Beranda » sok PUITIS » *LETS BUILD THE FUTURE TOGETHER*

*LETS BUILD THE FUTURE TOGETHER*


Gadis itu tersipu malu saat sepasang tangan melepas kedua tangannya perlahan setelah sebelumnya tergenggam kuat. Satu adegan yang telah melanggar adat kebiasaan di pedukuhannya. Bersentuhan. Kembali, menundukkan kepala memunguti kenangan yang masih tersisa. Kembang-kembang memori berserakan hingga ujung penglihatannya. Merpati tak pernah ingkar janji. Dia hanya setia dengan satu pasangan hingga akhir hayatnya. Kalimat itu terus terpatri. Terpilin dalam satu kereta yang perlahan pergi bersama gemerincing kaki kuda.

Rambutnya sepanjang punggung. Dikepang. Tak lagi dua seperti beberapa saat dulu. Kepangan hitam itu menggelayut di bahunya. Beberapa sinom lembut menari gemulai di kening yang tak terlalu lebarnya. Menggelitik tiap tangan untuk membelainya. Namun, tak sampai.

Keberaniannya mengubah gaya rambut bukanlah tanpa alasan. Dan gaya rambut bukan sembarang diterapkan setiap gadis. Satu kepang. Arti yang begitu mendalam untuk seorang gadis. Simbol penyerahan diri sebelum akhirnya dipinang dalam satu ikatan kehidupan selanjutnya. Bukan lagi sebagai gadis bebas yang berkejaran kian kemari dengan teman-teman. Bercanda mengejar kupu-kupu di hamparan rumput.

Dia menyerahkan diri pada satu kata yang disebut orang sebagai ‘katresnan’. Kecintaan yang timbul dari kepercayaannya. Satu keagungan diri dari gadis jawa. Sekuat apapun pikiran buruk merasuk, diempasnya. Dan kepercayaan itu memperkuat tali yang terbujur begitu jauh. Tali yang tak tahu lagi letaknya.

Sejak itu. Tak ada yang dilakukannya di setiap sore selain menunggu di emperan berbatu sambil membelai kepangnya. Kepang yang membuat tak ada lagi jejaka yang berani mendekatinya. Tak ada lagi rapal yang diucapkan selain doa atas kepulangan seseorang yang mengaku tengah belajar. Sang asing yang tak dikenal bobot bibitnya. Tak ada lagi tawa dan senyum tulus dari dasar hatinya. Semu semata.

Hari berganti hari. Pagar kapur sirih emak yang dibuatnya di dinding bambu makin hari makin banyak pula. Keresahan muncul seiring kepergian orang asing itu. Orang yang tak pernah berjanji dengan lisannya. Hanya pandangan. Hanya genggaman di akhir senja di ujung desa.

Tak pernah ia berharap terlalu banyak. Tak pernah ia berkeinginan seperti itu. Dia menyadari betapa orang asing itu tentu sangatlah berbeda dengannya. Tak jarang emaknya yang tak kalah lugu darinya mengingatkan. Orang asing itu tetaplah orang asing. Orang asing itu hanya mampir. Di sisi lain, dia telah malu dengan kuncup rasa yang perlahan datang hingga memberanikannya mengambil keputusan menanti. Membuatnya berani membuat simbol sebagai pengumuman bahwa dirinya sudah ada yang punya. Membuatnya berani berkata dengan sikap bahwa dia tak sendiri lagi.

Perlahan tapi pasti. Dijalaninya kehidupan senormal mungkin meski sejujurnya tidak. Pulang pada aktivitas sebelum sang asing datang. Bekerja dengan ani-ani. Menggiring kerbau peninggalan ayahnya ke kandang. Memanen kacang panjang. Mencuci di sungai. Membantu emaknya memasak. Melembarkan kain-kain di genter tempat emprit-emprit bertengger.
Siang adalah satu potong waktu yang diberikan Tuhan baginya. Sepotong waktu untuk menghentikan hatinya sekejap dari harapan yang kian hari kian kosong. Sepenggal napas sebelum akhirnya senja datang dan malam mulai menurunkan kelambu kesedihan atas penantiannya pada sang asing.

Dia lantas menyalahkan diri sendiri. Hendaknya dia memang tidak memedulikan sang asing. Seseorang yang ditemuinya di pinggir hutan. Seseorang yang ingin menemaninya kala mencuci. Seseorang yang hanya mengambil beberapa contoh hasil panen pendudduk desa lalu menghilang. Seseorang yang telah membuatnya percaya lantas pergi. Seseorang yang telah membuat emaknya tak punya muka atas tindakannya.

Sore itu seperti sore-sore lainnya rapal doa terus dipanjatkan. Rambut kepang bahu tetap dijaga. Waktu yang dijanjikan akan berakhir. Tak ada tanda akan hadirnya sang asing. Tetes air hujan di tritisan menambah aroma kerinduan yang entah akankah akan hilang. Sementara di belahan bumi lain, sang jejaka telah lupa pada sang asing yang dijanjikannya masa depan.

The December#

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s