Beranda » ceritaku » sudut pandang

sudut pandang

tadi aku datang kumbokarnan (persiapan acara biasanya untuk pernikahan). di akhir pembicaraan, bapak yang membawakan acara menanyakan “apakah masih ada yang dibahas?” kalau tidak mari kita akhiri karena mahabarata sudah mulai.” wew…..

siapa sih yang tidak tahu mahabarata? betul sinetron hasil ekranisasi. coretanku yang terselip di antara catatan dolanku ini memang tidak akan membahas tentang mahabarata, melainkan sudut pandangnya.

orang yang menikmati tanyangan pandawa vs kurawa ini bisa dimasukkan dalam beberapa kategori, misalnya 3 yang menurut pendapatku. ibu-ibu maupun para gadis mungkin lebih akan menilai pada ganteng, sixpack, atau yang sejenisnya, sedangkan para bapak seperti tetanggaku akan menikmati karena memang itu hikayat luar biasa tentang gambaran kebaikan lawan kejahatan. di sisi lain mungkin bagi pemeluk agama hindu, menyaksikan mahabarata sudah seperti halnya belajar kitab mereka.

kalau aku memang harus mengakui sangat menyukai hikayat ini, terlepas dari ini bagian dari keyakinan agama lain. aku mengambil sisi positif dari setiap alurnya. awalan sinetron ini aku suka sekali, tapi makin ke sini kok kayak ada yang membuatku gamang. wah memang benar lebih nyaman membaca bukunya atau karya tulis bukan hasil ekranisasi. kita bisa menganalisa lebih luas, tak terikat dengan setiap dialog yang membuat telinga pedes. selain itu, aku masih ingat juga beberapa hasil analisa ajakan dosen ketika membahas kisah ini juga kisah ramayana. tapi tak mungkin aku ceritakan di sini, cukup aku ingat dan menjadi dasar atas karya hebat tersebut.

oke, pembicaraanku sebenarnya lebih pada sudut pandang kita atas etiap yang terjadi pada diri kita. setiap hal yang mungkin menurut orang lain tidak baik, bisa jadi akan kita lihat baik dengan sudut pandang kita. atau sebaliknya. dan tetetetetettttetrarrrrerererng, ini terkait juga tentang pernikahan. sikap buru-buru yang dilakukan untuk mengambil keputusan berumah tangga tak selalu baik bagi sebagian orang, tapi tak juga buruk bagi sebagian lainnya.

bukan berarti pernikahan adalah hal yang dikesampingkan dalam hidup kita. apa yang terjadi ketika kita menikah HANYA untuk sebuah STATUS istri/suami? biar tak lagi dipandang sebelah mata karena kesendirian alias jomblo? “halo mblo?”

justru kita harus bersyukur dengan kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita atas waktu yang diberikan untuk terus menerus memperbaiki diri. capailah setiap hal ingin dicapai. raihlah cita-cita. terus menerus lakukanlah yang terbaik. sebab, waktu tak akan memberikan kesempatan kedua kali.

mungkin aku terkesan terlalu membela diri atas posisi, tapi coba mari kita pikirkan. berapa yang kawin cerai dan akhirnya menjanda dan menduda di usia 20-an?

ah tapi kembali lagi pada sudut pandangmu sendiri sih, mau galau akhirnya menjadi galauwers, menghadapinya dengan tenang sambil meraih cita-cita, atau main tubruk sana sini yang penting ‘dapat’?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s