Beranda » ceritaku » Lho Kok Kerannya Bocor?

Lho Kok Kerannya Bocor?

keran

keran

Heeheheh dari judulnya jangan dikira bangunan ya atau keuangan xixixix. Kali ini aku mau memperkenalkan salah satu keponakanku. Namanya Ardzan: Muhammad Ardzan Alfarisi. Bukan semata-mata mau ngomongin dia thok thil, melainkan menjadikan dia salah satu contoh dalam sebuah kasus. Ceileh sok keren nih diksinya.

di hari jadinya yang ke-2

di hari jadinya yang ke-2

Keponakanku ini lahir pada 5 juni 2011. Jadi, kalau dihitung sekarang usianya 2,5 tahun. Anaknya mandiri, cepat tanggap, pintar, terasah perasaannya, dan sudah teteh bicara. Kosa kata pilihannya melebihi anak seusianya. Seringkali ketika dia dan kedua orang tuanya sowan ke mbah utinya alias ke rumah yang aku tinggali sekarang, aku terpana dengan setiap kata yang dilontarkan. Bahkan, si kecil ini sudah bisa naik sepeda dengan usianya yang masih sangat muda. Ya tentunya sepeda roda empat eheheheh. Tapi sayang disayang, salah satu jagoan (aku sudah punya dua jagoan) kami ini ngecesan hihihihihih.

Aku sempat merasa ini cuma karena mau numbuh gigi susunya. Tapi lama-lama aku khawatir juga: kok tidak habis-habis ecesnya itu. Dia tidak peduli dengan bajunya yang basah. Lehernya yang sudah tak karuan lagi. Pokoknya itu semacam banjir yang melanda di musim hujan. Datang terus tanpa ada keringnya. Kta emaknya memang sudah ditanyakan ke dokter desa yang ada di kalurahannya. Maklumlah kan tinggalnya di desa, maka adanya ya cuma bidan desa atau ya dokter desa. Katanya memang diminta nunggu sampai usia 3 tahun oh My God.

Nah, akhirnya aku cari-cari informasi terkait ‘keanehan’ sang ponakan. Ketok rumah mbah gugel cara termudah. Dan jawaban pun aku temukan. Ada banyak hal yang menyebabkan si kecil terus menerus mengeluarkan air liur, menurut beberapa artikel yang aku baca.

Ngeces Itu Normal Kok ^_^

Di usia tertentu ngeces yang ternyata dalam bahasa kedokteran disebut drooling adalah hal wajar. Pada dasarnya kontrol terhadap ngeces terjadi bertahap sesuai perkembangan anak. Kontrol ini berhubungan dengan posisi tubuh anak, kegiatan yang dilakukan anak, kemampuan anak mengontrol gerakan mulut, serta tingkat perkembangan gerak anak.

waktu bisa berjalan pertama kali: dolanan ning kandang bebek xixixix

waktu bisa berjalan pertama kali: dolanan ning kandang bebek xixixix

Jangan-jangan tumbuh gigi
Seperti yang aku perkirakan terjadi pada Ardzan, ngeces sering terjadi pada anak sebelum dan sesudah tumbuh gigi baru. Selain itu sering pula terjadi saat anak sedang mempelajari keterampilan gerak yang baru dan berlanjut sampai anak mencapai kemampuan melakukan gerakan secara otomatis. Misalnya, sedang belajar memegang sendok saat makan pertama hingga si anak mampu memegang sendok dengan terbiasa. Mungkin saking konsentrasinya si anak membuka mulut dan tes tes tes: ngeces.

Sementara pada usia 1¬ 3 bulan, anak jarang ngeces karena produksi air liur masih minimal. Saat usia 6 bulan, anak akan ngeces pada posisi berbaring, terlentang, tengkurap, atau duduk. Demikian bila anak mulai bicara (babling), meraih, menunjuk, atau tumbuh gigi. Usia 9 bulan, anak dapat duduk atau merangkak tanpa ngeces. Pada usia ini anak hanya akan ngeces saat makan makanan tertentu.

Pada usia 15-18 bulan, anak ngeces bila melakukan gerakan halus seperti makan sendiri. Sedangkan pada usia 2 tahun anak seharusnya tidak ngeces lagi sekalipun melakukan gerakan yang sudah terampil seperti menggambar, makan sendiri, atau bermain. Nah lho kalau lebih dari dua tahun masih ngeces cemana?!

Ngeces Tak Lagi Normal Jika . . . .
Seperti setiap hal yang normal, maka adakalanya ketidaknormalana pada ngeces seperti jagoan kami ini. Nah kapan kita bisa menganggap ngeces diluar kewajaran? Menurut beberapa artikel yang aku baca adalah bila,
1) Mulut selalu terbuka
Mulut yang selalu terbuka membuat anak (dan tentu saja kita) sulit menelan. Saat mulut terbuka tentu kita akan sulit menelan air liur. Tak percaya? Coba saja ya. Mulut nganga dan telanlah air liur. Nah, mulut yang terus-menerus terbuka ada kemungkinan berhubungan dengan infeksi saluran napas yang kronis atau hidung yang selalu mampet. Saat frekuensi tidak adekuat, air liur menumpuk, dan terjadilah ces ces ngeces. Sebenarnya manusia normal akan menelan ludah 2 kali per menit saat sadar dan 1 kali per menit saat tidur.

Adanya gangguan pada saraf cranialis yang bertanggung jawab terhadap proses menelan. Fungsi menelan yang tidak optimal karena rahang tidak stabil, terjadi perubahan tonus (ketegangan) otot pipi, bibir, ataupun kelemahan pada otot penyangga tubuh.
Bila masalah ini dibiarkan dan tidak ditangani dengan baik tentu saja akan mengganggu perkembangan anak lebih lanjut. Hal ini terutama dalam fungsi makan dan bicara, serta pertumbuhan gigi. Seperti diketahui, kita mempergunakan otot wajah, bibir, rahang, dan lidah yang sama untuk aktifitas bicara maupun makan. Artinya bila anak kita ngeces terus menerus harus waspada terhadap kemungkinan keterlambatan bicara. Seberat keterlambatannya tentu saja tergantung dari kondisi yang mendasari ngeces tersebut.

2) Ops awas ada sesuatu
Selain dikarenakan sulitnya menelan karena terbukanya mulut, ngeces juga bisa disebabkan oleh meningkatnya produksi air liur. Produksi air liur dapat meningkat pada keadaan infeksi misalnya pada mononukleasis, abses peritonsilar, infeksi streptokokus tonsilitis atau sinusitis. Wedeuw susahnya nama-nama ini :P. Selain itu, air liur juga bisa meningkat karena alergi, keracunan pestisida, atau pemberian obat tertentu.
Drooling bisa juga terjadi bila ditemukan pada kelainan sistem saraf yang menyebabkan penderita sulit untuk menelan air liur seperti pada cerebral palsy, down syndrome, stroke atau penderita parkinson.

Karena itu, sebaiknya untuk mengetahui penyebab adanya keran bocor pada anak adalah datang ke dokter anak. Tidak semua ngeces merupakan masalah berat dengan nama-nama yang sulit. Ngeces ini adakalanya hanya sebuah permasalahan ringan dan sederhana. Ketika bertemu dengan dokter dan mendapat penanganan yang benar, maka ngeces pun akan surut.

Dokter memang menjadi muara untuk mengetahui kejelasan tentang drooling, tapi tetap ada tips minimal untuk mengurangi drooling ini.
a) Mengingatkan anak untuk menutup mulut dan mengangkat dagunya
b) Mengingatkan ananda untuk lebih sering menelan air liur
c) Menghindari makanan manis karena dapat meningkatkan produksi air liur
d) Memberikan es atau benda dingin lain saat anak berliur karena tumbuh gigi

Nah, inilah sekelumit tentang keran ces yang terus bocor. Semoga bermanfaat. Dan semoga jagoanku semakin surut eheheheh. amin

ilustrasi dari sini.

Iklan

One thought on “Lho Kok Kerannya Bocor?

  1. Ping-balik: keran pun (tak lagi) bocor | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s