Beranda » ceritaku » Mengarungi Jeram #Sungai Elo

Mengarungi Jeram #Sungai Elo

Hari masih berembun. Dingin membuat diri ragu untuk berangkat memenuhi undangan yang aku tulis sendiri di papan pengumuman. Namun, tekad yang bulat menjadikan aku semangat lagi. Jam 06.00 harus sudah di tempat. Kumpul dengan peserta lain. Tak disangka peserta lain mayoritas sudah seumuran mamaku di rumah hehehe. Ah malu kali lah aku kalau tadi tak jadi ikut gara-gara males memenuhi hasrat berselimut. Bus berpendingin menambah kekhawatiran bakal masuk angin wus wus.

depan KAmpung Ulu Resort, kayak kuil di India ya :D

depan KAmpung Ulu Resort, kayak kuil di India ya 😀

Rafting. Kata menggugah semangat di pagi buta itu. Setelah sekian lama tak menjejakkan kaki di dunia petualangan, kini saatnya beraksi. Dulu pernah sekali merasakan rafting yang diindonesiakan menjadi arung jeram tersebut. Mengarungi jeram-jeram, meliuk, bergelombang, dan teriak-teriak. Memang sensasinya tak seperti waktu awal dulu, tapi cukuplah mengobati rasa rindu.

persiapan arung jeram: pengarahan dari pemandu

persiapan arung jeram: pengarahan dari pemandu

Elo adalah tujuan kami. Awalnya aku ingin Progo yang katanya lebih ekstrem begitu. Namun, karena ini adalah undangan dan peserta lebih cenderung sepuh tentu saja panitia memilih Sungai Elo yang relatif lebih aman.

di tengah perjalanan di atas perahu di antara jeram-jeram :D

di tengah perjalanan di atas perahu di antara jeram-jeram 😀

Berangkat pukul 07.00 dari Solo dan tiba sekitar pukul 10.30 di Magelang. Kami langsung menuju Kampoeng Ulu Resort sebagai base camp pengelola arung jeram. Kampung Ulu Resort teretak di jalan menuju Candi Medut dan Candi Borobudur. Di tempat ini kami mempersiapkan diri untuk arung jeram. Para peserta diangkut menggunakan angkuta kecil yang cukup untuk 12 orang menuju Sungai Elo bagian atas. Perjalanan ini hanya sekitar 20 menit.

Sampai di sungai akan diberi pengarahan oleh petugas. Eheheheh kalau dulu tak ada pengarahan langsung saja tancap gas. Maklum mas-mas yang ngajak waktu itu mapala dan mantep saja tanpa ba bi bu. Kali ini beda, penuh arahan dan persiapan. Satu kelompok dengan satu perahu karet yang bisa diisi enam orang. Eeeheh dan nasib aku seperahu sekelompok dengan kepala sekolah. Hiks awalnya aku pikir ‘ah pasti tak bisa teriak-teriak nih!’. Eh nggak tahunya setelah mulai aku enjoy saja.

foto dulu ah, nampang sebelum melanjutkan perjalanan berjeram ria :D

foto dulu ah, nampang sebelum melanjutkan perjalanan berjeram ria 😀

Perjalanan menyusuri Sungai Elo melewati beberapa jeram. Kami menghabiskan 2,5 jam untuk mendayung karet besar itu. Perahu kami yang berisi lima anggota ples satu pemandu sangat ‘solo’ dalam perjalanan: Alon-alon waton kelakon. Apalagi aku yang kayaknya mulai lemah gemulai. Mendayung dengan macapat jarak kata satu dengan dua menjadi sa-tuuuuu, du-aaaaa, ti-gaaaa. Di tengah perjalanan, kami istirahat sambil menikmati klamud alias kelapa muda lengkap dengan sendok alami dari batok (tempurung kelapa) ditemani gorengan yang mulai dingin diembus angin. Sayangnya, aku tidak bisa jeprat-jepret karena aturan dari pemandu yang tidak memperbolehkan peserta membawa alat elektronik.

Kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa, pengalaman demi pengalaman tidak akan pernah berulang. Hanya satu kali dan dipastikan tak akan sama meski terulang kembali. Seperti jeram-jeram di sungai yang tak akan pernah sama tingkat kedalamannya.

Iklan