Beranda » ceritaku » Omah Jadoel (masih) #Blitar

Omah Jadoel (masih) #Blitar

aku dan omah jadoel dari depan: monggo

aku dan omah jadoel dari depan: monggo


Setelah merasa teroesir dari Museum dan Makam Pak Karno, aku melanjukan perjalanan ke Kelurahan Sentul untuk menunggu angkuta kuning yang sedianya mengantarkan ke Penataraan. Okelah aku berjalan menyusuri rangkaian mobil dan motor, juga sedikit becak. Kutengok ada kebon binatang mini. Yuhuu kenapa tak sekalian mampir. Wooii ternyata memang benar mini. Dengan 2500 rupiah aku membeli tiket. Di kebun binatang ada buaya darat beneran (buaya itu hewan darat lho), kura-kura, kera, dan yang menarik ada burung merak. Aku memang pernah melihat merak, tapi yang ini keren banget. Bulunya berdiri bak kipas reraja. Menggoda betina-betina agar mau dibuahinya. Cieee merak mencari jodoh.

tiket masuk Kebun Binatang Mini Sentul Kota Blitar

tiket masuk Kebun Binatang Mini Sentul Kota Blitar

Aku tak lama di kebun binatang Kota Blitar. Perjalanan masih dengan jalan kaki aku lanjutkan. Di pertigaan Kalurahan Sentul inilah mmt kecil Omah Jadoel kubaca. Aku pikir daripada bengong nungguin yang tak kunjung datang mendingan cari sesuatu yang bermanfaat. Omah Jadoel ternyata tak jauh dari tempat aku menunggu angkuta. Bahkan dari sini aku juga bisa naik. Sambutan replica delman dan gerobak yang ditarik sapi membuatku langsung terpesona.

menyambut di antara anggota punakawan dan nenek yang bersedih

menyambut di antara anggota punakawan dan nenek yang bersedih katanya air mata bisa menetes dari mata kiri patung nenek

Masuk dengan 10ribu rupiah kita akan dimanjakan berbagai barang antik, kuna, indah, menarik, dan berharga. Rasa terima kasih terhadap pemilik yang mau dengan rela mempertontonkan semua barang tak bernilai itu. Memang tidak free alias berbayar, cuma apalah arti uang sepuluh ribu dibandingkan berbagai ilmu yang didapat di Omah Jadoel. Ceile promosi: biar saja deh!!

koleksi kain batik yang digantung di samping pintu masuk. di bagian atap dan beberapa dinding juga dihiasi kin batik.

koleksi kain batik yang digantung di samping pintu masuk. di bagian atap dan beberapa dinding juga dihiasi kin batik.

Aku sungguh senang bisa ke sana. Petugas penarik tiket menjelaskan kepadaku barang yang ada di rumah yang menurutku garasi tersebut. Tak disangka di tengah aku ngobrol dengan mbak petugas yang aku lupa namanya itu, datanglah sang pemilik. Ketika aku tanya, sejak kapan mulai mengumpulkan barang-barang ini, beliau menjawab bahwa barang antik dan indah itu sudah ada di rumahnya. Sejak kecil Bu Ida sudah mengetahui barang itu di gudang disimpan oleh orang tuanya. Baru beberapa bulan terakhir seiring semakin berkurangnya usia, Bu Ida berpikir kalau barang itu di gudang tidak akan bermanfaat sama sekali. Sambil terus mengumpulkan akhirnya dilahirkannya Omah Jadoel tersebut.

salah satu sudut koleksi keramik, masih banyak koleksi keramik lainnya.

salah satu sudut koleksi keramik, masih banyak koleksi keramik lainnya.

Si ibu cantik ini ternyata keturunan Tiong Hoa tapi bersuami orang Blitar asli. Karena itu selain barang bernapas Bung Karno mendominasi hingga koleksi lukisan yang gut juga buku kumpulan koleksi lukisan proklamator yan tebel. Barang berciri Nusantara bertengger di sana-sini. Koleksi khas keluarga Tiong Hoa juga banyak. Mulai dari perangkat sembahyang, guci abu, sampai stempel kerajaan. Pokoknya aku sulit mengungkapkan. Aku benar-benar terkagum-kagum.

Dari sekian banyak barang tersebut, ada beberapa yang menjadi ikon Omah Jadoel, misalnya, sepeda pak pos, cawan bergaung, ember berbunyi, piring retak seribu, berbagai batik, ah pokonya semua menarik. Dan kalau kamu pengen banget poto mbak yang bertugas akan dengan senang hati memotretkanmu FREE! Kalau kamu pengen juga prewed atau afwed di sini juga boleh. Setauku sekali pakai 300-400ribu.

Tapi sayang seribu sayang. Warga Negara kita belum atau bahkan tidak bisa menghargai hal yang indah. Nyatanya, ada yang memainkan kaset pita di tape dan akhirya pitanya njundet, ruwet, nempel di tape. Parahnya lagi ada yang mencuri bel sepeda pos. ah gila!!!!

aku dan Bu Ida yang baru pulang dari upacara di makam Bung Karno

aku dan Bu Ida yang baru pulang dari upacara di makam Bung Karno

Dari obrolan terkait berbagai museum, Bu Ida ingin sekali dapat dukungan dari pemerintah, tapi katanya Pemkot Blitar tidak setuju. Lalu tebersit untuk meminta bantuan presiden yang baru dan ngin sowan ke rumahnya yang di Solo. Dan muncullah kalimat dari Bu Ida: kalau Pak Jokowi mau Omah Jadoel dipindah ke Solo saya tidak apa-apa kok Mbak Indah.

Aku jawab: saya juga suka bu kalau Omah Jadoel pindah ke Solo.
Kami pun akhirnya sama-sama terdiam sebelum saya pamitan karena mau diantar karyawannya ke Istana Gebang.

Iklan

6 thoughts on “Omah Jadoel (masih) #Blitar

    • salam mas Ruddy, mohon maaf yang menulis ini bukan bu Ida, tetapi indah. namun saya senang ada tanggapan. semoga Omah Djadoel semakin bermanfaat. amin

      • Terima kasih mbak Zanida..sudah meluruskan tanggapan dari pak Rudi di Batam..saking antusiasnya beliau ..sampai baru..ngeh..kalau semua di media yang menulis dan mengunggah para pengunjung seperti mbah Indah ini..karena ownernya gaptek dan gak pinter nulis..terima kasih mbak Indah ulasannya enak sekali dibaca..smga
        sukses selalu buat mbak Zanida dan mbak Indah..SALAM BUDAYA

  1. Ping-balik: Membayar Nuansa di Inggil Resto #Malang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s