Beranda » ceritaku » Nyok Ke TMII 1 #Batavia

Nyok Ke TMII 1 #Batavia

Pertengahan Mei lalu aku ke Batavia untuk ke sekian kali. Aku seperti biasanya sudah mempersiapkan jauh-jauh hari tujuan utamaku. Masih seperti biasa

aku pergi dengan ular besi dan tiket sudah beli dullluuuuu sekali. Sayangnya aku tak bisa lama-lama di sana. Karena itu, aku harus menentukan satu tujuan yang akan menambah pengetahuan (padahal pengennya lebih)

Aku berangkat jumat sore dari solo dengan senja bengawan. Hari pertama seperti biasa ngobrol saja. Bertemu dengan kawan-kawan lama. Sorenya yang kebetulan sabtu sore sedikit malam ke malam minggu aku dan may sekadar jalan-jalan ke GI Bundaran HI. Pulang kami mampir makan.

Aku ke TMII di hari ke dua. Agak bermalasan pergi kalau sudah
ketemu kawan dan ngobrol di Kasbun heheheheh. Tapi karena rasa penasaran sekaligus keinginan lama terpendam, aku menyegerakan diri bersiap. Awalnya aku mau mengajak Mbak Maria dan Mbak May. Tapi karena ini hari minggu (hari libur mereka harus istirahat) dan harus ke gereja, aku putuskan berangkat sendiri. Sebenarnya agak ragu berangkat soalnya TMII itu katanya jauuuuuhhhhhh banget dari Kebon Sirih. Terlebih waktu itu sudah tengah hari bolong. Terus jam berapa rupanya aku bisa sampai ke sana 😥

Dengan bantuan info mbah gugel dari mbak maria, akhirnya aku berangkat. Aku catet baik-baik di henpun: Mayasari bakti P17 Senen-Rambutan turun di perempatan Garuda Taman Mini, naik angkot merah T01 atau T02 turun di TMII pintu masuk I atau III.

Sudah mantep, setelah makan aku berangkat. Ngacir tidak lupa bawa minum. Karena mantan tempat tinggalku ini benar-benar di pusat kota Jakarte ceile aku mudah ke Terminal Pasar Senen. Caranya dengan naik kopaja 15 dari perempatan Wahid Hasyim. Karena ini kopaja yang pakai AC, aku pun musti membayar lebih: seharga 5ribu.

Sampai di Terminal Senen aku langsung menuju ujung jalan yang sekaligus pintu keluar stasiun Senen. Di sana aku nunggu lama banget hamper 20menit. Yang aku cari (MAyasari Bakti P17) kagak nongol juga: yang ada metromini 17 yang dulu sering bawa aku ke Manggarai.

Daripada kagak jelas, aku putuskan Tanya ke bapak di sampingku. Soalnya sebelum aku jalan masuk terminal aku lihat bus gede ijo masayari bakti lewat: wedew.

“Pak kalau P17 tidak lewat sini ya?” aku menanyakan sekaligus memastikan bahwa dugaanku benar.

Si bapak jawab, “Wah kurang tahu ya, tapi harusnya memang tidak. Lewat sono.” Sambil nunjuk atrium dekat pasar senen. Weeeiiikk bener.

“Berarti lewat jalan yang sana ya Pak?” aku nunjuk jalan yang
kalau lurus terdapat pintu masuk Stasiun Senen.

“Iye.” Jawab bapak itu santai. Woooo blaik tenan iki.

Dengan tunggang langgang aku ngebut jalan kaki kea rah jalan yang aku maksud tadi setelah mengucap terima kasih. Kebetulan jalanan yang aku tuju macet total karena ada kereta lewat. Oh iya, jadi di jalan yang aku maksud (aku lupa nama jalannya) ada rel yang menjadi jalan keluar masuk kereta api. Dan sering mengular kalau ada kereta yang lewat, entah komuter entah luar kota.
Alhamdulillah syukur deh ada kereta lewat, jadi si mayasari bakti masih anggut-anggutan nunggu antrean lewat. Aku pun cuuuuzzz masuk sambil cari tempat duduk. Untungnya ada satu kursi nganggur hehehehhe.

Di dalam bus aku sudah tak kuasa nahan kantuk. Sebelum tertidur
aku Tanya ibu di sebelahku yang sambil memanggu anaknya.

“Bu maaf ini yang mau ke perempatan garuda kan?” wew jaga-jaga men sebelum salah jurusan dan tertidur di dalamnya.

“iya mbak, nanti setelah tol.” Balasnya.
Si ibu baik banget, tahu kalau kondektur tidak memberiku kembalian. Beliau langsung bilang “Mbak minta kembaliannya. Lumayan seribu”. Dari informasi itu aku meminta hakku hehheheh.

Nah, akhirnya aku tertidur mungkin 10 menit. Perjalanan dengan P17 ternyata yak selama yang aku perkirakan: hanya 20menit rupanya. Si ibu baik hati di sampingku membangunkanku karena sudah mau sampai. Kebetulan lagi dari sepasang kakek-nenek dan cucunya yang mau turun. Jadi senanglah aku ada temannya.

Sampailah aku di perempatan garuda dan tamini square ada di depanku. Eh ada 2 polantas yang berjaga.

Lalu kutanya, “Pak kalau mau ke TMII, naik apa ya pak dari sini?”
“Gerbang berapa mbak?” tanyanya balik
Wewwwww aku lupa, aku jawab sekenanya, “Gerbang dua pak.”
“Oh dari sini nyebrang, terus naik no 5 warna ijo.”
“terima kasih pak.”

Aku langsung nyebrang dan menunggu di sana. Tak lama angkota yang dimaksud datang. Aku tak lupa Tanya dulu sebelum naik, “Pak TMII gerbang dua ya?” “Iya mbak.”

Aku naik dan duduk di pojokan sambil was-was, selain takut tersasar juga karena masih ngantuk. Akhirnya wes-wes akhirnya sampai juuga di depan gerbang dua TMII. Padahal menurut catetan harusnya gerbang satu atau tiga. Tapi tak masyalah.

Masuk gerbang bayar tiket 10ribu. Aku masuk dan banyak music kudengar. Band-band dan dangdut. Selanjutnya keliling, belajar ke museum, dan tentu saja mencoba kereta gantungnya. Aku Cuma sempat ke Museum Indonesia karena keterbatasan waktu. Padahal di TMII banyak museum lho (lain kali saja critanya ya). Perut lapar, aku pun makan siang ehheheh. Payahnya aku dapat warung enak setelah aku selesai makan di makanan cepat saji:ehm tak elok memang jauh-jauh eh makan begituan. Di akhir dolan, aku menyempatkan diri beli kaos buat duo jagoan.

Saatnya pulang…….. menuju gerbang satu. Rencananya aku mau pulang dengan bus TranJ dari Garuda. Aku piker jarak antara gerbang satu dengan Tamini Square itu dekat, jadi aku putuskan jalan kaki ah sekalian jalan-jalan menikmati sore. Ternyaataaa deng deng deng jauuuhhhh banget. Wuft sampai kaki pegel belum sampai juga di tempat itu. Sudah lebih dari 30 menit aku jalan hamper menyerah. Aku mau menyeberang tidak bisa juga. Ini mengingat jalan-jalan di Jakarta diberi batasan sejenis kawat untuk dua jalur yang beda. Ya sudah lah. Tak lama ada seorang turis dari luar negeri yang jalan dengan semangat: wah mosok kalah sama yang luar negeri malu dong. Aku pun jalan lagi dan sampailah di garuda hehhehe Alhamdulillah.

Setelah menunggu beberapa menit aku ikut bersumpek-sumpek ria di bus TransJ daripada tidak pulang-pulang. Melewati beberap halte akhirnya sampai semanggi dan aku jalan menyusuri panjangnya lorong penghubung lalu sampai lagi di halte ke Sarinah. Oke deh daripada lama lagi aku pilih naik kopaja ac heheheh. Turun, aku jalan eh lapar lagi. Sampai di jalan Jaksa aku mampir ke sop lele. Makan dulu. Malamnya ketemu rini kawanku. Sebenarnya capek, tapi tidak terasa hehehehehe.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s