Beranda » ceritaku » Terdampar di Kota Patria #Blitar

Terdampar di Kota Patria #Blitar

stasiun Blitar di malam hari, sepi seperti kotanya :)

stasiun Blitar di malam hari, sepi seperti kotanya 🙂

Sabtu 16.8.14

Sesampai di Blitar perjuangan belum berakhir. Dengan panduan satpam Stasiun Blitar aku menemukan Alun-Alun Kota yang tak bisa kujepret dengan kamera saku yang pas-pasan. Meski Blitar kota kecil yang katanya juga sepi, aku tidak mudah menyeberang jalan.

Maklum waktu itu malam Minggu pula. Tapi aku mendadak senang karena ada tanda pencet tombol untuk menyeberang. Artinya kita bisa menghentikan laju kendaraan dengan memberikan mereka traffic light. Nyatanya berkali-kali aku pencet tak bisa nyala juga. Alhasil lampu lalu lintas manual aku gunakan alias tangan kanan melambai cieeee.

tengok kanan tetap lambaikan tangan :'(

tengok kanan tetap lambaikan tangan 😥

Memutari alun-alun sekali, aku langsung naik becak menuju penginapan. Awalnya aku berharap suasana Blitar menyenangkan. Kan kota Bung Karno. Ternyata tidak sepi saja tuh. Karnaval kemerdekaan baru diadakan 21/8/14. Di alun-alun hanya ada bapak-bapak yang mmpersiapkan untuk upacara. Ada juga beberapa remaja menghabiskan malam suit suit…

taman depan kamar tempat aku menginap: dibangunkan jago ketawa dengan suara gemericik air terjun yang nyaman :)

taman depan kamar tempat aku menginap: dibangunkan jago ketawa dengan suara gemericik air terjun yang nyaman 🙂

Kembali ke penginapan: Aku sudah menelepon mereka beberapa hari sebelumnya, tapi saat aku datang kamarku sudah dipakai huaaaaaa. Aku salah juga karena tidak menelepon untuk konfirmasi ulang. Untung saja masih ada kamar meski tak ada apa-apanya hehehehe. setelah makan aku langsung tepar untuk persiapan jalan-jalan selanjutnya. aku sengaja makan di luar, ada menu menarik : tahu lontong yang ternyata rasanya kayak tahu kupat kalau di Solo.

tahu lontong ang menurut penjual tidak pedas menurutku pedes banget, bagaimana kalau aku minta pedes wuuuzzz mungkin tak bisa bangun pagi.

tahu lontong ang menurut penjual tidak pedas menurutku pedes banget, bagaimana kalau aku minta pedes wuuuzzz mungkin tak bisa bangun pagi.

Minggu 17.8.14

Hari kemerdekaan datang: aku semangat menuju tempat impian, apalagi kalau bukan Candi Penataran. Aku langsung check-out pagi itu juga. Sebab aku berencana berkeliling langsung pulang jam 19.07. seperti yang sudah aku baca, angkuta jurusan ke Penataran berwarna KUNING. Aku menunggu lama sekali dari jam 08.00-09.30 di tempat yang sudah ditunjukkan resepsionis. Tapi tak kunjung datang. Wah kupikir kalau begini bisa tak dapat apa-apa aku.

Akhirnya aku putuskan ke perpustakaan bung karno dulu sekaligus ke makam. Di makam bung karno aku tak bisa masuk pula: dipakai upacara katanya. Ohhhh myyyy God 😥

Oke tak apa. aku lalu Tanya kembali tempat angkuta kuning lewat. Pak satpam bilang tunggunya di dekat Kelurahan Sentul. Aku pun jalan kaki. Sembari jalan kaki aku menemukan Kebun Binatang Mini. Tak lama aku tunggu, ada tulisan Omah Jadoel. Jam kulirik masih di angka 11. Oke coba dulu masuk daripada bengong. Dan memang menarik banyak barang unik di sana. Pemiliknya swasta, istri dari salah satu staf pemerintah Kota Blitar. Mungkin lain kali aku ceritakan. Nah di sinilah rasa putus asa itu berkembang menjadi semak belukar menjalar-jalar menggerogoti semangatku. Gimana kagak????? Jam 2 siang belum ada satu angkuta pun yang datang. Padahal kata yang jaga loket biasanya sering lewat. Lalu mbak itu bilang, mungkin karena minggu jadi libur. Haahhhhh!!!!!! “iya soalnya kebanyakan yang naik anak sekolah.” Blllaaaaiiikkk tenan iki! Parahnya lagi tak ada ojek. Yang ada becak: dan jangan kaget kalau mahal minta ampun. Dan mana mungkin pula pak becak mengantarkan aku ke Penataran yang jaraknya 10 km. kalau Cuma 1 km aku pastikan masih jalan kaki alias mercy.

Catatan bagi yang ingin ke Penataran dan ingin menggunakan alat transportasi umum lebih baik JANGAN hari Minggu. Bisa dipastikan nasib tak jauh dariku: tak ada transportasi.

Bu Ida pemilik Omah Jadoel akhirnya meminta salah satu karyawannya untuk mengantarku ke Istana Gebang dulu, yakni rumah Bung Karno masa kecil. Dan ada informasi kalau di sana pasti ada ojek. Wuuiihh semangat lagi dong. Rencanaku Istana Gebang harusnya akhir saja, tapi apa boleh buat. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sampailah aku di Istana Gebang dan berkunjung. Selesai, aku Tanya tentang ojek. Dan jawaban yang aku dapat: tidak ada hhhuuuuuaaaaaaa!!!!!! Pengan nangis guling-guling!!! Baiklah aku mencoba tenang dan tetap tersenyum. Di salah satu warung ada tulisan : soto koya. Tiba-tiba aku ingat kalau belum makan setelah sarapan. Hehheh langsung saja aku pesan satu. Di depanku ada sepasang suami istri mungkin sudah lebih dari setengah abad usianya. Tanpa malu aku bertanya.

“Pak, mohon maaf kalau di sini ada ojek di mana ya pak?”

“Wah jauh mbak. Lha mau ke mana?” sembari menikmati soto.

“Ke penataran pak.” Jawabku singkat.

Si bapak langsung diam: berpikir keras. “Nanti mbake keluar dari sini lurus saja sampai mentok lalu ambil kanan. Di situ banyak mbak. Lha mbake ini dari mana?”

“Solo pak.” Si bapak langsung kaget. Aku ditanya dengan siapa, pokokknya obrolan menyenangkan. Di tengah obrolan itulah si bapak memanggil ojek darurat kwkwkwkwkwkk aku malu setengah hidup setengah tak percaya. mungkin karena kasihan melihat wajahku yang memelas kwkwwkwkwkwkwkw. Setelah ada kesepakatan harga maka dengan ojek inilah aku menikmati Penataran yang jaraknya hamper 15 km dari pusat kota dan berkeliling kota pensiunan (kata ojekku mengenai Blitar).

ini nih sejoli keren yang membantu aku mendapatkan ojek darurat :)

ini nih sejoli keren yang membantu aku mendapatkan ojek darurat 🙂


Terima kasih banyak pak atas bantuannya dengan mencarikan ojek darurat. Teman-teman jangan takut kalau kita dolan. Jika kita baik akan banyak yang menolong. Awalnya aku takut juga, tapi kenapa harus takut. Ini masih di Negara kita sendiri. Percayalah masih banyak orang baik di dunia ini. Serta percayakan dirimu pada niat dan Tuhan. Pengalaman ini membuatku semakin percaya bahwa jalanjalan menambah kekayaan diri.

Iklan

2 thoughts on “Terdampar di Kota Patria #Blitar

  1. Ping-balik: Perpustakaan Bung Karno #Blitar | was indah sagst

  2. Ping-balik: Ramahnya Alun-alun Kota #BatuMalang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s