Beranda » ceritaku » Semarang: Jalan Sehari

Semarang: Jalan Sehari

Sebenarnya, ini bukan perjalanan pertama saya ke Kota Semarang. Dan sebenarnya lagi, Semarang bukan tujuan yang diinginkan pada libur ujian nasional anak-anak ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Tiket saja tak dapat. So, perjalanan dialihkan ke Kota Loenpia.

Beberapa hari menjelang keberangkatan saya sudah mencari informasi bus yang bisa mengantarkan diri ke Tugu Muda dan sekitarnya. Maklum meski pernah ke sana dua kali, tetap saja ada rasa khawatir “salah jurusan” kayak lagunya /rif “o o o o kusalah naik jurusan, wo oo o, salah naik jurusan”.

simpang lima tugu muda semarang

simpang lima tugu muda semarang

Singkat cerita, sang teman berumah Kendal berbaik hati memberikan nama-nama bus dan rutenya yang harus ditumpangi. Pertama, dari Terminal Tirtonadi Surakara naik bus jurusan Semarang. Ada dua bus yang terkenal Safari dan Ismo. Keduanya bus AC. Tapi, konon katanya Ismo itu jurusan Semarang Barat. Jadi, kita naik Safari. Kedua, turun di Banyumanik naik bus kecil jurusan Tugu Muda. Dan sampailah. Tapi, eng ing eng. . . . rute yang diberikan kawan tak semulus yang dibayangkan. Dan inilah kisahnya!

Pagi cerah dengan senyuman merekah akhirnya mencari saya peruntungan bus biasa non-ac dan dapatlah bus Mulyo Indah. Cukup merogoh kantong 14.000 sudah sampai Banyumanik.

Saya memang lebih suka naik alat transportasi non alat pendingin. Kenapa? Meski ada asap rokok dan bau lainnya, alat transportasi ini sangat nyaman. Tak terlalu dingin. Angin alami bisa masuk. Banyak pedagang yang jualan.

Dari kawasan Banyumanik, pak sopir dan kernet yang baik hati langsung mencegatkan bus kecil. Eh tak tahunya itu bus jurusan Mangkang. Biarpun murah cuma 4.000 rupiah tetap saja jarak Tugu Muda masih jauh. Kira-kira satu blok lagi. Alhasil saya harus ganti bus dan bayar lagi 3.000.

Sampai lokasi Tugu Muda mata segar menikmati Lawang Sewu yang mendelosor di pojok persimpangan. Sambil bersipit-sipit mata, saya mencari tempat teduh. Ealah, Semarang-Semarang puanase bukan kepalang. Untungnya saya membawa payung. Jadi, saya menyarankan pakailah sunblock agar tidak terbakar.

Di sela-sela lalu lalang jalanan itu saya melihat ada bangunan besar sekali. Menarik karena arsitekturnya. Setelah mata terang dan terbacalah “Museum Perjuangan Mandala Bhakti”. Saya tak ada niat untuk ke sini. Jangankan niat, tahu saja tidak. Inilah bonus saya.

Sebelah kanan museum ini terdapat Gereja Khatolik, Katedral juga namanya. Memang tidak di kanan museum langsung, melainkan dipisahkan oleh jalan. Gereja ini semakin menarik karena sepertinya berdekatan dengan lingkungan sekolah. Wuih mantapnya. Sayang disayang, kalau menemukan Museum Mandala Bhakti adalah untung. Maka kecewalah saya dengan gereja itu. Bagaimana tidak? Saat perjalanan pulang saya barulah merasa buntung sambil membawa luka kecewa. Pasalnya, belumlah saya mampir dan menyegarkan mata dengan arsitektur gereja yang konon menyertai pembangunan Lawang Sewu eh saya sudah di bus. Aduh kecewa rasanya.

Kesalahan saya pula karena setelah dari Museum Mandala langsung ke Lawang Sewu. Tujuan awal saya memang hanya Lawang Sewu dan Gereja Mblenduk. Tapi, tahu ada gereja lain yang menggoda rasanya gimana gitu jadinya.

Lawang Sewu. Apa sebenarnya yang menarik? Tentu 1.000 pintunya dong. Sebelum berangkat, saya menyengajai diri untuk tidak mencari informasi tentang bangunan yang katanya angker tersebut. Bagi saya satu-satunya yang menggelitik adalah sejarah dan arsitekturnya, lain tidak.

Keluar dari Lawang Sewu, naiklah saya bus jurusan Pasar Johar dengan membayar 3.000. Seperti halnya gereja yang membersamai bangunan pemerintahan Belanda, pasar selalu didampingi dengan masjid besar dan alun-alun. Pun dengan Pasar Johar. Seusai melaksanakan sembahyang siang, saya diantarkan pak becak ke kawasan kota lama Semarang. Cukup dengan 6.000 duduk sambil lihat-lihat. Yeeeeee, akhirnya.

Kota lama, tentu saja Gereja Blenduk sudah masuk di dalamnya. Bangunan-bangunan dengan arsitektur lama menggugah selera. Mata tak henti menelanjangi tiap sudutnya. Berjalan di atas paving membuat memori tentang Fatahillah melambai. Meski tak lama di sana, cukup mengguyur rasa penasaran.

tiket pulang-pergi solo-semarang,

tiket pulang-pergi solo-semarang,

grafiti di salah satu tembok di ota semarang, dijepret dari dalam angkuta yang menunggu lampu merah jadi hijau hehehehe :D

grafiti di salah satu tembok di ota semarang, dijepret dari dalam angkuta yang menunggu lampu merah jadi hijau hehehehe 😀

Finally, saya harus pulang. Teman menyarankan saya naik bus jurusan Ambarawa lalu ganti bus ke Solo. Namun, saya tak menemukan bus. Tak ada rotan akar pun jadi. Naik lah saya angkuta ke Banyumanik dengan membayar 5.000. Sementara karena saya tak menjumpai bus non ac, Safari pun jadi dengan membayar 20.000. sehari penuh sensasi, lain waktu disambung lagi.

#Least but not the last

Iklan

10 thoughts on “Semarang: Jalan Sehari

  1. Untuk naik kereta api tentunya kita harus ke Stasiun dulu, di Semarang ada dua stasiun kereta api yaitu Stasiun KA Poncol untuk jenis kereta ekonomi dan Stasiun KA Tawang untuk jenis kereta yang lebih bagus yaitu Bisnis dan Eksekutif. Karena kita akan berhemat ria maka kita harus memilih stasiun Poncol pastinya (alamat: Jl Imam Bonjol 115 Semarang). Untuk menuju kesana banyak transportasi yang bisa digunakan antara lain bus, angkot, becak dll. Banyak angkutan dengan berbagai jurusan yang melalui depan stasiun, kalau bingung tanya aja angkot yang menuju Tugu Muda/ Lawang Sewu trus ke arah jalan Imam Bonjol atau tanya langsung yang ke arah stasiun aja, tenang tarifnya relatif murah. Kalo pengen lebih murah atau bisa dikatakan limit mendekati gratis minta di anter temen atau saudara aja ke stasiun kan gratis tu lumayan. Kalau pengen naik kendaraan pribadi seperti yang saya lakukan, kendaraan bisa dititipkan di stasiun Poncol aja, disana disediakan sarana penitipan yang legal dan aman. Tarifnya untuk sepeda motor Rp 5.000,-/ hari dan untuk mobil Rp 10.000,-/hari.

    • hello dena donaldson, iya rencana aku mau naik kereta, tapi kereta dari solo ke semarang hanya ada malam hari. jadi, aku putuskan untuk naik bus saja. terima kasih infonya sangat berguna. mungkin bisa dijalani lagi lain kali 😀

  2. Hi bro and sis, mau nanya nih kolo naik kereta api semarang-solo adanya jam brp aja?
    Lama perjalanannya berapa jam?
    Nama stasiunnya apa ya?

    • hi mas edi. terima kasih atas kunjungannya. untuk kereta api dari semarang ke solo bisa naik kareta sunan kalijaga. ini kereta baru yang berangkat jam 9 pagi dari poncol dan berhenti di stasiun purwosari solo. tiketnya 25ribu. lama perjalanan sepertinya tidak jauh beda dengan bus sekitar 2-3 jam. semoga bermanfaat ya mas.

  3. Klo dri stasiun bandung.ke stasion smrg brp jam ya kirra kira ? Terus dri smrg pke taxi ke ambrwa.kira” kocek hrga brp ya

    • wah maaf ini baru dibalas, tapi terima kasih lho sudah berkunjung. kalau dari Bandung dengan Kahuripan biasanya pagi. Nah untuk sampai ke Ambarawa naik taksi dari Surakarta saya belum pernah karena jauh, tapi kata teman saya yang rumahnya Salatiga (dekat Ambarawa) sekitar tahun 2012 kurang lebih 180-200an ribu. saya ke Ambarawa naik bus seperti tulisan saya https://zadinda.wordpress.com/2014/01/16/membuka-penasaran-di-kota-ambarawa/
      kalau kawan dari Stasiun Purwosari jalan sedikit atau naikbecak sebentar turun di depan Rumah Sakit Panti Waluya nah disitu tempat naik busnya, tidak harus ke terminal Tirtonadi. demikian semoga bermanfaat ya

  4. Hi sis zadinda :p kalau dari stasiun purwosari ke stasiun tugu jogja naik apaan ya ? Kalau naik angkot kira kira rogoh kocek berapa ? 😀

    • hai Nasela salam kenal, maaf ya baru membalas, untuk ke stasiun Tugu dari St.Purwosari ada sepertinya setiap jam ada. paling pagi jam 06.45 setahuku. harga kereta ke st Tugu variatif karena ada beberapa kereta, Prameks, Sriwedari, dan Madiun JAya. nah masing-masing harganya juga beda, terakhir aku naik prameks hanya 6 ribu, untuk MAdiun jaya ada yang 20 ribu untuk ac, untuk sriwedari aku lupa karena sudah lama banget. eehheheh selamat jalan-jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s