Beranda » parenting » “kami tidak seratus persen bunda”

“kami tidak seratus persen bunda”

Dulu saya pikir seorang anak selalu 100%. Bila seorang anak sudah mendapat eblek nakal, dia akan menjadi seperti itu seluruhnya. Namun, ternyata saya salah. Bahwa anak tidaklah 100%. Bergelut dengan dunia peri kecil membuat saya banyak belajar. Mereka juga seperti kita. Mereka memiliki persentase sendiri atas sikap dan sifat mereka.

Suatu kali ada anak saya yang menangis di kelas. Anak ini terkenal dengan keaktifannya. Saya tersenyum geli sambil berpikir “Bisa juga ya anak ini menangis”. Lucunya dia menangis hanya karena terjepit meja pula. Padahal, kakinya pernah berdarah-darah saat main bola di halaman. Anak aktif lainnya menangis hanya karena terlambat bangun dan masuk kelas. Anak aktif lainnya crying karena menjatuhkan makan siang di koridor saat main bola.

Mereka memang ‘aktif berlebih’, tapi bukan berarti mereka tidak punya kelebihan. Ketika tiba waktu salat, anak-anak ini ternyata kadang sudah menunjukkan kemajuan untuk tertib dalam rangka menyambut salat berjamaah di kelas. Luar biasa. Tak jarang akhirnya beberapa di antara mereka menjadi bintang tertib, bintang salat, bintang prestasi, dan bintang lainnya. Meskipun masih banyak juga yang selalu gerak ke sana-ke mari tanpa lelah, sekalipun dalam salat berjamaah. Teriak-teriak dan akhirnya masuk kotak cemberut.

Sebaliknya, ada pula anak yang pendiam. Sedih rasanya ketika melihat mereka tidak bisa mengungkapkan keinginannya. Tidak bisa menulis diam. Makanan diambil diam. Dijahili temannya diam, tapi sekali marah…heboh. Dengan begitu, mereka susah untuk diterka.
Saat di kelas, mereka diam dan tanpa ekspresi. Namun, ada saat-saat tertentu yang akhirnya membuat kami terkejut. Terkadang mereka membalas temannya yang tidak sengaja menyenggol. Melakukan pembalasan diam-diam sehingga teman di sampingnya tiba-tiba menangis. Seperti teman yang aktif berlebihan, mereka juga memiliki kelebihan tersendiri. Ada bakat-bakat yang tidak dimiliki teman lainnya. Bintang pun tak jarang mereka sandang.

Kini, saya tahu bahwa tidak ada anak yang 100% aktif, agresif, atau hiperaktif. Saya lebih suka menyebut kata-kata itu daripada penyebutan kata NAKAL. Sebab, kata nakal akan lebih mengarah pada hal yang negatif. Padahal, anak-anak kita tidak bermaksud demikian.
Mereka melakukan hal sesuai dengan yang ada di dalam otak mereka.
Bertindak sesuai keinginan. Bersikap sesuai dengan perasaan mereka. Ketika mereka jengkel, menjadi ngambek. Saat tidak dituruti tiba-tiba berderai air mata tanpa suara. Saat merasa ada sedikit yang tidak pas dengan keinginan, ada di antara mereka yang mencoba sampai bisa.

Ayah-ibu, mereka bukan nakal atau tidak bisa diatur. Mereka bukan mencoba memberontak. Mereka tidak bermaksud membantah yang kita katakan. Mereka bisa jadi hanya BELUM TAHU. Mereka belum paham betul hal-hal yang seharusnya mereka hindari dan yang seharusnya mereka lakukan. Hal mana yang baik dan buruk. Mereka belum 100% tahu. Tugas kita sebagai orang yang dititipi Tuhan untuk mengajarkan itu semua, tapi tetap dengan jalan yang sudah ditunjukkan-Nya.

Ayah-ibu, seandainya mereka tidak seperti dalam bayangan kita, alangkah baiknya jika kita evaluasi diri. Apakah selama ini kita sudah memberikan contoh yang baik bagi mereka. Kita juga harus ingat bahwa mereka adalah mesin fotokopi ulung yang mampu meniru, menjiplak hanya dalam beberapa detik. Bahwa mereka hanya ingin dididik dengan kasih sayang, pelukan, cium, dan bukan dengan gertakan atau makian.

Ini akan menjadi satu pembelajaran tersendiri bagi saya. Tentu saja, mengatakan memang lebih mudah daripada melaksanakan. Teori tetap lebih mudah daripada praktiknya. Namun, bukan berarti kita tidak bisa. Hal yang menjadi perbedaan antara kakek-nenek dengan orang tua adalah pemberiannya. Kakek dan nenek hanya bisa memanjakan. Sementara orang tua tidak hanya memberikan kemanjaan bagi ananda, melainkan juga pendidikan.

~demikian, semoga bermanfaat untuk kita semua~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s