Beranda » ceritaku » Aku Penyampah

Aku Penyampah

Sepekan lalu aku merasa gembira karena menemukan satu buku bagus dari NH Dini. Awalnya aku ingin membeli buku salah satu penulis baru yang menyenangkan caranya bercerita: entah apakah aku akan membelinya atau tidak. Tapi buku ibu pelancong tersebut sudah menghipnotisku untuk membawanya pulang.

Baiklah aku hanya ingin menceritakan salah satu bagian penting dari buku itu yang menurutku sangat bagus untuk aku tiru, mungkin juga kamu.

Bu Dini menceritakan hubungannya dengan sang bunda. Nasihat-nasihat yang mengena tersebut diceritakan dengan apik. Salah satunya adalah nasihat untuk tidak menyusuh. Apakah menyusuh itu?

Menyusuh adalah perbuatan untuk membuat sarang, misalnya susuh manuk berarti sarang burung. Bu Dini memang orang Semarang sehingga aku sebagai orang bersuku JAwa mudah untuk menangkap kalimat-kalimatnya. Nasihat tersebut dikeluarkan oleh Dini ketika menceritakan tentang kepindahannya dan ia harus merelakan beberapa barang agar tidak terlalu memenuhi ruangan. Aku lupa tepatnya di bagian berapa dan halaman berapa, yang jelas dari buku Pondok Baca Kembali ke Semarang.

Aku harus mengakui, simbokku tersayang sangat heran dengan kebiasaanku nyusuh atau menyampah. kebiasaan itu juga tidak terjadi setahun dua tathun terakhir. sudah bertahun-tahun dan mungkin terjadi sejak aku kecil. Ada bungkus bagus disimpan, ada kertas bagus disimpan, bahkan dulu ketika SMA aku bersepeda berhenti di saat lampu merah dan di dekatku ada pamflet bagus, pasti aku ambil dan membawanya pulang. berlanjut hingga sekarang.

Apakah ini yang disebut belum bisa move on?
Wealah bisa jadi kan?

Aku tersadar ketika simbokku mengingatkanku pada beberapa kardus sepatu berbungkus kertas kado yang berisi kertas-kertas di masa aku SMP (atau mungkin juga sampai aku kuliah, karena aku lupa). Beliau bertanya “Mau diapakan itu semua? Toh sudah tidak terpakai.” Aku tidak bisa menjawab tapi hatiku hanya berkata bahwa di sanalah banyak memori tersimpan.

Lalu simbok mengangkat beberapa sepatu sudah kucel, kumel, bin dekil. BEliau yakin bahwa aku tak akan pernah memakainya lagi.
sementara aku di dalam hati berkata “Ini kan sepatu pernah aku pakai untuk ini itu dan ini itu . . . .”

Aku tidak berani menjwab pertanyaan mamaku. aku pun diam saja ketika salah satu sepatu yang pernah aku sayang-sayang masuk ke dalam keresek putih, diikat, lalu dimasukkannya ke dalam tong sampah. aku diam saja.

Itu baru kertas dan sepatu, belum lagi baju, tas, atau barang lain yang seringkali sudah diingatkan oleh biyung tercinta untuk menguranginya.

Lalu tersirat dalam benakku bahwa aku seringkali mengingat ini itu, peristiwa ini itu, dengan si ini dan si itu, pernah begini dan begitu. PAdahal semua sudah berlalu dan seperti lagu Inul “MAsa lalu biarlah masa lalu. . .” NAmun, kenyataannya sesekali masa lalu itu berkelebat, membayang dan menggoda.

LAntas aku berkata lagi, misalnya sepatu toh aku punya lebih dari satu sepatu mengapa gerangan aku susah membuang sepatu bobrok dan tak mungkin terpakai lagi?

Begitu juga dengan baju. hampir setiap bulan atau minimal dua bulan ada saja yang aku beli.Lalu dengan alasan apa rupanya aku harus menyimpan dan menyimpan kain-kain yang belum tentu akan aku pakai lagi?

Juga dengan hasil jepretan sejelek apapun aku pasti masih menyimpan poto jepretan jelek itu. Aku masih merasa sayang untuk menghapusnya. Sementara tempat file makin habis untuk barang sampah. dan masih banyak lagi lagi ddan lagi. . .

Akhirnya . . .
Harus kuakui aku penyampah.
Tapi. Apa iya sih aku belum bisa move on?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s