Beranda » ceritaku » mereka tidak mengerti…

mereka tidak mengerti…

Ayah, mereka tidak mengerti…
Sekian waktu aku kau tinggalkan. Mereka tidak tahu betapa sulitnya ini. Ketika kekasihmu membutuhkanmu dan aku merasa mulai tak mampu menggantikan posisimu di sampingnya. Aku tak bisa dan tak akan pernah bisa. Aku menahan rindu yang menggejolak. Rindu yang tak akan pernah tertunaikan untuk berjumpa denganmu lagi.

Ayah mereka tidak mengerti betapa sakitnya ini. Apakah karena mereka tidak mencintai ayah mereka seperti aku mencintaimu? Apakah mereka bahagia bila suatu saat nanti ditinggalkan? Apakah mereka akan merasa bebas? Jika ‘iya’ bisa jadi mereka memang tidak mencintai ayahnya seperti aku. Aku sudah cukup kau beri kebebasan, tak perlu kau tinggalkan.

Ayah mereka tidak mengerti. Seandainya aku boleh memilih antara tinggal jauh darimu dan ditinggal selamanya olehmu. Maka aku akan menjadi manusia tertolol jika memilih yang kedua. Pilihan pertama adalah keinginanku. Aku lebih baik tinggal jauh darimu daripada kau tinggal selamanya seperti ini. Aku lebih baik menghabiskan bermalam-malam di kereta api hanya untuk bertemu denganmu dalam hitungan jam. Aku lebih baik mendengar suaramu dari kotak kecil itu daripada tidak sama sekali seperti ini.

Tapi mereka tetap tidak mengerti ayah. Mereka pikir dengan tinggal jauh dari rumah bertahun-tahun mereka merasa lebih berat dari orang yang ditinggal selamanya, seperti aku. Bukankah jauh dari rumah untuk belajar dan atau bekerja adalah pilihan mereka? Bukan mereka meninggalkan orang tua mereka sekian bulan dan tahun adalah keinginan mereka. Bodohnya lagi jika mereka tidak segera menyelesaikan tugas itu sehingga tidak segera memiliki waktu untuk mendampingi ayah mereka. Maaf ayah aku kasar di hadapanmu.
Sementara kau meninggalkan aku untuk selamanya bukanlah inginku.
Bukan kehendakku. Kehendak DIA. Tapi, aku tidak menyelahkan DIA.
Aku dan kamu adalah milik DIA dan akan kembali pada DIA.

Aku pernah merasakan jauh darimu dan dari kekasihmu. Dan aku tahu itu pilihanku sendiri. Tatkala aku harus kembali karena saat kau meninggalkan aku untuk selamanya telah tiba. Maka aku tinggalkan semua. SEMUA. SEMUA. Kau tahu….betapa besarnya tempat itu. Betapa baiknya tempat itu, meski tidak seperti yang dibayangkan semua orang. Dan aku tahu kau suka, kau bangga dengan yang telah aku dapatkan. Namun, semua telah aku tinggalkan. Untuk siapa semua itu aku lakukan jika bukan untuk menjaga titipanmu?

Ayah mereka tetaplah manusia, sama seperti aku dan kau. Mereka memang punya hati. Namun, tetaplah Tuhan yang bsa mengerti aku. Bila aku mampu meninggalkan semua yang gemerlapan dan indah sesuai keinginanku untuk di sisi kekasihmu lantas tak mampukah aku meninggalkan mereka? Aku tidak tahu. Mungkin aku bisa. Toh sekian bulan aku tidak bersama mereka.

Ayah di tempatmu yang aku tak tahu. Kau mungkin melihatku menangis. Tangis kerinduan. Tangis kesedihan. Tangis kekecewaan. Manusia memang satu-satunya makhluk yang mampu membuatnya, bukan hewan. Namun, apa faedahnya aku kecewa kepada mereka? Bukankah seharusnya aku tak percaya manusia? Bukankah hanya DIA yang harus aku percaya?
Ayah aku merindukanmu. Kekasihmu dan aku sakit karena rindu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s