Beranda » ceritaku » Drini: Pantai Terbelah Pulau Karang

Drini: Pantai Terbelah Pulau Karang

ini nih pantai karang itu dari kejauhan. karena surut aku bisa sampai ke sana.

ini nih pantai karang itu dari kejauhan. karena surut aku bisa sampai ke sana.

Hari masih sangat pagi, menurutku. Setelah sepekan penuh menemani anak-anak bergulat dengan tekanan ulangan kenaikan kelas, kami ada sedikit penyegaran. Tepat sehari UKK selesai, kami berencana ke sebuah pantai. Awalnya para orang tua ingin ke Indrayanti, tapi setelah sampai ke sana dan voila

…… penuh sesak. Akhirnya kami bergeser ke pantai sebelahnya: Drini.

Aku dengan semangat 45 membara menyambut perpindahan tujuan tersebut. Bukan karena Pulang Syawal tidak menarik, melainkan aku pernah ke sana eeheheh. Jadi ketika dipindah, rasa ketertarikanku datang lagi.

Seperti pantai Pulang Syawal yang disebut Indrayanti, drini ternyata juga punya asal muasal. Katanya dulu di pulau pemisah ini banyak ditumbuhi satintigi (Pemphis Acidula). Tumbuhan ini disebut drini oleh masyarakat sekitar. Dengan alasan itulah pantai di pesisir Gunungkidul ini akrab disebut Pantai Drini.

Sebenarnya, pantai ini tidak begitu jauh dari pantai-pantai lainnya. Namun, akses ke pantai ini yang agak susah jika ada dua bus pariwisata ketemuan. Jadi, untuk menuju pantai di Tepus, Gunung Kidul, Yogyakarta, ini kita harus memastikan tidak barengan dengan bus lain. Tapi kalau kalian datang dengan motor atau mobil pribadi, tentu tidak masalah.

tangga di antara pandan laut, yang ternyata ada buahnya

tangga di antara pandan laut, yang ternyata ada buahnya

Sampai di tempat parkir deburan ombak sudah terdengar. Di sepanjang pantai dangau-dangau neratap alang-alang berderet. Sementara layang-layang bermain bersama angin. Pasir bercampur karang tersebar di bibir pantai. Lumut seakan memberikan alas bagi air yang terjebak di antara karang. Benar sungguh menawan.
Anak-anak yang datang bersama keluarga banyak yang sudah mencari ikan dan bintang laut yang ada di sela-sela karang. Sementara aku langsung menyeberangi air yang tak seberapa guna menikmati pemandangan dari puncak pulau. Airnya hangat dan karangnya mantap memijat kaki,

gazebo-gazebo kecil di sepanjang pantai dari atas pulau

gazebo-gazebo kecil di sepanjang pantai dari atas pulau

Pulau ini memang hanya pulau karang. Di sana pandan laut yang
berduri tersebar, sedangkan rerumputan justru jarang ditemukan. Di pintu pulau ada seorang penjaga. Kebetulan waktu itu yang menjaga anak kecil. Kita bisa meneruskan masuk dengan membayar 1.000 rupiah. Murah ya? Sayang meski murah begitu ada lho yang masih tidak mau bayar. Menyedihkan 😦

tangga menuju puncak pulau drini

tangga menuju puncak pulau drini


Baik mari kita lanjut lagi, untuk bisa sampai di puncak kita harus mendaki dengan tangga yang curam dan kecil. Tenang tak perlu khawatir di samping tangga ada penghalang untuk pegangan jadi tak begitu menakutkan. Sebuah apresiasi yang menurutku perlu diacungi jempol. Selain ada pegangan yang dicat cantik, tempat pembuangan sampah juga sudah ada. Jadi kalau ada pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan itu memang sudah keterlaluan. Benar memang tempat itu hanya sebuah karung, tapi itu sudah sebuah langkah baik.

tempat istirahat yang ambruk :(

tempat istirahat yang ambruk 😦

Akhirnya sampai sudah aku di puncak pulau. Sambil istirahat, aku membiarkan angin ombak yang kencang menyambutku. Di sana terdapat tempat istirahat. Ada dua tempat satu mengarah ke sisi kiri dan satu ke sisi kanan pantai. Sayangnya bangunan itu tidak terawat, bahkan ambruk. Dari pulau ini kita bisa melihat garis cakrawala dengan indah dan jelas. Keindahan buih memutih terbentur karang juga sangat memukau.

pemandangan pantai dengan deburan kuat disertai buaih memikat

pemandangan pantai dengan deburan kuat disertai buaih memikat


Nah, pulau karang inilah yang menjadikan Pantai Drini dengan dua ombak yang berbeda. Pantai di sisi kiri pulau hanya bisa kita lihat dari kejauhan. Dari jauh ombak terlihat tenang (padahal kenceng) dan tentunya banyak ikan. Para nelayan menjemput rezeki di bagian sini. Berbeda dengan pantai di sisi kanan pulau. Ombak terlihat besar, tapi justru lembut menyentuh hingga ke pasir pantai membuat para pengunjung menikmati guyurannya.

di air pantai yang hangat di tengah guyuran matahri yang menyengat

di air pantai yang hangat di tengah guyuran matahri yang menyengat


Di salah satu sudut deretan perahu nelayan diparkirkan. Kebetulan siang itu ada para nelayan datang melaut wow. Kita bisa menikmati ikan hasil tangkapan nelayan di sini. Tak perlu ragu untuk membeli semuanya murah dibanding harga di kota. Kalau ragu membeli yang masih mentah karena tidak sempat mengolah, bisa membeli yang sudah digoreng. Lezaatttt.

deretan perahu terparkir

deretan perahu terparkir

Dari deretan perahu ini jika kita melihat ke atas bagian kanan juga akan kita temui gazebo-gazebo. Nah sayang sekali aku tidak sempat ke sana. Meski demikian, aku sudah merasa senang menikmati hangatnya pantai drini dengan siraman mentari yang garang. Siapa tahu ada kesempatan lagi ke pantai lain 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s