Pernah Mati” milik Pak Seno Gumira Ajidarma tentang seorang perempuan Tiong Hoa yang ramai-ramai diperkosa di tengah jalan ketika kerusuhan terjadi. Dia meminta pertolongan para petugas. Tapi lacur: dia digilir para petugas dan dimasukkan dalam jeruji besi. Ya benar, saat itu aku masih kecil. Namun, mataku menyaksikan ontran-ontran tersebut di kotak ajaib. Aku bisa jadi belum paham, tapi aku bisa membaca di berbagai surat kabar ngerinya penculikan dan perlakukan terhadap para mahasiswa. Aku bisa jadi kini hanya soktahu terhadap perjuangan para mahasiswa itu, tapi aku tak bisa soktahu tentang perasaan mereka ketika menyaksikan detik-detik perjuangan di jalan berliku.

Kini di usiaku sekarang, masih bertanya sama persis yang diucapkan tokoh Soeharto dalam film tersebut: Apakah keadaan akan menjadi lebih baik jika aku (Soeharto) mundur?

Apakah kini negeri kita lebih baik dibandingkan tiga puluh tahun lebih di bawah kekuasaan Keluarga Cendana? Atau justru terjadi kemunduran?

Mungkin aku yang bersikap dan berharap berlebhan terhadap film controversial ini.

Iklan

2 thoughts on “Tidak Klimaks di Balik 98

    • iya mas sepakat. awalnya kupikir wah akan banyak yang terungkap, ternyata cuma perjalan seseorang. meski lumayan sih dibanding film horor yang GJ hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s