Beranda » ceritaku » for pets lover

for pets lover

pinjam kelinci tetangga yang sudah mai skarang :(

pinjam kelinci tetangga yang sudah mai skarang 😦

Ini sebenarnya adalah satu judul buku yang selesai saya baca akhir-akhir ini. Chicken shoup. Waktu saya membaca buku itu dan membawanya ke ruang tempat kumpul para bunca, saya ditanya “lho bunda kok tertarik untuk membaca ini?” saya hanya menjawab bahwa mungkin saya terlalu halus dalam perasaan (lebai.com).

Buku itu berisi tentang semua bentuk cinta kasih seorang manusia atau keluarga terhadap binatang kesayangan atau peliharaan. Bahkan, buku ini juga berisi tentang hewan-hewan yang mengajarkan kehidupan kepada manusia. Bahwa kadang manusia kalah dengan para binatang itu.

Saya sejak kecil emmang ada rasa berbeda dengan hewan. Meski itu bukan hewan peliharaan seperti kucing atau anjing (hewan terakhir ini menjadi satu hewan yang ingin saya pelihara), saya tetap memiliki kasih sayang terhadap mereka.

Ketika saya kecil, orang tua saya memelihara hewan sebagai tambahan keuangan keluarga. Maklum, kami di kampung yang sekarang tidak bisa lagi dikatakan kampung. Kami punya ayam, bebek, entok. Aku suka terhadap mereka. Seperti terhadap Ngek-Ngek, aku juga mengajak hewan-hewan itu bicara.

Sore hari, ada satu entok putih kami yang diberi nama siputih mati keracunan. Karena sudah tidak kuat menahan ajal, keluarga kami berniat menyembelihnya. Tak ayal, saat itu saya yang masih kelas 3 SD menangis dan tidak mau makan 3 hari karena kesedihan. Pun ketika ayam tekor kami (hitam dan berkaki pentor) hendak disembelih, saya lebih memilih untuk membiarkannya hidup sampai mati sendiri.

Suatu kali, saat saya ber-chatting dengan teman dan dia bertanya tentang kesibukan saya dan saya mengatakan sedang ber-farm village dengan alasan saya suka binatang. Dia mengatakan ”Ah, itu kan di komputer, kalau mau beternak yang asli ehehehe”. Ketakutan saya untuk kehilangan hewan-hewan itu membuat saya tidak mau memilikinya.

Pun ketika ada penyembelihan korban seperti sekarang ini. Saya lebih baik tidak makan dagingnya jika mengetahui penyembelihannya. Meski saya tahu kodrat hewan adalah disembelih dan dimakan manusia, saya kok tidak mentolo ya melihatnya. Kalau saya ingin makan daging ayam, kambing, atau sapi lebih baik saya membelinya dari pasar yang sudah bersih daripada saya harus memakan peliharaan saya.

Apakah ini perasaan normal terhadap hewan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s