Beranda » ceritaku » Ketika kudaku sakit

Ketika kudaku sakit

Salah satu hal yang membuatku sedih adalah saat kudaku sakit

(baca: motor em-o-ge-o-ge). Ini memang bukan yang pertama kali, tapi kuda hitam itu tetap saja mencuri sebagian perhatianku, ceileee. Eh bener lho.

suatu kali cakram, terus rem, kampas. Dulu pernah rantainya. Dulu lagi pernah double starternya. Yang lain kali lampunya mati: sekarang sudah nyala satu. Lain-lain waktu lain cerita. Dan kali ini, kudaku sakit setelah 3 jam dipuji pakdeku waktu arisan keluarga di rumahnya. Weleh.

Kemarin sore, ceritanya aku mau ke rumah kawanku waktu kuliah : arum yang menikah dengan kawanku juga Andi, yang sekarang punya keturunan sasindo murni: meski tak ada paksaan masuk sasindo, tapi wajib membaca banyak karya terutama filologi kwkwkkwwk. Mekso!! Selain itu, aku juga mau beli buah tangan untuk pendongeng anak-anak hari ini (senin, 4/8 masuk sekolah awalan) ke kalilarangan. Jadi berangkatlah aku sekitar jam 5.

Singkat cerita, aku pengen beli martabak buat keluarga semanggi. Mampir aku ke depan luwes gading, tepatnya martabak Bangka. di sana harganya murah tapi rasanya mantap: yang biasa cuma 12ribu (lho malah promosi). Eh sampai di sana kudaku tidak bisa mati mesinnya. Kuncinya dol wew lha dalah, kepriwe. Pak martabak dengan baik membantu karena yang mau beli aku thok, belum ada lainnya. Dan akhirnya bisa.

Selesai, aku lanjutkan perjalanan. Dan kudaku tidak bisa dikontak. Lampu ijo-nya mati. Iseng kucoba pakai starter kaki: jreng dan bisa. Pelan-pelan aku lanjutkan perjalanan yang tinggal separuh itu. Ya tentunya dengan was was. Lha wong lampu belok kanan-kiri tidak bisa nyala. Klakson juga tidak bunyi.

Akhirnya sampailah di rumah bu mur, di sambut pak ari. Langsung aku laporan “Pak, niki kok mboten saget mati pripun?” setelah meletakkan bungkusan martabak di meja seperti biasa aku langsung ke belakang ehehehehh kebetulan sedang jajan sate lontong, aku juga dijajakne mbak ana. Setelah itu pokoknya aku tahu kudaku sudah bisa dikendalikan. Aku asyik ngobrol sampai datanglah waktu pulang.

Kudaku sudah disiapkan di jalan sudah pula distater dan bisa. Aku pun siap mancal setelah salam. Eh….lah kok malah mogok. Alhasil kuda yang sudah di jalan masuk kandang lagi andi dan pak ari ngutak-utik sampai jam 21.30an dan ternyata benar kabel dengan kunci sudah lepas. Lalu pak ari member privat cara mematikan mesin ehheheh dengan memutar bagian bawah. Dan Weih weih weih aku praktikkan bisa.

Ketika kuda siap, hujan yang mengguyur semanggi sekitarnya sudah reda. Aku pamitan (lagi) dan berkendara dengan sangat pelan dan bonus senam jantung. Sekitar jam 10an aku sampai rumah. Simbok sudah menunggu dan menanyakan: “lho lha jare tumbas oleh-oleh pendongeng?”
Aku menjawab dengan senyuman, “ heheheh jarane lara, mboten siyos.”

Aku bersih diri, salat, lalu makan. Sebelum masuk ke alam mimpi mamaku menanyakan, jam berapa aku mau bangun (aku rencana mengganti puasa Ramadan) dan aku jawab jam 4. Masih ditanya lagi, lha terus kalau tidak bisa jalan bagaimana? Ya nyepeda. Lho yen nyepeda tidak puasa dulu. Wuih mamaku, aku jawab insyaAllah tidak apa-apa dulu juga sering.

Dalam sejarah aku belajar di sekolah dasar, ini adalah keberangkatan terpagiku. Saat jarum menunjukkan pukul 06:15 aku mulai mempraktikkan privat pak ari heheeheh. Keluar kandang di jam ini aku berharap jalan masih sepi karena semua lampu tidak menyala.

Syukur aku sampai sekolah, sudah ada beberapa kawan. Siangnya kubawa kuda ke dokternya pak doyox dekat sekolah. Penjelasanku justru bikin aku geli sendiri heheheheh. Aku lebih bersyukur lagi kini kudaku sehat semua mata dan telinga sudah berfungsi dengan baik. Semoga tidak sakit lagi ya. Amin

Pengalaman ini sebenarnya mengingatkanku pada “mencegah lebih baik dari mengobati”. Seharusnya aku lebih memerhatikan dan merawat kudaku dengan baik, tapi aku ternyata lebih sibuk dengan diriku sendiri. ini tidak hanya berkaitan dengan kendaraan, tapi juga berbagai barang yang kita punya. apalagi kesehatan. mari kita jaga segalanya dengan mencegah karena mengobati itu mahal juragan.

Iklan

3 thoughts on “Ketika kudaku sakit

  1. Ping-balik: Memori Mie Ayam Pak Trikijo | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s