Beranda » ceritaku » Panik? Nggak lagi-lagi deh #2

Panik? Nggak lagi-lagi deh #2

Anakku datang kepada bunda partnerku dan bilang
“Bunda aku panas tinggi”
Wew. . . . . kawanku kaget sekaligus tertawa. Begitu pun aku tertawa geli dengan keluhan anakku. Bukan tidak percaya atau menertawakan dalam seginegatif. Tapi di benak kami: mengapa ananda ganteng ini baru mengeluh sekarang? Saat matanya mulai panas dan berair. Memang dia panas. Dan aku yakin tinggi: mangar-mangar. Ini beda dengan aku yang dulu.

Dulu awalan aku jadi bunda, benar-benar panikan. Seperti yang aku ceritakan sebelum ini. Salah satu yang bikin aku khawatir bin panik bin dag dig dug adalah ketika ada anak panas.

Sebenarnya setiap penyakit bersumber dari perut. Jika kita makan sembarangan, tak pelak penyakit pun datang. Dari perut yang lapar, penyakit senang sekali datang. Berbagai macam alasan atas tindakan kita terhadap perut membuat penyakit datang bertubi-tubi dan kontinyu.

Berbicara sakit, ternyata anak-anak lebih mudah sakit dibanding
orang dewasa, terutama demam. Namun jangan teralu panik dengan demam anak-anak. Sebab ketika anak maupun orang dewasa demam, sebenarnya daya tahan tubuh sedang memerangi kuman nakal di dalam tubuh.
Nah, kapan sebenarnya kita harus bertindak terhadap demam anak?

Pertama, kita harus benar-benar mengetahui suhu tubuh anak. Suhu tubuh tidak bisa diukur dengan punggung tangan. Sebab, punggung tangan tidak valid: sangat subyektif. Karena itu gunakan thermometer untuk mengukur suhu tubuh anak. Bila suhu tubuh masih 37-37.5 derajat, itu masih oke. Panas harus kita tangani segera dengan memberi obat ketika suhu mencapai 38 derajat. Di angka ini kita harus waspada.

Biasanya terlalu tinggi suhu tubuh akan membuat telapak tangan dan
kaki dingin. Hal lain yang perlu diwapadai adalah jenis penyebab demam. Demam biasanya akan muncul bila minum air es setelah olah raga. Karena itu disarankan untuk tidak minum es setelah olah raga.
Ketika suhu tubuh anak sudah mencapai 40 derajat, kita harus membawanya ke dokter. Tindakan ini terlebih jika ada riwayat kejang. Riwayat kejang termasuk hal yang diturunkan dalam keluarga. Karena itu harus ekstrahati-hati.

Untuk antisipasi saat suhu tubuh 38 derajat (sebelum 38.5), bunda dan yanda bisa memberikan paracetamol. Lebih baik menggunakan jenis obat yang mengandung paracetamol dibandingkan ibuprofen dari berbagai merek. Mengapa paracetamol bukan ibuprofen? Setelah mengikuti kuliah kesehatan dengan para bunda yanda bersama dokter anak, saya tahu bahwa kandungan ibuprofen pada obat penurun panas akan membuat ananda mual. Saya memang tidak paham kandunga di dalam ibuprofen. Namun, lebih baik menghindarinya.

Nah demikian sedikit tentang, panik? Nggak lagi deh!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s