Beranda » sokanalitis » Lebai = anak kecil?

Lebai = anak kecil?

Suatu kali di kelas, aku membasuh tangan dengan hand sanitizer. Dilihatlah oleh anakku yang manis. Sambil bertanya “Bunda, ini apa?” aku jawab ini untuk membersihkan tangan kita sebelum makan. Dia balas, “Oh, ini aku juga punya di rumah namanya D****.” Begitu katanya sambil menjelaskan panjang lebar bahwa di rumahnya papanya telah menyiapkan sebuah almari besar dari kayu yang berisi merek itu. Pokoknya banyak sekali bunda, begitu katanya sambil merentangkan tangan. Selain itu, dia juga bercerita bahwa papanya juga menyiapkan banyak persediaan makanan untuk keluarga. Jelas dong ini namanya penjelasan yang berlebihan.

Beda lagi dengan ponakanku yang imut karena masih 4 dan 5 tahun dan tentu saja mereka banyak tanya. Karena itu, saat mereka main aku harus siap-siap dengan bibir cadangan. Maklumlah, semenjak aku resmi menjadi penghuni surga rumah ponakan-ponakan rajin mampir heheehehe. Dan sore itu, mereka si cantik dan si ganteng ngacak-ngacak rumah. Aku masih bersimpuh sambil mencet-mencet huruf. Si cempluk datang, “Budhe, iki opo? Game ya?” tumben dia mau panggil budhe, pasti ada maunya. Biasanya dia hanya mau panggil MBAK, bayangkan mbak (dengan nada sok histeris)!, emang gue mbak loe!

Aku menjelaskan ini namanya komputer. Si cempluk sudah mau menerima benda itu namanya komputer, fungsinya tidak hanya untuk bermain, tapi juga untuk menulis. Tapi si cantik tetap ngeyel. Benda itu namanya game. Tidak hanya itu dia juga menjelaskan di rumahnya ada benda serupa dengan benda di depanku. Dia bercerita pada si ganteng dan si cempluk bahwa dia punya banyak sekali benda itu, juga ada laptop punya ayahnya. Dan dia mengatakan besok akan dibelikan oleh ayahnya laptop biar bisa nge-game.

Begitulah anak-anak. Mereka menjelaskan benda atau hal yang dilihat secara berlebihan alias lebai kata zaman sekarang. Itu tidak sepenuhnya salah karena memang mereka dalam proses imajinasi yang suatu kali akan menjadi mimpi dan mimpi itu (MUNGKIN) akan dijadikan kenyataan dalam proses pendewasaan nanti.

Namun, dalam benak saya tiba-tiba muncul bagaimana jika sikap itu terjadi pada orang dewasa atau lebih tepatnya orang yang sudah menelan banyak umur untuk hidup di dunia. Saya meralat kata ‘dewasa’ karena tidak semua orang yang berumur adalah orang dewasa.
Bisa jadi mereka hanya tua, menghabiskan waktu. Dan menurut saya, orang berumur yang masih bersikap seperti anak atau keponakan saya tentu saja hanya bisa dimasukkan dalam kategori TUA bukan lagi DEWASA.

Kadang saya berpikir, saat kita bersikap dan berkata berlebihan tak ubahnya kita adalah anak kecil yang mencoba mengeluarkan imajinasi dalam otak. Anak kecil yang berharap bahwa yang ada di benaknya bisa terwujud hanya dengan dikatakan. Lalu saya mulai menilai diri saya sendiri, apakah selama ini saya hanyalah orang yang memakan usia untuk hidup atau sebagai buah yang berisi kedewasaan.
Kedewasaan yang tentu akan membuat saya dan anda secara pribadi memutuskan segala sesuatu secara bijak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s