Beranda » ceritaku » satu sore

satu sore

Di suatu Jumat sore. Hujan tipis turun ke Bumi. Aku tidak berpikir dan berharap akan bertemu seseorang. Orang tentu akan malas keluar rumah. Lebih baik memang di rumah, menekuk kaki, memandang ke jendela, sambil menikmati secangkir teh hangat. Namun, Tuhan punya hak prerogatif rupanya. Dia menciptakan dunia yang memang terlalu sempit.

Hujan masih tak ingin berhenti. Aku mampir ke sebuah toko setelah beberapa kali membuka-buka buku di tumpukannya. Keterasinganku dengan Kota Bengawan masih terasa meski sudah hampir setengah tahun kembali di sini. Menikmati kesendirian adalah sesuatu yang menyenangkan bagi orang yang memang benar-benar sendiri. Atau mungkin ini hanya sebuah alasan untuk mengesahkan kesendirianku?

Aku berjalan masih dengan memasukkan tangan ke dalam kantong jaket. Udara musim hujan yang akhir-akhir ini sudah mengunjungi sebagian belahan jagat raya membuatku berjaga setelah beberapa waktu lalu tak mampu beraktivitas seperti biasa. Di hadapanku, dari kejauhan, ada satu senyum mengembang dari seseorang. Senyum yang pernah aku kenal di masa lalu. Senyum itu menyapaku. Dia, si pemilik senyum, menyapaku. Seseorang yang tak aku sangka akan menyapa di tengah banyak orang yang mungkin saja satu dua di antaranya ada yang kami kenal. Aku pasti terlihat sangat grogi dengan kecamuk warna udang rebus di rona muka. Deg, napasku seperti terhenti di saluran paru. Untung tidak pingsan di tempat. Tentu ini sangat berlebihan jika benar-benar terjadi.

Dulu, dia dan aku, pernah salah paham. Kami saling adu argumen. Tepatnya aku yang ngotot. Sementara dia adem-adem saja. Sore itu, di sela-sela banyak orang, kami bertukar kabar sambil berdiri. Penampilannya terlihat rapi masih seperti dulu. Senyumnya masih hangat seperti dulu. Orangnya ramah seperti dulu. Jadi, bukan hal aneh jika banyak orang tua ingin memintanya sebagai menantu. Mungkin hanya aku yang dulu tidak memperhatikan dengan baik sehingga aku kehilangan dan terlewatkan momen-momen yang kata teman-temanku ‘penting’.

Setelah ber ’say hello’ tanya ini dan itu, kami mengakhiri beberapa detik (mungkin kurang dari 5 menit) itu dengan saling lempar senyum. Aku balik kanan dan menunduk malu mengingat-ingat yang pernah terjadi di antara kami. Aku merasa semakin yakin urat malu yang dulu aku pikir sudah putus, masih utuh. Bahkan, mungkin lebih tebal dan kuat seiring berjalannya waktu. Apalagi jika mengingat hal sepele yang seharusnya tidak perlu muncul ke permukaan. Bukan hal berbobot yang seharusnya membuat kami agak kurang enak dan nyaman ketika bertemu lagi sejak sekian waktu.

Sore itu, beberapa tahun lalu, dia ke rumah. Ayahku yang menemuinya. Satu kunjungan kejutan karena aku memang merasa tidak ada janji untuk menemuinya. Lagipula aku belum pulang waktu itu. Namun, ternyata dia telah menunggu lebih dari satu jam. Konon katanya dia ngobrol banyak hal dengan ayahku. Satu nyali luar biasa untuk seseorang yang berhadapan dengan ayahku. Ini mengingat ayahku yang kadang nakal menggoda teman-temanku. Entah apa yang mereka bicarakan, yang aku dengar mereka sangat akrab. Apalagi dengan bahasa jawa kromo inggilnya yang mumpuni.

Meski begitu, aku tetap pada pendirianku saat mengambil keputusan itu. Padahal dia sudah meminta maaf. Sekarang aku heran pada diriku sendiri, apa sebenarnya yang membuat aku teguh pada keputusanku saat itu. Sekali lagi ini bukan sesuatu yang berbobot. Ini hanya sesuatu yang ‘harus’ dikerjakan bersama dan ditanggung bersama. Namun, ternyata tidak. Saat itu aku tetap pada pendirianku bahwa aku bilang ‘tidak’ dan maaf.

Entah apa pula yang akan dipikirkannya tentang aku saat ini, maupun ketika dia berhadapan dengan batu sepertiku waktu itu. Aku pikir dia hanya akan tersenyum mengingat itu sama seperti ketika aku mengingat itu. Aku dengar dulu dia adalah orang yang lumayan dikenal di fakultas tempat dia belajar. Dia menempati posisi penting di beberapa organisasi. Beberapa mbak bahkan sempat kaget saat tahu aku pernah ngobrol dengan dia. Sementara di rumah dia memang orang yang bisa diacungi jempol. Aktif ini aktif itu. Dan katanya lagi memang dekat dengan para orang tua.

Satu sore, dengan rintik hujan, pertemuan singkat, dengan kata-kata yang tidak lengkap, hanya sepotong-sepotong, tapi masih terasa hingga sekarang malunya, tapi masih terasa hingga sekarang merahnya mukaku. Apalagi jika harus bertemu dengan seseorang yang mau tak mau harus bertemu…

~Kenangan Masa Murahaahaqah Mutakhkhirah~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s