Beranda » ceritaku » save our childrens

save our childrens

Sejak sma sampai kemarin dulu pas di jakarta, aku lebih mementingkan satu fase kehidupan manusia: REMAJA. Sangat jarang, bahkan tidak tebersit untuk memikirkan tahap sebelum menjadi remaja, yakni masa anak-anak. Bagiku, makhluk Tuhan yang namanya anak-anak wajib hukumnya untuk dihindari. Risih rasanya untuk berdekatan dengan mereka. Banyak orang yang mengatakan mereka adalah makhluk yang menggemaskan, menarik untuk digoda, dan pastinya diusili.

akhir tahun 1d

akhir tahun 1d

Sekali lagi, jujur saja aku tidak pernah terlintas untuk menggodai mereka. Namun, takdir berkata lain. Tuhan memutuskan agar aku berkecimpung di dunia anak-anak kecil itu. Sejak itu aku baru menyadari bahwa ada fase yang putus dalam kehidupan ini. Aku menganggap masa remaja adalah segalanya. Masa transisi yang begitu hebat guncangannya sehingga perlu pendampingan. Sebenarnya tidak demikian. Masa kanak-kanak justru menjadi fondasi bagi kehidupan mereka di masa datang.

Secara tidak sadar, kita telah banyak merampas masa menyenangkan anak-anak. Mereka telah dibebani pekerjaan berat di pundak. Ajang-ajang mencari bakat dengan menyanyikan lagu dewasa. Di berbagai media hiburan tidak ada yang memberikan cahaya hiburan bagi anak. Kartun-kartun berisi kekerasan. Sinetron dengan kata-kata yang menyengat telinga, meski itu dibalut dengan kerelijiusan. Wah banyak deh tontonan di televisi yang sudah tidak cocok bahkan merusak anak kita.

DSCF3434

Terlebih pada pelajaran. pemerintah telah mewacanakan tematik sebagai cara untuk mengajar hingga usia anak 9 tahun. Dengan demikian, anak mulai PAUD hingga kelas 3 SD tidak boleh belajar terlalu keras. mereka hendaknya belajar dengan tema menyenangkan. Pemerintah mengeluarkan aturan untuk tidak mengajari baca, tulis, hitung (calistung) di usia TK alias taman kanak-kanak. Wow menyenangkan sekali bukan? Tapi, pemerintah kita plin-plan. Pemerintah yang menginginkan anak-anak tumbuh dengan gembira, mau tidak mau dituntut harus mampu calistung. Kenapa? Karena ternyata di kelas 1 mereka harus dicekoki dengan bermacam pelajaran. Tentu saja mereka harus bisa menulis dan membaca. Di mana letak kemanusiaan kita?

Benar saja, anak-anak have fun menjalani hari-harinya di sekolah. Mereka bermain dengan puas. Mereka tidak merasa belajar di sekolah. Mereka hanya tahu bermain, bermain, dan bermain. Belajar di luar kelas (outing class), bermain dengan banyak pengalaman seru, bahkan mereka menganggap pelajaran adalah bergerak ke sana ke mari. Mereka senang bukan main belajar dengan metode tematik.

Kenyataannyanya lagi-lagi pemerintah kita tidak konsisten dengan perkataannya. Iihhhh bikin geregetan!!!! Anak-anak yang selama ini belajar dengan tematik masih harus ujian tengah semester maupun ulangan akhir semester. Padahal belajar dengan tematik membuat setiap mata pelajaran (mapel) tidak sedalam ketika menggunakan pembahasan tingkat mapel. Pemerintah (dinas pendidikan) meminta praktisi pendidikan (guru)mengisi raport atau hasil belajar dengan kolom-kolom mapel. Nah lho!!!! Alhasil anak-anak yang tadinya belajar menyenangkan dengan tematik ujug-ujug harus diperkenalkan IPS, IPA, MATEMATIKA, BAHASA INDONESIA, dan lain-lainnya. Gimana ini-gimana ini?

anak-anak ceria di dpan mading

anak-anak ceria di dpan mading

Negara kita sudah saatnya memikirkan tunas bangsa. Jika yang dipikirkan remaja memang tidak salah karena mereka adalah calon pelaksana dalam waktu dekat. Tapi coba bayangkan bagaimana kita akan mendapatkan pemuda-pemuda yang baik dan mampu memimpin bangsa ini dengan baik bila masa kecilnya sudah diperkosa (baca; dipaksa) menelan mentah-mentah pelajaran.

Dan saya hanya bisa berdoa agar anak-anak kelak bisa membenahi seluruh sendi bangsa ini. Saya berdoa agar mereka tidak balas dendam sehingga akan memberikan yang terbaik untuk anak dan cucu mereka. Saya sekali lagi hanya bisa berdoa.

#save our childrens

Iklan

2 thoughts on “save our childrens

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s