Beranda » ceritaku » The Fourth Day: Penutupan di Monas dan Museum Gajah #Batavia

The Fourth Day: Penutupan di Monas dan Museum Gajah #Batavia

poto di sela ramainya pengunjung hihiihi

poto di sela ramainya pengunjung hihiihi

Hari keempat jatahnya jalan-jalan dengan Mbak May. Hihihihi aku sengaja mengajak mbak cantik yang satu ini untuk dolan ke museum. Bukan apa-apa sih, si mbak yang satu ini memang lebih sering jalan-jalan ke mall. Karena itu, kalau jalan-jalan ke mall aku kan tidak begitu tertarik heheheh. Lalu aku punya ide untuk mengajak tepatnya memaksa Mbak May mengikuti mauku kwkwkwkwk kejam nian awak.

Setelah malamnya makan sop iga yang nyummy, pagi ini kami janjian. Tujuan utama kami adalah Monumen Nasional alias Monas hihihhih. Ini memang bukan pertama kalinya aku ke sana, tapi bolak-balik belum juga ada kesempatan buat naik ke puncak monas hiks. Mengenaskan!

Dan akhirnya siang itu aku berkesempatan untuk masuk ke monumennya, tapi tetap saja nahas. Bagaimana tidak di siang, hari Minggu, musim liburan, bulan Juli pula. Semua manusia Jakarta dan sekitarnya menghabiskan hari itu ke Monas. Alhasil aku cuma bisa ke cawan Monas. Sebab nih, konon di puncak Monas sudah ada sekitar 2000 orang!!!! Whatttttt! Dua rebu orang! Ceileeeee. Ya, sudahlah.

antrean yang mengular di depan loket tiket hiks: gagal ke puncak monas :(

antrean yang mengular di depan loket tiket hiks: gagal ke puncak monas 😦

Setelah puas menikmati angin sepoi di cawan Monas, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Gajah. Di tengah jalan kaki, Mbak May tergoda beli bakso hagh hagz hagz. Kalau aku memang sejak awal menginjakkan kaki di tanah si Pitung kagak doyan mie di sini eheheheh sekalipun ada yang mengatakan mie yaminnya enakz, tetep mie ayam yang di Solo numero uno.

Jakarta makin terik, tapi tak menyurutkan langkah ngecengin patung dan batu batu sejarah. Dan taraararararara kami menemukan sebuah bangunan besar. Museum Gajah ini sebenarnya adalah Museum Nasional. Disebut Museum Gajah karena ada patung gajah di depan museum. Tapi yang menarikku pertama kali adalah pahatan dari logam yang membentuk lingkaran. Kayaknya sih ini manusia kecil-kecl yang saling berpegangan.

nampang di luar pagar kwkwkwk :P

nampang di luar pagar kwkwkwk 😛

Museum Nasional memang menrik dikunjungi. Museum ini menjad museum rujukan dan terlengkap sepengetahuanku. Berbagai macam prasasti, patung, peningglan kerajaan, dan semua hal tentang suku di nusantara ada di sini. Selain itu, museum ini dilengkapi sarana dan prasarana yang mantap hehhe.

Kami memang tidak begitu lama di museum ini. Soalnya, Mbak May ke gereja. Waktu jarum panjang menunjuk angka 3, kami memutuskan utuk keluar museum. Kami mencari taksi dan menuju Sarinah. Gereja yang dipakai ibadah dekat Sarinah heheheh. Kami berpisah di dekat gereja. Mbak May ke dalam, aku cari bajaj mau ke kosan.

Malam datang, sebagai malam terakhir aku ingin menutup dengan sop lele. Kaget dengan lele yang dimasak sop? Ehheeheh iya sih selama ini orang hanya tahu kalau ikan air tawar ini dibakar atau digoreng. Nah, di jalan jaksa ada lele yang dimasak sop. Jadi ya berkuah gitu. Ada dua jenis sop lele. Pertama lele digoreng dulu, yang kedua tanpa digoreng. Eheheh kalau aku kayaknya lebih senang yang tidak digoreng, kenapa? Karena dagingnya lembut banget ehehhehe. Ups, perhatian sop ini sangat pedas. Jadi kalau tidak begitu suka pedass tapi kepengen makan sop ini siap-siap nangis di tempat hahahah.

sop lele maknyusss pedesnya, tapi bikin ketagihan heeheh

sop lele maknyusss pedesnya, tapi bikin ketagihan heeheh

Besok siangnya aku harus kembali ke solo. Hiks, sedih. Kepengennya sih di sana terus. Main terus, pengen libur sekolah terus. Tapi selesailah liburan sekolah semester dua ini. Kenangan tetaplah kenangan yang tak akan terulang meski di tempat yang sama. Justru kejadian di tempat yang sama akan menghasilkan kenangan-kenangan yang baru. Yeeeeee hiks 😦

Iklan

5 thoughts on “The Fourth Day: Penutupan di Monas dan Museum Gajah #Batavia

  1. Antrian naik monas itu emang nggilani. Pernah sama temen nekat antri, oyok-oyokan, pisuh-pisuhan sama ibu-ibu yang nyerobot antrian, dan sampai di atas gitu-gitu aja. Not worth it.

    • iya mas irfan, lha ning yang namanya orang ndeso kayak saya kan tetep saja masih penasaran sama yang namanya puncak monas tuh kayak gimana, meski katanya banyak sampahnya heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s