Beranda » ceritaku » Mereguk Haus Bromo

Mereguk Haus Bromo

Angin dan kabut menyapa. Jaket tebal yang sengaja kubeli sebelum berangkat masih saja tersisipi hawa dingin itu. Hari masih belum bisa dikatakan fajar. Jam di tangan belum menunjukkan angka 4. Mobil yang sedianya mengantarkan ke Bukit Metigen belum juga muncul. Kami serombongan mulai kedinginan meski tidak sedingin yang diperkirakan. Menurut perkiraan dingin di Bromo dan sekitarnya 5 derajat. Tapi kurasa tak separah itu.

IMG_1349

Tak lama mobil datang, sejenis angkutan umum colt yang muat 12 penumpang. Perjalanan menuju Metigen sebenarnya tak jauh, tapi aku masih ngantuk dan hooooaaaaaammmmm aku tertidur dalam mobil. Katanya kanan dan kiri jalan adalah jurang-jurang, tapi karena masih gelap tentu saja tak terlihat jelas.

Dan akhirnya taarrraaaa sampai juga kami di ujung jalan. Mata masih terkantuk-kantuk tapi kami semangat menuju Bukit Metigen. Sayangnya meski tidak turun hujan, mengingat waktu itu Desember, matahari tidak terlihat. Padahal kami setia menunggu sampai jam 05.30 lho. Memang tour ini sengaja diadakan oleh pihak travel di akhir tahun sekaligus menjelang tahun baru masehi (31 Desember 2013), Yah sudah tak masyalah!! Lagi pula aku ikut rombongan ini bukan untuk sunrise kok. Buat Bromo seorang cieeeee 😛

bukit metigen. gelap. ini dengan kamera seadanya heheheheh mata dari Tuhan adalah yang terbaik :D

bukit metigen. gelap. ini dengan kamera seadanya heheheheh mata dari Tuhan adalah yang terbaik 😀

Selesai nungguin sunrise yang kagak nongol, kami menuju jeep yang akan membawa kami ke kawah Bromo. jeep berjalan di antara kerumunan manusia. Lautan pasir sudah terlihat di sepanjang mata memandang. Aku sempat tertegun. Dari mana asal pasir ini #retoris wek :P. Eh iya lupa, ini pertama kalinya aku naik jeep. Sungguh senang rasanya: keren.

nampang di depan gunung batok yang masih berkabut saat baru datang dan belum sarapan. ingin ke sana lagi, terlebih pada bulan kasada, pasti menarik.

nampang di depan gunung batok yang masih berkabut saat baru datang dan belum sarapan. ingin ke sana lagi, terlebih pada bulan kasada, pasti menarik.

Sampai di parkir jeep sambil menunggu rombongan lain aku sempatkan ambil beberapa gambar. Tidak bagus sih, tapi lumayan. Rintik hujan sempat menyapa di awal Januari 2014 itu. Tak begitu terasa, maka aku lanjutkan duduk sambil menikmati Gunung Batok. Ada lho cerita tentang asal muasal Gunung Batok, tapi lain kali ya ceritanya. Ketika rombongan datang kami langsung menuju tempat makan. Eh jangan dikira tempat makan kayak di restoran ya heheeheh. Di sekitar Gunung Bromo tempat makan seperi deretan terpal. Terpal itu dibuat prisma menyerupai kemah. Nah, makannya paling enak soto dengan rempah yang khas. Sayangnya aku tidak mengambil gambar warung dan makanan itu. Selesai makan kami jalan kaki menuju kawah Bromo.

IMG_1346

Jalan menuju kawah lumayan jauh. kalau dulu katanya jalan menuju puncak hanya terbuat dari bambu-bambu. Sekarang tangga bamboo itu diganti tangga dari semen. Perjalanan yang penuh sesak di tangga, membuat kami terutama aku, melewati pasir di samping tangga. Wew nakal, biarin 😛

Eh sebentar, sebelum bisa naik tangga kita harus melewati pasir-pasir: yaiyalah kan julukan Bromo lautan pasir. Jadi, sepanjang jalan menuju kawah Bromo kita akan menemui kuda-kuda dengan penumpang. Kalau capek boleh juga naik kuda, tapi aku lebih memilih jalan kaki.

sejauh mata memandang hanya pasir yang ada: lautn pasir.

sejauh mata memandang hanya pasir yang ada: lautn pasir.

Sebelum terlalu jauh ke atas, kita akan melewati pura. Pura ini bernama Pura Luhur Poten. Di pura inilah diadakan peringatan Kasada sebelum Suku Tengger membawa sesaji hasil bumi ke kawah Bromo. menarik sekali memang masyarakat Tengger yang mengaku keturunan Majapahit ini. Sayangnya aku tidak bisa masuk. Selain karena bukan Bulan Kasada, pura ini memang tertutup. Memang sih ada yang di dalam kayaknya melompat mereka. Nah aku tidak sepakat dengan yang begini. Harusnya kalau tempat itu tertutup, kita wajib menghormatinya. Satu lagi yang bikin sebal para wisatawan yang datang dan menginap di lautan pasir sekaligus di samping pura meninggalkan banyak sampah. 😥

pura dari kejauhan, di antara pasir yang membisikan kidung alam.

pura dari kejauhan, di antara pasir yang membisikan kidung alam.

Setahuku sebelum pura ini dibangun pada 2000, masyarakat tengger sembahyang di punden, poten, atau danyang.

salah satu tempat untuk bersembahyang bagi masyarakat Tengger. aku menemukan yang serupa di beberapa rumah penduduk.

salah satu tempat untuk bersembahyang bagi masyarakat Tengger. aku menemukan yang serupa di beberapa rumah penduduk.

bapak ini duduk di mulut kawah Bromo, benar-benar di kawah dan merasa biasa saja. di sampingnya terdapat tempat untuk sesaji. mungkin di sinilah sesaji hasil bumi dari Suku Tengger diletakkan.

bapak ini duduk di mulut kawah Bromo, benar-benar di kawah dan merasa biasa saja. di sampingnya terdapat tempat untuk sesaji. mungkin di sinilah sesaji hasil bumi dari Suku Tengger diletakkan.

Kembali tentang kawah Bromo ya. Kami diberi waktu dari travel sampai pukul 08.30 untuk kembali ke jeep. tapi mana mungkin? Perjalanan dari parkir sampai ke puncak saja sudah jam 8. Alhasil kami melanggar dan baru turun jam 10-an ehheeheeh. Pihak travel sudah cemberut.

Tidak puas memang untuk sebuah perjalanan. Tapi cukup menghapus dahaga tentang sebuah rasa.
sampai jumpa lagi Bromo 🙂

Iklan

One thought on “Mereguk Haus Bromo

  1. Ping-balik: Arc De Triomphe Van Java #Kediri | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s