Beranda » sok PUITIS » yang tak terucap

yang tak terucap

Kami bertemu di siang hari yang gerah. Di antara kerumunan orang yang bisa jadi saling kenal, juga sebaliknya: sokkenal. Kenal karena hubungan kerabat dan kawan lama. Di antara kursi yang berjajar itu kami duduk. Membiarkan orang saling bercengkerama di tengah kami. Perkenalan itu sebenarnya hal lumrah di dalam sebuah acara keluarga. Musik pengiring mengalun lembut di sela-sela doa yang dipanjatkan Ibu Theresia kepada sepasang jiwa itu. Dekorasi mewarnai indahnya ruangan gedung kebangsawanan.

Sejak pertemuan itu, waktu bergulir. Kami sangat memaklumi bahwa perbedaan menjadi penghalang. Masing-masing di antara kami telah tertanam cinta pada Tuhan. Kebersamaan yang pernah terjadi dari sekelumit pertemuan inilah justru menjadi penanda semakin matangnya jiwa. Kami sangat paham bahwa tak akan ada perkembangan dari kebersamaan ini. Kami saling menghormati. Komitmen dalam diri sendiri bukanlah hal yang harus ditawarkan. Terlalu jauh untuk memandang masa depan.

Kami meyakini bahwa kami ada untuk saling menghormati. Bukan sebuah paksaan untuk keyakinan ketuhanan. Jiwa yang tulus di dasar hati menjadi saksi tentang keimana masing-masing yang tak akan terganti. Namun, pertemanan dan kekerabatan adalah harga mati kita di bumi. Mungkin inilah toleransi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s