Beranda » ceritaku » Gereja Merah #Kediri

Gereja Merah #Kediri

bermandi sinar mentari pagi sang Merah Putih berkibar di Gereja Merah Kediri

bermandi sinar mentari pagi sang Merah Putih berkibar di Gereja Merah Kediri

Setelah membeli tiket Dhoho-Penataran untuk ke Blitar, aku bertanya kepada warga yang aku lewati arah menuju Gereja Merah. Gereja Merah yang aku tahu sementara ini hanya ada dua di Indonesia.

Satu di Probolinggo dan satu lagi di Kediri. Gereja ini juga tidak seterkenal Gereja Mblenduk di Kota Lama Semarang. Jadi tidak aneh kalau kita akan kesulitan mencari informasi mengenai gereja menarik satu ini. Bahkan aku pun mengetahui gereja tersebut hanya dari sebuah blog. Tapi bagi penggila fotografi tentu akan semangat kalau melihat kecantikannya.

ini jalan Dhoho sepi, masih pagi. toko banyak yang tutup.

ini jalan Dhoho sepi, masih pagi. toko banyak yang tutup.

Untuk menuju Gereja Merah sebenarnya tidak sulit. Setelah keluar dari Stasiun Besar Kediri kita akan bertemu jalan besar. Jalan ini bernama Jalan Dhoho. Bila diamati sekilas jalan ini seperti Malioboro-nya Yogyakarta. Dari pintu stasiun ini ambil kanan sampai perempatan. Di perempatan kita akan bertemu Bank Indonesia. Karena lama nunggu angkuta kuning huruf A, aku putuskan untuk jalan dulu. Di sepanjang jalan ini sepertinya kawasan lama juga. Sebab sekolah lama, seperti sekolah khatolik ada di sini, selain itu berbagai toko roti lama juga ada di sepanjang jalan ini. Tak terasa aku jalan kaki hingga di ujung jalan. Di depanku ada pagar seng yang aku taksir di belakangnya ada Sungai Brantas.

Sungai Brantas dari angkuta A selomangleng

Sungai Brantas dari angkuta A selomangleng

Akhirnya aku naik angkuta menyeberangi Sungai Brantas yang berangin. Saat ditanya pak sopir aku cuma bilang ke Gereja Merah. Agak bingung sopirnya, untung ada ibu yang menjelaskan Gereja Merah dekat Bundaran Sekartadji. Jadi kalau naik angkuta turun di Bundaran Sekartadji lalu jalan sedikit sampai Monument Syu dan membayar 3000 rupiah. Monument Syu berada tepat di depan Gereja Merah ini.

jangan takut tersasar, kalau belum tahu bundaran sekartdji, gambar inilah yang disebut sekartadji, tempat berputar angkuta A selomangleng

jangan takut tersasar, kalau belum tahu bundaran sekartdji, gambar inilah yang disebut sekartadji, tempat berputar angkuta A selomangleng

Gereja merah berada di Jalan Kdp Slamet. Gereja ini bernama resmi Gereja Protestan Indonsia Barat (GPIB) Immanuel. Aku senang sekali ketika aku ke sana diijinkan masuk, bahkan ditemani Koster Lorens Hendrik. Awalnya aku takut juga. Selain aku berjilbab, gereja sepi. Kalau yang aku baca si blogger tidak berani mendekat karena dipakai ibadah.

meski kaca patri jendela sudah diganti (tidak asli lagi) gereja ini tetap menawan hati

meski kaca patri jendela sudah diganti (tidak asli lagi) gereja ini tetap menawan hati

Pak Hendrik menjelaskan kepadaku berbagai hal mengenai gereja ini. Aku jadi tahu bahwa gereja ini bersaudara dengan banyak gereja di berbagai daerah, salah satunya di Solo yang belum sempat aku datangi, yakni Gereja Penabur Injil. Di gereja berwarna merah ini bisa menampung sekitar 130 kursi. Seperti bangunan peninggalan Belanda lainnya gereja ini juga memiliki jendela-jendela besar. Sayangnya kaca patrinya sudah diganti dengan kaca patri baru. Pak hendrik menjelaskan bahwa kaca patri yang lama tidak bisa dipertahankan.

lantai dua gereja merah, kayunya masih asli dan kokoh. kursi aslinya dengan rotan, tapi sekarang sudah berganti kayu

lantai dua gereja merah, kayunya masih asli dan kokoh. kursi aslinya dengan rotan, tapi sekarang sudah berganti kayu

Semua pengunjung (meski bukan orang Kristen seperti aku) bisa melihat ke berbagai sisi ruangan. Bahkan aku diajak ke tempat persiapan para majelis gereja berkumpul sebelum ibadah. Aku juga diajak ke lantai atas yang terbuat dari kayu. Di lantai ini terdapat peralatan band bagi jemaat remaja. Dari sini kita juga bisa melihat tempat lonceng. Namun lonceng itu kini dibawa ke gereja di luar kota (aku lupa kayaknya Malang). Jadi sekarang Gereja Merah tanpa lonceng.

pintu utama gereja yang sudah dicat ulang.

pintu utama gereja yang sudah dicat ulang.


Gereja megah ini dibangun pada 21 desember 1901. Jadi sekarang sudah berumur 113 tahun. Gereja dengan cat merah tersebut dibangun J.A Broers atas izin Pemerintah Belanda tentunya. Menariknya kata Pak Hendrik beberapa waktu lalu ada cucu dari pendeta Broers yang datang berkunjung dari Belanda meski sudah sangat renta. Bahkan sehari sebelum aku datang, ada keluarga serdadu Belanda yang datang ke gereja untuk mencari tahu kondisi makam leluhurnya.

dari tulisan ini aku tahu tanggal pendirian gereja

dari tulisan ini aku tahu tanggal pendirian gereja

Keunikan lain dari gereja ini adalah terdapatnya sebuah Injil kuno berangka tahun 1867, srrrrr sebagai orang yang pernah belajar tentang naskah aku ngiler juga. Pengen menyentuh, mengukur, mempelajari hiasan ilmuniasi, dan keasliannya. Di tengah injil ini ada sebuah peta. Aku pikir ini pasti perjalanan kisah atau perkembangan agama Kristen (mungkin lho). Injil yang berbahasa Belanda ini juga memberikan kesulitan tersendiri bagi yang ingin mempelajari, terlebih menggunakan bahasa Belanda lama heheeee.

ini yang aku temukan dalam injil kuno terbitan 1867 #filologiers

ini yang aku temukan dalam injil kuno terbitan 1867 #filologiers

Kini, gereja yang dibangun di awal abad 19 tersebut sudah masuk dalam daftar bangunan cagar budaya sejak tahun 2005. Meski banyak bagian yang tak lagi asli, bangunan ini tetap menjadi jujugan sejarah perkembangan agama di Negara kita.

Batu tulis peresmian cagar budaya untuk gereja merah kediri

Batu tulis peresmian cagar budaya untuk gereja merah kediri

Oh iya, info menarik bagi yang suka berfoto ria. Pak Hendrik memberikan kebebasan bertanggung jawab bagi yang ingin berfoto. Artinya beliau memberikan izin tetapi tetap pada batas tertentu. Hanya satu bagian gereja yang tidak boleh dipakai untuk berfoto, yaitu mimbar. Selain itu boleh, tapi tetap jaga kesopanan dan kesantunan ya 🙂

Iklan

14 thoughts on “Gereja Merah #Kediri

  1. Ping-balik: Monumen SYU #Kediri | was indah sagst

  2. Ping-balik: Arc De Triomphe Van Java #Kediri | was indah sagst

  3. Ping-balik: Perjalanan, Kediri, Blitar, Saya : Melewati Kediri Pagi | .. Travelling is Healing ..

  4. Ping-balik: Gereja Immanuel #Malang | was indah sagst

  5. Ping-balik: Gereja “Ijen” Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel #Malang | was indah sagst

    • hai inzanami maaf ya baru dibalas. terima kasih sudah mau mampir. kalau malam iya banyak penjual tumpang pecel di jalan dhoho. nasi gorengnya katanya juga enak. kalau aku kebetulan waktu ke Kediri makan pecel tumpang di dekat Simpang Lima Gumul. aku juga tdk sempat menikmati malam d jalan dhoho ehheheh. selamat berjalana-jalan ya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s