Beranda » ceritaku » Istana Gebang: Rumah Masa Remaja Mas Karno #Blitar

Istana Gebang: Rumah Masa Remaja Mas Karno #Blitar

Istana Gebang dari kejauhan: nyaman nian

Istana Gebang dari kejauhan: nyaman nian

Banyak orang berpikir bahwa Gebang adalah rumah masa kecil Bung Karno Sang Proklamator. Tapi ketika saya memutuskan untuk datang ke sana, ada beberapa artikel yang saya baca. Artikel itu salah satunya mengungkapkan bahwa rumah yang berada tak jauh dari Bonrojo Kota Blitar itu bukanlah rumah masa kecil Bung Karno. Whaaaattttt!!!!

gong perdamaian di halaman Istana Gebang

gong perdamaian di halaman Istana Gebang

Ah yang bener? Saya seakan tak percaya. Tapi saat saya bisa langsung menapakkan kaki di sana, keraguan saya mulai menguap. Benar saja, yang ada di omah loji tersebut adalah kamar ketika Bung Karno remaja dan hanya dipakai sesekali ketika beliau pulang sekolah dari Surabaya. Jadi bisa disimpulkan Soekarno bukanlah orang papa. Ya iyalah zaman segitu keluarga punya rumah oke dengan satu kamar utama (ples kamar mandi dalam), dua kamar anak (untuk Soekarno dan kakak perempuannya), juga dua kamar tamu masing-masing untuk tamu perempuan dan laki-laki. Keren boo!

ketika masuk dan mengisi keterangan di buu tamu, seperangkat kursi duduk ini menyambut kita di ruang tamu.

ketika masuk dan mengisi keterangan di buu tamu, seperangkat kursi duduk ini menyambut kita di ruang tamu.

seperangkat kursi ini di ruang tengah atau di samping ruang tidur utama dan berdekatan dengan mesin ketik

seperangkat kursi ini di ruang tengah atau di samping ruang tidur utama dan berdekatan dengan mesin ketik

Kenyataan ini diperkuat dengan adanya tempat terpisah antara kamar mandi, dapur, ruang makan, dengan rumah utama. Jadi di rumah inti ketika kita masuk akan disambut berbagai perabotan untuk duduk, masuk ke sebelah kanan kamar Karno muda, sedangkan di sebelah kiri berturut-turut: ruang tidur tamu laki-laki, tamu perempuan, kamar kakak Soekarno, kamar orang tua Soekarno. Di sebelah kanan kamar orang tua Bung Karno adalah tempat duduk yang mungkin berfungsi sebagai ruang keluarga.

Keluar dari rumah inti, kita akan melihat sederatan kamar yang ternyata kamar mandi, dapur, dan tempat penyimpanan perabotan. Di salah satu ruang tersebut aku menemukan tongkat/papan doa yang dikirim Ibu Sari Dewi (istri Bung Karno dari Jepang) yang sedianya akan dipasang pada makam Pak Karno ketika dipugar. Entah dengan alasan apa tongkat bertulisan huruf Jepang (entah kanji atau hiragana) tersebut masih mangkarak.

inilah papan doa yang aku temukan di salah satu ruang di deretan antara dapur dan kamar mandi di Istana Gebang

inilah papan doa yang aku temukan di salah satu ruang di deretan antara dapur dan kamar mandi di Istana Gebang

Di antara deretan kamar tersebutlah keluarga Soekarno kumpul untuk makan bersama. Seperangkat gamelan juga terdapat di sana. Sumur timba (yang lubangnya besar bukan pompa) pun menyambut perjalanan pengunjung seiring keluar dari istana tersebut. Saat keluar kita menuju halaman belakang. mengikuti alr jalan kita akan sampai di garasi. Mobil R1 kita ada di sini. Di sebelah kanan rumah inti terdapat ruang kesenian. Kebetulan sekali ketika aku ke sana sedang ada pertunjukan: tarian yang hampir sama ketika aku di Kediri sebelumnya. Saking banyaknya pengunjung aku tak dapat mengambil gambar. Namun sekilas aku tahu bahwa kebanyakan penari adalah anak-anak. Keren ya melestarikan budaya bangsa sendiri: ayo menari.

mobil R1 yang terparkir di garasi

mobil R1 yang terparkir di garasi

Harus diakui Soekarno adalah salah satu dari sekian tokoh penting di Indonesia. Meski begitu di belakang namanya yang besar, kita tak boleh melupakan nama Tan Malaka. Jika rumah Soekarno saja bisa semewah ini (sekarang diurus oleh pemkot), bagaimana dengan rumah tokoh Tan Malaka yan tak kalah perjuangannya terhadap kemajuan bangsa kita. Ah aku terhenyak dan berharap bisa datang ke rumah tokoh dari tanah Sumatera yang kini rumahnya telah rapuh dimakan usia.

soto koya di halaman istana gebang: 6.000 mantap

soto koya di halaman istana gebang: 6.000 mantap

Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku lapar, tapi sebelum makan aku tanyakan ke pak parkir terkait transportasi ke penatara seperti yang aku dulu ceritakan. Karena susah ah lebih baik makan dulu: soto koya. Selama ini aku Cuma merasakan rasa soto ini dari mi instan, kini aku nikmati kesegarannya di halaman istana gebang.

Nantinya di samping Istana Gebang ini kayaknya mau ada museum baru untuk memperingati PETA. Semoga saja dipercerpat agar lebih lengkap bila ingin belajar di Blitar.

calon tempat belajar baru di bumi PETA

calon tempat belajar baru di bumi PETA

Nb: di istana gebang kita tidak dipungut biaya alias geretongan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s